Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Fakta baru


__ADS_3

Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan, pertemuan tadi membuat kepala dan hatinya tengah berperang. Disisi lain menolak tapi disisi lain itu adalah kebenaran nya, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. "Lihatlah dan tanyakan pada hatimu apa yang benar. Kau termakan oleh kasih sayang berselimut Alan."


"Itu pasti hanya akal-akalan mu karena balas dendam kan?"


"Kau meragukan ku tidak masalah, tapi apa kau juga meragukan cinta mu?"


"Laporan nya menyatakan seratus persen benar Tuan, bahkan juga ada cctv yang memperlihatkan semua nya."


"Aghhh!" Alan membanting stir mobilnya hingga hampir menabrak tiang listrik.


Kepalanya terasa mau pecah dan hatinya menolak untuk percaya. Matanya memancarkan kekecewaan, siapakah yang harus ia percaya. "Kau tidak pernah mencari tau kebenarannya, ingatlah! penyesalan selalu datang belakangan." Setelah itu pria itu pergi meninggalkan Alan yang terpaku dengan kebenaran nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Zoya tengah menikmati waktu kebersamaannya bersama Richard, pria itu membawanya menikmati makanan di restoran salah satu pusat perbelanjaan.


Tadinya ia berniat menghubungi Alan menanyakan pertemuan anak-anak. Tapi sepertinya pria itu mungkin sibuk. "Mommy, apa kami boleh bermain itu?" Tanya Zian diangguki Zain.


"Tentu saja, kita akan bermain bersama. Papa juga akan ikut, bagaimana?"

__ADS_1


"Sungguh?" Richard menganggu mengikuti gaya double Z membuat keduanya tertawa senang.


"Yey! Papa juga ikut!!" Pekik keduanya membuat beberapa pengunjung lain melihat mereka.


"Sekarang makan dulu, dan kecilkan suaranya," Pinta Zoya membuat kedua putranya manggut-manggut saja.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di restoran tempat Jim bertemu dengan Alan tadi, pria itu masih disana terdiam berpikir apa yang akan terjadi nantinya. "Jangan terlalu dipikirkan, kepala mu bisa botak nanti. Aku yakin semuanya akan terbongkar. Bukankah bangkai akan tercium juga?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di kamar bernuansa hijau daun itu terlihat Erna tengah melakukan panggilan sambil duduk manis menatap indahnya cahaya matahari.


"Lalu kenapa? Habisi saja, bukankah lebih mudah membunuh di luar kandungan dari pada di dalam?"


"Tidak semudah itu, apalagi Alan sudah mengetahuinya. Aku harus berhati-hati, karena itu aku meminta hak asuh keduanya."


"Bukankah kau mengatakan mereka persis seperti Alan, mereka cucumu Erna, aku bingung kenapa kau sangat membencinya?"

__ADS_1


"Karena Ibu mereka, aku benci wanita itu! Aku tidak rela ia melahirkan keturunan putraku!"


"Mati-matian aku merencanakan semuanya, bahkan berpura-pura sakit mereka bercerai dengan harapan ku rahimnya akan rusak dan tidak pernah bisa melahirkan!"


"Kau tidak tau, betapa susahnya aku mengendalikan Alan dengan cinta buta nya." Bukan panggilan tapi panggilan video yang memperlihatkan wanita berambut perak itu tertawa mendengar ucapan Erna.


Tanpa Erna sadari terlihat sosok yang mendengar semuanya dan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku tidak tau kebencian apa yang membuat mu menyingkirkan menantu mu sendiri. Kau sangat gila Erna, kau tidak takut putramu atau yang lainnya tau?" Erna terlihat diam sejenak tapi tak lama sebuah senyuman tersinggung diwajahnya.


"Takut? Aku tidak takut atau menyesalinya, aku tau cara mengendalikannya. Jangan risau, kau tau bukan bagaimana diriku?"


"Hahaha, ya aku tau dengan baik. Sudah ya, aku ingin perawatan dulu. Bye Erna."


"Ya, sampai jumpa lagi." Panggilan video itu berakhir. Erna duduk sambil merebahkan dirinya perlahan, saat ia memejamkan matanya ia mendengar suara langkah kaki mendekat dan memanggilnya. "Ibu..."


Bersambung....


Jangan lupa like

__ADS_1


Tinggalkan komentar


Dan Berikan hadiah


__ADS_2