Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Menunggu


__ADS_3

Pintu terbuka menampilkan double Z menyambut kepulangan Mommy mereka. Ya, Zoya baru saja pulang terlambat dari biasanya ada hal yang harus ia lakukan di restoran dan itu sangat penting membuat ia terlambat pulang.


"Belum tidur? Padahal Mommy sudah bilang bukan? Mana Nenek Ning?" Tanya Zoya melangkah masuk sambil meletakkan tasnya.


"Kami menunggu Mommy. Kami tidak bisa tidur, apalagi Daddy belum juga mengubungi kami. Apa Daddy pergi lagi?"


"Mungkin Daddy ada kerjaan, nanti kita hubungi lagi hmmm. Sekarang, waktunya tidur. Ini sudah larut sayang." Zoya mengelus rambut kedua putranya sambil menuntun ke kamar mereka.


"Mommy minum dulu, Mommy terlihat lelah sekali." Zian memberikan air minum untuk Zoya.


"Terima kasih sayang, sekarang ayo kita tidur."


Beberapa saat kemudian, kamar double Z sudah gelap, terlihat Zoya baru saja keluar dari sana. "Maaf Zee, double Z bersikukuh menunggu dirimu." Nenek Ning terlihat menghidangkan sup ayam.


"Tidak apa, terima kasih Nenek. Pasti sangat melelahkan...."


"Tidak, tidak sama sekali. Ini makanlah sedikit, sup ayam ini dicampur dengan jahe merah menghangatkan tubuh dan menjaga daya tahan tubuh mu."


"Terima kasih banyak."


Zoya merasakan tubuhnya sangat lelah, sehingga tak lama ia tertidur tanpa melihat ponselnya dengan berbagai pesan.


"Kenapa belum dibaca?" Richard bertanya-tanya, ia belum sempat datang ke apartemen Zoya karena kakeknya.


"Besok aku akan kesana." Ujarnya yang tak lama segera tertidur.


Sedangkan di sebuah kamar, tidak terlihat tanda-tanda pria itu akan tertidur. Meskipun matanya mengantuk tapi hati dan pikirannya tidak, justru tengah berkecamuk.


"Aku tidak ingin kehilangan lagi tapi...... Teka-teki Zoya belum bisa ku pecahkan. Siapa yang dimaksud? Zoya tidak mungkin berbohong. Dan terlebih lagi, bagaimana dengan Rosa dan Double Z? Aku akan memberikan penjelasan, ya anak-anakku pasti mengerti. Aku hanya perlu bicara lagi dengan Zoya."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Suara ketukan membuat Alan terganggu. Tak lama pintu terbuka memperlihatkan Alice masuk. "Maaf, aku melihat lampu kamarmu masih menyala, kau belum tidur? Apa kau sakit?" Alice tentu saja khawatir akan keadaan Alan, meksipun pria itu tidak memiliki rasa apapun padanya tapi dirinya justru mencintai nya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku akan tidur, kau tidur lah!" Alan menaikkan selimutnya dan berpaling dari arah Alice.


Alan kembali menoleh merasa Alice belum keluar. "Kenapa kau belum pergi?" Tanyanya.


"Kamar Rosa sedang direnovasi untuk dekorasi kesukaannya. Ia tidur bersama ibu, aku tidak mungkin tidur di sana ibu bisa curiga."


Alan bangkit dari ranjang dan segera menuju sofa." Kau tidurlah di ranjang, aku aku tidur di sofa. Sekarang tutup pintunya aku sangat mengantuk!" Alan tidak peduli dengan Alice ia segera memejamkan matanya.


Wanita itu segera menuju ranjang, tatapannya melihat ke arah Alan yang terpejam. "Selamat malam." Ujarnya.


Sekitar satu jam kemudian, Alice terusik dengan suara yang mengelilingi telinganya, dengan segera ia membuka matanya dan terlihat sosok pemilik suara itu berasal dari Alan.


"Zoya... Mas sangat mencintaimu."


"Mengigau lagi?" Seolah itu adalah hal biasa bagi Alice, saat ia akan kembali ke ranjang, tangannya ditarik dan membuat dirinya terjatuh di tubuh Alan.


"Jangan pergi, jangan lagi." Alan masih mengigau.


Alice ingin beranjak tapi sepertinya hatinya berkata lain, bukankah ini yang inginkan? Berada dalam dekapan Alan setelah sekian lama. Meskipun ia harus berada menjadi bayang-bayang Zoya, ia tidak masalah.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Kapan hasilnya akan keluar?" Tanya Jim pada pekerja lab di rumah sakit.


"Tenang bung, aku akan mengurusnya. Kau terlihat tidak sabaran sekali, hasilnya akan keluar."


"Aku tidak bisa sabar, ini sangat penting!"


"Ayolah Jim, kau terlihat sangat serius seperti atasan mu itu. Karena itu kau belum menikah juga."


"Diam! Kau hanya perlu melakukan tugasmu Dimas, jangan melalang kemana-mana."


"Baiklah, setidaknya bersantai lah sejenak. Ayo kita nikmati kopi, kau terlihat tegang sekali akhir-akhir ini."

__ADS_1


Jim yang memang merasa lelah mengikuti Dimas menuju kantin rumah sakit. Pelayan mengantarkan pesanan mereka. "Ini minumlah, kau bisa bercerita. Kau terlihat tegang kawan, apa ada masalah besar?"


Jim menyeruput kopi nya sejenak dan mengambil napas panjang." Ya, begitulah."


"Apa berkaitan dengan atasan mu lagi?"


"Hmmmmmm."


"Ayolah Jim, kau hanya membantunya mengurus perusahaan bukan hal pribadi juga. Pagi-pagi buta kau datang membawa sampah yang hampir membusuk."


"Kau tidak mengerti, dia seperti saudara bagiku. Dia tidak memperlakukan diriku seperti bawahan tapi seperti teman atau saudara. Beberapa tahun belakangan ini, keadaanya tidak baik-baik saja."


"Pria kaya seperti itu apa yang ia pusingkan? Uang ada, wanita apalagi. Apa masalahnya?"


"Kau akan paham setelah menikah!" Jim membesarkan bola matanya ke arah Dimas.


"Aku akan menikah, hanya beberapa bulan lagi." Kekeh Dimas yang terbiasa dengan tatapan Jim.


"Kapan akan keluar hasilnya?"


"Siang nanti.....


"Dim!"


"Oke-oke, jam sepuluh. Hasilnya akan keluar dan mendarat sempurna di matamu. Aku jamin!"


Jim menuju kediaman nya untuk mandi sejenak dan sarapan dengan benar. Bungkusan itu membuat Jim sangat penasaran. "Kediaman itu sudah tidak ditinggali selama dua tahun terakhir, bagaimana mungkin ada sampah di sana? Pasti ada yang datang. Tapi siapa? Apa nyonya Alice?"


Bersambung......


Jangan lupa like πŸ‘


Tinggalkan komentarπŸ™

__ADS_1


Dan berikan hadiah🎁


Terima kasih banyak


__ADS_2