
Meja bundar dengan minuman dan kue serta manisan menjadi pelengkap kedua wanita berbeda generasi dan budaya itu. "Mereka anak yang manis dan tampan."
"Terimakasih, anda juga cantik." Wanita itu terkekeh mendengar pujian Zoya.
"Usiaku tidak muda lagi, bagaimana aku masih cantik? Semuanya tergerus oleh waktu, kau ini. Dan ya, jangan begitu formal panggil Bibi atau Tante terserah padamu." Zoya tersenyum menanggapi ucapan nya.
"Senang bertemu dengan mu Bibi."
"Orang-orang memanggil ku dengan bibi Rekha. Kau juga panggil dengan sebutan itu. Berapa lama kau tinggal di sini?" Zoya menatap langit-langit sebentar, tak lama ia menjawab pertanyaan Rekha.
"Hampir lima tahun." Rekha mengangguk sambil minum.
"Bagaimana pendapatmu?"
"Maksudnya?"
"Tentang negara ini?"
"Indah, dan mengajari ku banyak hal." Zoya memandangi kedua putranya yang tengah bermain bersama Richard.
"Pasti sangat sulit. Tapi kau mampu melewatinya."
"Karena ada penyemangat ku." Jawab Zoya cepat.
"Bagaimana menurutmu tentang Richard?" Zoya terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan itu. Terjadi keheningan sejenak, dan Rekha memakluminya, seolah ia sudah menebak.
"Baik, hangat, ceria dan tampan." Rekha tersenyum mendengar jawaban Zoya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya tak mampu masuk ke dalam hatimu, bukan begitu?" Zoya gelagapan mendengar ucapan itu.
"Aku......
"Jujur saja, aku tidak pernah melarang atau mendoktrin Richard mengenai wanita pilihannya. Yang terpenting memiliki kepribadian yang baik, tidak peduli dengan statusnya. Tapi, jika sebuah rumah sudah dihuni oleh seseorang bagaimana bisa ditinggali oleh orang lain? Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi sepertinya kau masih terbelenggu akan masa itu." Zoya tidak berkata apa-apa, itu adalah kenyataannya dan tidak bisa ia pungkiri.
"Aku juga tidak menyalahkan kau, ataupun putraku. Cinta merubah segalanya dan itu tidak bisa dikendalikan, cinta membuat orang sembuh dan terluka, membuat seseorang melayang juga jatuh ke dalam jurang kesakitan. Cinta bisa jadi anugrah dan juga malapetaka." Mata Zoya tanpa sadar mengeluarkan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Mama, apa yang Mama katakan? Kenapa dengan Zoya?" Rekha tidak mengatakan apapun melihat sikap protektif putranya.
"Tidak ada, Mama hanya menceritakan kisah Mama." Ujar Rekha sambil tersenyum.
"Iya, kisahnya penuh haru dan pesan kehidupan." Imbuh Zoya sambil menghapus air matanya.
"Sepertinya sudah malam, sebaiknya antarkan mereka pulang. Lihatlah!" Ucapan Rekha membuat Zoya dan Richard melihat ke arah double Z yang sudah mengantuk.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ekspetasi Erna tidak terjadi, Alan hanya bicara pada Rosa putrinya bukan dengan nya. Berulang kali ia mengajak putranya itu bicara tapi tidak berhasil. "Rosa, bisa ambilkan obat nenek dengan Paman Jim?" Rosa segera mengangguk dan melangkah pergi dari sana.
"Kau marah pada ibu?" Senyum mengejek terkembang di wajah Alan yang tidak terlihat oleh ibunya karena membelakangi wanita itu.
"Marah? Menurut ibu aku harus bagaimana?"
"Dengar Alan, ibu tidak pernah meminta ia pergi dan menceraikan mu."
"Aku tidak bilang dan tidak berpikir begitu, Ibu yang bilang sendiri. Lagipula Zoya tidak mungkin meninggalkan ku, bahkan tidak ada satupun pesan darinya jika bukan karena sesuatu."
__ADS_1
"Kau masih saja berpikir begitu, apa kau tidak menyadari kau sudah dikendalikan oleh nya?"
"Ya, dia mengendalikan ku. Ibu benar, tapi ia mengendalikan diriku dalam kebahagiaan. Tapi ibu..... Alan tidak melanjutkan ucapannya ia tidak ingin ribut. Sungguh hati dan pikirannya lelah.
"Dia sudah merubah mu! Sekarang ibu yakin ia memang bukan wanita yang baik!"
"Ibu! Ja.... Amarah Alan meledak mendengar tuduhan ibunya tapi semuanya terhenti karena kedatangan Rosa.
"Papa, kenapa wajah papa merah?" Rosa menatap wajah Alan yang memerah menahan amarah.
"Udaranya terasa panas sayang."
"Papa jangan sakit lagi." Mata bulat Rosa berbinar binar memegangi pipi Alan.
"Papa janji, tidak akan sakit lagi." Alan memeluk tubuh putrinya yang membuat ia tenang.
Keheningan malam yang menjadi ketenangan semua orang untuk tidur justru menganggu tidur Rosa. Merasakan tidur putrinya terganggu, Alan segera mengelus rambut hitam putrinya. "Ada apa Jim?" Sosok dibalik keremangan segera muncul jelas dihadapan Alan.
"Sesuatu yang penting. Aku yakin kau akan segera berlari setelahnya."
"Mengenai apa? Jangan bertele-tele. Katakan dengan jelas! Kau hampir membuat Rosa bangun."
Jim langsung memperlihatkan sebuah foto kepada Alan yang membuat mata Alan berkaca-kaca dan detak jantungnya berdetak kencang.
"Foto itu diambil 4 tahun lalu di pelabuhan." Tangan yang tadi mengelus rambut Rosa sekarang sudah berpindah ke foto berukuran sedang itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.