Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Stupid Man


__ADS_3

Alan segera membuka pintu setelah menerima panggilan dari putrinya. "Rosa sudah pulang." Ujarnya sambil melangkah dan berekspresi dengan normal.


Pintu terbuka memperlihatkan Rosa yang terlihat tersenyum senang dengan tangannya memegang permen kapas. "Papa, lihat aku bawa apa?" Rosa mengeluarkan sebuah kantong belanjaan dengan merk terkenal dan memperlihatkan pada Alan.


"Dress ulang tahun, sangat indah. Pasti terlihat sangat bagus saat Rosa memakainya."


"Tentu saja dan Papa akan terlihat tampan memakai ini!" Rosa memberikan satu set pakaian kepada Alan.


"Terima kasih sayang." Alan memberikan ciuman manis di pipi putrinya.


"Oh ya Papa. Akan ada tamu istimewa nanti." Akan terlihat berfikir mengenai tamu yang dimaksud putrinya. Karena Rosa tidak memiliki teman di negara ini.


"Oh ya? Siapa?" Tanya Alan.


Rosa menghabiskan permen kapasnya dengan cepat lalu mendekat ke arah Papanya. "Papa ingat dua temanku saat aku dirawat?" Alan terlihat berpikir.


"Anak dokter yang merawat Rosa." Ujar Alice yang membuat Alan ingat.


"Mereka, baguslah."


"Aku sangat menantikan mereka! Papa akan lihat dan aku jamin Papa akan menyukainya." Sorakan dan kebahagiaan Rosa bercerita terdengar oleh Erna yang tak jauh dari mereka.


Ia melangkah mendekat mendengar cerita cucunya. "Cucu nenek bahagia sekali ada apa?"


"Ada dua temanku Nenek. Mereka sangat baik dan tampan, aku seperti tidak asing dengan wajah mereka tapi, seperti Papa." Tunjuk Rosa sambil mengingat.


"Tentu saja seperti Papa, mereka anak laki-laki, tentu tampan." Ujar Alice mendengar celotehan putrinya.


"Iya Mama benar! Karena Papaku sangat tampan, dan hanya aku putrinya yang mirip dengan Papa!" Rosa memeluk Alan sedangkan pria itu terpaku dengan ucapan Rosa yang terakhir.


Seketika Alan teringat akan hari itu terutama ucapan Zoya yang membuat mereka bertengkar karena hal ini. "Mas akan membawa double Z? Lalu bagaimana reaksi semuanya? Bahkan putrimu?"


"Iya, cucu Nenek hanya Rosa." Timpal Erna, Alice menyadari wajah dan ekspresi Alan yang membuat ia bertanya-tanya.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Richard segera masuk dan ketika ia menuju ruang tamu tidak terlihat lagi keberadaan Zoya. Hanya ada kakeknya saja yang tengah membaca dan duduk santai.


"Kakek, dimana Zee?" Tanya Richard dengan cemas.


"Kau bahkan tidak mengucapkan salam atau apapun, sepertinya wanita yang sudah mengubah mu."


"Bukan begitu, aku...."


"Zee sudah pulang!" Richard segera menoleh melihat Mamanya yang baru datang dari arah belakang.


"Pulang? Kenapa? Dan tidak ada yang memberitahu ku? Apa yang terjadi?" Tanya Richard beruntun.


"Lihatlah ponselmu! Baru bicara!" Terdengar suara kakeknya yang terlihat tinggi membuat Richard langsung merogoh sakunya mengambil benda pipih itu.


Matanya langsung melihat ada notifikasi dari Zoya dan segera membacanya." Maaf Richard, aku pergi duluan. Ada masalah di restoran jadi aku langsung pergi."


"Lain kali periksa terlebih dahulu dan bersikaplah dengan tenang. Kau bisa terkena masalah jika sembrono begini. Dengar Richard, dalam menghadapi apapun, baik besar atau kecil harus bersikap tenang. Kau mengerti?"


"Iya Kakek." Ujar Richard.


"Kau tidak tanya bagaimana keputusan kakek?" Pertanyaan itu spontan membuat Richard yang ingin naik ke tangga langsung terhenti dan berbalik.


"Apa keputusan nya?" Richard bak anak kecil yang tidak sabaran.


"Apapun keputusannya, kau akan mematuhi nya kan?"


Richard terdiam sejenak, perasaanya kembali tak karuan, ia jadi cemas kalau kakeknya tidak setuju.


"Kenapa diam?"


"Aku siap!" Jawab Richard cepat.

__ADS_1


"Keputusan ku adalah kau tidak boleh menemui dirinya...."


Kacau, tidak terima itulah yang Richard rasakan. Apa maksud kakeknya mengatakan itu, bukankah Zoya memiliki semua persyaratan yang tercantum untuk calon mantu keluarganya.


"Apa maksud kakek?" Tanya Richard dengan wajah padam.


"Richard dengar kan dulu...." Rekha menenangkan putranya.


"Tidak, aku ingin tahu!"


Kakeknya tersenyum melihat reaksi cucunya yang keras kepala dan gegabah dalam masalah asmara. "Kau seperti Papa mu."


"Kek?"


"Kalian tidak akan bertemu selama beberapa waktu karena aku akan mengatur pernikahan kalian!"


"Apa?" Richard mendadak menjadi bo*oh dan lemot setelah mendengar ucapannya lengkap kakeknya.


"Lihat? Putramu persis seperti suami mu. Tinggalkan saja dia! Bo*oh sekali padahal seorang dokter!" Rekha hanya diam mengikuti Ayah mertua meninggalkan putranya yang masih buffering.


"Menikah? Itu artinya..... Aaaaaa! Aku akan menikah!" Sorakan Richard membuat semua pelayan dan penghuni rumah itu tertawa geli.


"Kakek! Aku sayang padamu!"


"Diam! Pergilah kau! Aku tidak memiliki cucu bo*oh seperti mu!" Richard berlari mengejarnya kakeknya dan memberikan dekapan hangat tubuh kekarnya.


Bersambung....


Jangan lupa likeπŸ‘


Tinggalkan komentarπŸ™


Dan juga hadiahnya ya🎁

__ADS_1


__ADS_2