Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Menjemput


__ADS_3

Baru saja Zoya sampai sudah terlihat kedua putranya yang tengah duduk sambil menikmati makanan tradisional yang dibuat Jili. Zoya berjalan perlahan dan ketika berada di meja tempat kedua putranya duduk. "Mommy!" Panggil keduanya yang langsung menyadari ada seseorang dibelakang mereka, tanpa lama keduanya langsung berlarian menuju Mommy mereka.


Zoya langsung menyambut kedua putranya dan merasakan sesuatu yang basah menerpa bajunya. "Hei, kenapa menangis?" Tanya Zoya pada keduanya.


"Mommy kenapa baru datang, semalam kemana? Katanya ingin menginap bersama, ponselnya juga tidak aktif..." Ini pertama kalinya Zoya melanggar janjinya pada kedua putranya membuat double Z kecewa.


"Maaf ya, Mommy ada urusan mendadak semalam. Dan coba tebak, ada siapa di apartemen kita?" Mencoba mencairkan suasana agar keduanya menjadi tenang.


"Hmm, Daddy? Papa?" Keduanya bertolak belakang dalam menjawab dan membuat Zoya tertawa.


"Keduanya benar sekali!" Langsung saja double Z verpa dan dan berteriak gembira. Memang sejak semalam Medan merindukan Daddy mereka ditambah semua kedatangan Papa nya tentu saja double bonus.


"Kalau begitu, ayo Kito pulang Mommy!" Ajak keduanya membuat Zoya mengangguk senang.


"Iya, kita akan pulang, tapi... Harus pamit dulu sayang, tidak baik pergilah tanpa pamit, ok?"


"Maaf kami lupa. Bibi!" Keduanya berlarian kedalam dan berteriak memanggil Jili.


Mendengar teriakan Double Z bergantian, wanita keturunan Chinese itu tersenyum dan yakin Zoya sudah datang. Setelah membersihkan tangannya, ia segera menuju keluar.


"Akhirnya, kau datang juga. Kebetulan aku membuat ini, ayo makan dulu." Ajak Jili.


"Jili, tapi aku...."


"Aku memaksa!" Jika sudah keluar perkataan itu membuat Zoya pasrah dan mereka duduk bersama menikmati sajian lezat manis asam itu.


"Mommy, dua cup lagi kita pulang ya!" Seru Zian.


"Jadi, katakan apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak bisa kau bohongi."


Zoya tersenyum, karena Jili tidak bisa dibohongi begitu saja. "Daddy double Z datang, dalam keadaan terluka. Jadi, aku mengobatinya tidak mungkin aku biarkan begitu saja. Dan tidak bisa kerumah sakit, kau tau ada perbaikan jalan."


Jili mendengarkan dengan seksama cerita Zoya. "Apa yang hatimu rasakan ketika bersama dengannya?"


"Apa maksudnya?"


"Apa keinginan hati mu. Apa keputusan mu itu sudah benar?"


"Kau meragukan ku? Hanya karena tindakan ku seperti itu kau beranggapan aku mencintai nya. Anggap saja begitu, tapi tidak seperti dulu, Richard mempunyai posisi juga disana. Aku melakukan itu karena rasa kemanusiaan, kau tau itu."


Sejenak Zoya melirik ke arah kedua putranya. "Meskipun ada Richard atau pun tidak aku tidak akan kembali padanya. Aku memiliki alasan tersendiri, begitu banyak yang terjadi. Semuanya tidak seperti dulu, kami terikat hanya karena double Z."


"Jangan tersinggung, aku hanya bertanya. Aku ingin kau bahagia bukan karena paksaan atau balas budi atau rasa kasihan."


"Aku tau, aku tidak mungkin melakukannya. Aku sudah berpikir jika hubungan dilandasi dengan hal seperti itu tidak akan berjalan dengan baik."


Tidak terasa setengah jam sudah Zoya disana, terlihat sebuah panggilan membuat Jili tersenyum. "Lihat, mungkin keduanya kelimpungan menunggu dirimu." Goda Jili.

__ADS_1


"Mereka menunggu double Z. Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih atas jamuan dan menjaga double Z."


"Kau ini bicara apa. Kita barengan saja ya, kebetulan aku juga searah."


"Baiklah, tidak baik menolak hal yang baik." Tawa Zoya membuat kedua wanita itu tertawa bersamaan.


Di apartemen....


"Bagaimana?" Tanya Alan.


"Bukankah anda seharusnya pulang tuan Alan? Istrimu menemui ku karena ia yakin kau kesini. Mereka sangat khawatir, aku akan menghubungi mereka...."


"Telat! Aku sudah...." Richard membesarkan bola matanya melihat ponsel ditangan pria itu.


"Bagaimana bisa? Bukannya.....


"Aku menyembunyikan di sini!" Tunjuk Alan membuat Richard memalingkan wajahnya.


"Astaga!"


"Hahaha, kenapa? Kau juga punya kan? Karena terus berdering aku matikan dan letakkan disini. Zoya tidak menemukannya karena tidak berpikir ponselnya berada di sini."


"Jangankan dia, aku pun tidak menyangka. Mabuk membuat pikiran orang menjadi tidak waras."


"Dan juga cinta." Sambung Alan.


"Tenang saja, kami akan mengundang mu."


"Kau berpikir aku akan menggagalkannya, karena itu kau tidak mau beritahu?"


"Aku tidak takut mengenai itu. Karena takdir berpihak padaku."


Richard terlihat mengetik pesan sambil menikmati soda ditangannya. Alan hanya memandangi pria itu, ia pasti akan kembali bertengkar dengan Alice dan ibunya karena tidak pulang semalaman. "Kau yakin keluarga mu menerima Zoya dan Double Z dengan tulus?"


"Tentu saja, mereka tidak seperti ibu.... Maksudnya ibu mertua yang sedang viral sekarang ini."


"Kalau mau menyakiti Zoya, aku akan merebut nya darimu!"


"Daripada memikirkan hal yang tidak terjadi, sebaiknya urus masalah yang belum terpecahkan, bukan begitu?"


Setengah jam hampir berlalu dan belum terlihat tanda-tanda Zoya datang bersama double Z. "Dimana mereka? Apa masih lama?" Tanya Alan tidak sabaran.


Entah mengapa ia merasa resah karena belum melihat mereka. "Aku baru saja mengirim pesan mereka dalam perjalanan, kau tau jalan masih diperbaiki."


"Jangan terus mondar-mandir, lukanya belum kering. Jangan bertingkah seolah ada sesuatu."


"Kau juga, kau tidak sadar?"

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Mommy, aku mau ke toilet. Aku tidak tahan lagi." Cicit Zain yang ingin buang air kecil.


"Baiklah, Jili disana ada minimarket. Kita bisa berhenti sejenak, sepertinya Zain tidak tahan."


"Zian sudah bilang, jangan banyak minum. Karena jalannya jadi jauh sekarang. Tapi Zain tidak dengar."


"Ishhh, Mommy Zain tidak tahan.". Mobil Jili berhenti di minimarket itu, ditemani oleh Zoya ia mengantarkan Zain.


"Tunggu disini bersama Bibi. Mommy pergi sebentar."


"Mommy ayo!" Zain menarik tangan Zoya dan keduanya menuju kamar mandi.


Jili mengajak Zian bicara dan anak itu menjawabnya dengan semangat, tak jauh dari mereka sebuah mobil terparkir dengan beberapa orang didalamnya yang sejak tadi memperhatikan semuanya. "Seperti permintaan. Kita laksanakan."


"Baik!"


"Itu Mommy dan Zain!" Tunjuk Zian membuat Jili menyalakan mesin mobil.


Ketika keduanya mendekat, terlihat sebuah mobil mendekat dan....


"Zoya!"


"Mommy!"


Bersambung....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiah 🌹🌹🌹


Sambil menunggu episode berikutnya yuk, mampir ke karya teman author. Ceritanya seru loh!!!



Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.


Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.


"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.


Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?

__ADS_1


__ADS_2