Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Penyelamatan 2


__ADS_3

Teriakkan itu menggema dan membuat semua yang ada di sana menuju kesana. Terlihat sosok kecil berteriak dengan napas yang sesak. "Mommy! Hah.... Hah... Hah.."


"Berikan tabung oksigen, dia mengalami kesulitan bernapas!" Sosok wanita dengan rambut kepang memeriksa keadaan anak itu.


Ditengah keadaan genting itu, diluar juga terlihat tak kalah genting nya. Wanita tua itu terlihat khawatir dan tidak bisa duduk dengan tenang, tak peduli dengan tubuhnya yang sudah menua tidak sekuat dulu lagi.


"Nenek, anda sebaiknya..."


"Cucuku di dalam sana. Entah apa yang terjadi.... Astaga!" Nenek Ning segera datang begitu diberitahukan oleh Richard.


Wanita tua itu menjaga Jili dan Zian yang tengah dirawat saat ini. Kondisi Zian yang tadinya sudah membaik tiba-tiba saja mengalami kejang dan sesak napas masalahnya ia tidak bisa terbangun dari alam bawah sadarnya.


Tak lama terlihat dokter tadi keluar membuat nenek Ning segera menuju padanya. "Bagaimana keadaan cucuku Dokter?" Tanyanya dengan cemas.


"Kami sudah menangani nya, kita bisa lihat beberapa jam kedepan. Sekarang ia sudah tertidur dan tenang, jika terjadi sesuatu beritahu kami." Nenek Ning mengangguk diiringi oleh kepergian dokter itu.


Langkah kaki dengan tergesa-gesa terdengar membuat netra Nenek Ning melihat kebelakang nya. Terlihat pria dengan baju pasien datang dengan raut wajah khawatir bukan main. "Bagaimana keadaan putraku? Apa yang terjadi?"


"Dia sudah tertidur lagi. Dokter bilang lihat beberapa jam kedepan. Apa sudah dapat kabar mengenai Zoya dan Zain?"


"Ya, mereka akan segera datang. Aku menantikan itu...." Alan tetep dirumah sakit karena kondisinya yang belum bisa diajak kompromi. Meksipun begitu, dirinya sekarang merasa terkhianati dengan apa yang ia dengar di sana. Bagaimana mungkin, sosok yang ia percaya melakukan tindakan seperti itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Erna terlihat terjatuh menahan sakit dikakinya karena tembakan dari anak buah Manesh. Pria perwira itu tidaklah bodoh membiarkan polisi yang menangani Erna membawa pistol hanya berisi peluru.


Dan seperti dugaannya, wanita itu bertindak demikian sayangnya semua tidak sesuai ekspektasi nya. "Aghhhh! Kakiku!" Erna berteriak keras kesakitan, timah panas itu menghantam kakinya.


Polisi segera membawanya secepat mungkin, Richard yang mendengar itu tentu saja tidak peduli, ia semakin mempercepat langkahnya agar Zoya dapat ditangani.

__ADS_1


"Cepat! Rumah sakit!" Teriaknya sambil menggendong Zoya.


"Baik Tuan." Pria yang bertugas sopir itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, hati Richard teriris melihat keadaan Zoya. Wajah dan tubuhnya dihiasi oleh luka. Matanya terus mengalirkan air mata tanpa persetujuan nya, dalam hatinya ia menyesal terlambat menemukan Zoya.


"Maaf... Kau akan baik-baik saja. Aku disini Zee, aku disini. Maafkan aku...." Zoya tentu saja tidak bisa mendengar, seolah ia sangat betah dengan alam mimpinya.


Ranjang membawa pasien itu segera menuju UGD, Richard terhenti ketika tidak dapat masuk. Keadaanya sangat kacau ditambah dengan air matanya yang tidak berhenti sejak tadi. Ia harus kuat, karena Zain belum ditemukan.


Sambil menunggu pemeriksaan Zoya, ia segera menghubungi Papanya. Tidak ada jawaban, karena ponselnya...


"****! Kenapa harus sekarang? Aghhhh!" Richard menggusar rambutnya dan mondar-mandir.


Ia harus tenang, segera ia meminta charger disana dan duduk menunggu kedatangan orangnya. "Tuan... Ini minum dulu."


Bukannya menerima air, ia just meminta ponsel supirnya. "Ponsel mu, cepat!" Pria itu segera memberikan dengan cepat.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Disisi lain, beberapa orang yang terdiri dari polisi dan anggota Manesh menelusuri sungai tempat Zain dibuang. Dibantu dengan senter karena keadaan yang mulai gelap, mereka terus menyisirnya.


Dari semak hingga sungai yang bewarna kecoklatan karena keruh itu mereka terus susuri. Hingga, tak lama terdengar suara "Sir!" Semuanya menuju kesana, terlihat ke arah hulu sungai yang dikelilingi akar pohon yang cukup besar.


Manesh segera menuju ke sana dan terlihat sosok yang sudah basah dengan bekapan yang masih menempel di mulutnya. "Zain!"


"Kita harus segera membawanya!" Tubuh kecil itu segera dibopong kerumah sakit. Tidak ada pergerakan dari Zain, kulit itu sudah terlihat pucat.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Pintu yang ditunggu oleh Richard akhirnya terbuka juga, setelah beberapa jam menunggu ia segera menghampiri Dokter itu. "Bagaimana?"


"Tubuh pasien terdapat banyak luka lebam dan beberapa goresan senjata. Belum lagi sepertinya pasien mengalami kekerasan seksual, kami melakukan visum, hasilnya akan segera keluar, kita akan lihat seberapa besarnya." Richard tidak berucap apapun, tubuhnya tidak bergeming dan matanya memberikan penyesalan disana.


"Tuan, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah..." Pria itu memberikan dukungan agar Richard tetap tegar


Richard masih belum bergeming, deringan ponsel menyadarkan nya, terlihat nomor yang ia tunggu. "Pa!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Setelah mendapat kabar itu, Alan segera menyusul ruangan putranya dan diikuti oleh Jim, bukan hanya itu Alice juga disana. Ia mendengar nya tapi tidak bertanya saat ini melihat keadaan Alan dan kekhawatiran yang begitu besar. "Katakan, bagaimana dengan Zain!"


"Zain mengalami pendarahan, harus ditangani. Dokter memerlukan darah bergolongan O..."


"Ambil darah ku! Aku O, cepat! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada putraku!"


"Alan kondisi mu...."


"CEPAT!"


Bersambung....


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!



Tiga jam sebelum acara pernikahan, Ayesha, kekasih Matteo ditemukan tewas mengenaskan di kamarnya sendiri. Dengan bukti yang tertuju pada sahabat Ayesha, yaitu Alara.


Namun bukannya meneruskan penyelidikan dan membuat Alara membayar perbuatannya, Matteo justru menikahinya.

__ADS_1


"Tutup kasus ini, Aku akan menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri."


Lantas, hal apa yang akan dilakukan Matteo sampai dia menikahi pembunuh kekasihnya?


__ADS_2