Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Berbagi Beban


__ADS_3

Bangunan yang bertuliskan police office itu langsung dimasuki oleh Indra. Ia segera mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia temui disini. Dan seorang polisi wanita memandu dirinya menuju sebuah ruangan.


Disana dengan perasaan berdebar ia melihat sosok yang mendampinginya hampir 32 tahun itu, duduk disana dengan rambut acak-acakan dan kaki yang dilapisi kain.


"Silahkan Tuan." Mendengar ada suara orang lain disana membuat wanita dengan luka itu menoleh dan wajahnya langsung berubah ketika melihat sosok yang menemui dirinya. "Suamiku!" Panggilnya.


Indra langsung memberikan kode agar diberikan waktu bicara sejenak. Dengan tidak sabaran Erna menatap suaminya yang duduk dihadapannya. "Suamiku, mereka salah tangkap aku dicurangi! Dan lihat kakiku.... Sakit sekali..." Wajah Erna terlihat basah karena air mata.


"Bawa aku pulang, aku tidak bersalah!" Rengek Erna pada Indra. Tidak ada jawaban dari pria itu selain memandangi wajah istrinya yang terlihat berbeda dalam waktu setengah hari.


"Suamiku! Kenapa diam saja?"


"Apa yang membuat mu begini? Apa yang aku lakukan belum cukup untuk merubahnya?" Wajah Erna yang tadinya sendu dan sedih tiba-tiba berubah dan terdengar suara tawa yang menggema di ruangan itu.


"Apa anak wanita itu sudah tiada?? Apa mereka sudah mati? Katakan suamiku." Indra geleng kepala mendengar ucapan itu.


"Kau berubah, kau tidak memikirkan akibat nya?"


"Hahahaha, aku hanya ingin anak dan keturunan wanita itu tiada! Baru aku akan bahagia! Kau dengar? Semuanya harus mati!" Erna tertawa terbahak-bahak.


"Dia cucu mu!"


"Bukan! Aku tidak menerima keturunan wanita itu! Dia tidak pantas menjadi bagian keluarga ku! Aku tidak terima!"


"Putramu juga sekarat karenanya. Dendam tidak membuat siapapun bahagia, itu sudah sangat lama kenapa kau masih menyimpan nya?"


"Kau selalu membela mereka, aku istrimu! Kau tau memikirkan aku! Aghhhh!" Erna tiba-tiba menyerang Indra. Pria itu belum istirahat setelah pendaratan nya membuat Erna yang beringas tidak peduli dan terus mencakar.


"Sadar Erna! Sadar!"


Keributan itu membuat polisi yang berjaga langsung masuk dan menghentikannya.


"Mati semuanya! Mati!" Erna masih berteriak setelah diborgol dan dibawa ke sel khusus untuknya.


"Minum air nya Tuan. Kita akan mulai pembicaraan nya." Indra memandangi istrinya yang dibawa menjauh dari sana menyisakan dirinya dan polisi.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di rumah sakit, Richard baru saja tengah bicara dengan dokter yang menangani Zoya. "Hasil visum akan keluar besok."


"Bisa pindahkan pasien ke ruangan putranya. Maksudnya, aku ingin satu ruangan dihuni tiga pasien." Pinta Richard yang tidak ingin berjauhan dari Zoya dan Double Z.


"Tentu, kami akan mengaturnya."

__ADS_1


Dan benar saja tak beberapa lama kemudian, sekarang ketiganya berada di ruangan yang sama. Ketiganya masih belum sadar, Richard duduk di sofa yang tersedia di sana.


Netra nya langsung tertuju pada pintu yang terbuka menampilkan Rekha yang datang dan langsung memeluk dirinya. "Ma..." Richard seolah langsung rapuh dan meluapkan emosi nya berada dalam pelukan Mama nya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Mama disini, kau boleh menangis sekarang." Rekha membiarkan putranya meluapkan emosi nya.


Bagaimanapun laki-laki juga memiliki perasaan entah itu yang dominan kemarahan atau tangisan. Dan seorang ibu tidak bisa meminta putranya tidak boleh menangis, seorang ibu mendampingi putranya untuk mendengarkan luapan emosi putranya baru mengajak bicara menyelesaikan permasalahan.


Richard yang berada dalam pelukan Mama nya mengeluarkan air terjun yang tidak terbendung lagi di bendungan matanya. "Aku terlambat, aku ... Aku gagal Ma... Gagal."


"Tidak, putraku tidak gagal."


Hampir lima belas menit, akhirnya Richard sudah tenang. Rekha menatap putranya dan menggenggam tangan besar yang dulunya sangat kecil. "Sudah tenang?"


"Hmmm."


"Lihat dan dengar Mama, tidak ada yang gagal atau terlambat. Semuanya sudah diatur sayang, dan kau sudah melakukan yang terbaik. Mama yakin, Zee dan Double Z akan segera bangun. Mereka hanya tertidur pulas sebentar, lagipula putraku ini seorang dokter bukan? Kau sudah biasa akan hal ini, hmm? Yang terpenting kita berdoa semoga mereka cepat membuka mata dan kembali tersenyum. Kau juga harus tersenyum, sudah cukup menangis nya, kau tidak mau kan, ketika mereka terbangun melihat dokter tampan ini cengeng."


Richard tersenyum akhirnya mendengar ucapan Mama nya. Rekha tersenyum melihat keoptimisan kembali putranya.


"Mama, terima kasih."


"Aku akan melihat Alan, aku dengar ia drop lagi. Ia pasien ku." Rekha mengangguk.


"Segeralah sadar, kebahagiaan sudah menanti."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Setelah mendengar penuturan aparat kepolisian, Indra termenung sejenak.


Ia memilih duduk di bangku menghadap langit yang terbuka. "Sejak datang, nyonya Erna berteriak dan tertawa. Kami akan mendatangkan ahli jiwa memeriksa dirinya tapi tolong katakan dengan jujur, apakah nyonya Erna memiliki gangguan??"


"Kau disini?"


"Jadi putramu akan menikahi Zoya?"


"Ya, aku tidak menyangka dunia sesempit ini. Aku tau begitu banyak beban di pundak mu. Kenapa tidak cerita seperti dulu? Apa rasa gengsi mu masih ada?"


"Aku tidak menyangka kau berubah dari manis menjadi tangguh." Ujar Indra.


"Manesh tuan Indra."


"Mau cerita dari mana? Rasanya kepala ku mau meledak."

__ADS_1


"Dari mana saja, atau lebih tepatnya sejak kapan Erna bermasalah."


Indra menatap langit yang terbentang dihadapannya. Menarik napas dalam-dalam, sebelum bercerita mengingat masa lalu.


"Kau akan menikah?" Tanya seorang gadis cantik bermanik hitam.


"Iya, datang ya. Karena kau adalah teman terbaikku!" Balas pria berhidung mancung itu.


Undangan yang berada di tangannya itu ia remas seketika, hatinya menjadi panas mendengar ucapan itu. Senyum yang ia paksakan sekarang berganti dengan kekesalan besar. "Wanita manapun tidak boleh memiliki mu!"


🌟🌟🌟🌟🌟


"Indra, begitu banyak gadis. Kenapa kau memilih Erna? Dia itu jadi tidak waras karena putus cinta."


"Tapi aku mencintainya ibu. Dan Erna tidak gila! Aku tau itu! Ia hanya merasa terluka dan aku akan menyembuhkan nya!"


"Kalau kau tetap kekeh! Mulai sekarang jangan anggap aku sebagai ibumu lagi!"


"Aku akan menikah dengan Erna! Entah ibu setuju atau tidak!" Pria dengan tinggi 180 puluh itu segera pergi meninggalkan kediaman kayu jati berlantai dua itu.


"Indra!"


Bersambung...


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiahnya ya.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!



Blurb :


Fatiya, gadis sederhana yang menjalin hubungan asmara dengan Daniel, pemuda yang merupakan kakak tingkatnya di kampus.


Cinta mereka berdua tidak mendapatkan restu dari orang tua Fatiya karena aqidah yang berbeda.


"Bu, Daniel pernah berjanji pada Fafa, kalau dia akan mengikuti keyakinan kita, Bu," ucap Fatiya mencoba meyakinkan sang ibu.


"Jangan naif, Nak. Jika keyakinannya saja bisa dia tukar, ibu khawatir Daniel juga bisa melakukan hal yang sama untuk cintanya," tutur sang ibu dengan raut wajah khawatir. 6

__ADS_1


Apakah Daniel akan menepati janjinya untuk pindah keyakinan, demi cintanya pada Fatiya? Berhasilkah Fatiya meyakinkan sang ibu, bahwa Daniel adalah imam yang terbaik untuk dirinya?


__ADS_2