Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Pesan


__ADS_3

Suara deru mesin mobil itu langsung membuat wajah kecil yang terkantuk-kantuk itu langsung melek seketika dengan suara yang mengandung kegirangan. "Papa!" Rosa berteriak karena tidak bisa berlari seperti biasa.


Alice yang mendengar teriakan putrinya langsung membuka pintu menyambut kedatangan Alan yang pulang dengan cepat tidak seperti ucapannya tadi. "Alan..


Langkah kaki Alice bergegas membuka pintu dan terlihat wajah Alan yang dikelilingi kemuraman dan pandangan matanya yang berbeda. "Al..." Alan masuk seperti langkah zombie yang membuat Alice semakin tidak mengerti.


Pintu segera ditutup oleh wanita cantik itu menuju Alan yang terduduk lunglai dengan pemikirannya sendiri. Teriakkan kembali terjadi ketika tubuh kekar itu jatuh ke karpet.


"Alan!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Karpet berbulu yang sangat lembut itu menjadi alas kaki kedua orang itu yang terlihat sedang pembicaraan serius. "Apa maksudnya tadi?" Tanya Richard pada Zoya.


Wanita itu terdiam beberapa saat. Matanya mencoba menatap Richard yang menunggu jawabannya. "Maaf, aku mengatakan itu karena....


"Aku tau tapi, semoga saja itu sebentar lagi akan terjadi. Aku tidak meminta mu untuk memutuskan itu secepatnya. Aku hanya ingin kita menjalaninya, aku mengerti kau memiliki trauma tersendiri karena hubungan masa lalu tapi, aku hanya ingin mengatakan aku tidak begitu. Dan aku maklumi kau mengatakannya agar dia tidak meminta kembali lagi."


Zoya sedikit tersentak saat tangannya digenggam oleh Richard dengan lembut. Sesaat pandangan mereka bertemu, diiringi dengan detak jantung yang mulai menyahut. "Zee, meksipun kita belum memiliki ikatan yang sah. Aku pastikan aku akan tidak akan membiarkan dirinya membawa double Z, kita berjuang bersama." Perasaan Zoya terasa lebih tenang dengan sikap Richard dan ucapannya yang lembut disertai pembuktian.


"Terima kasih." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Mommy!" Double Z langsung berteriak membuat Zoya dan Richard panik dan segera menuju kamar mereka.


Ketika pintu terbuka pemandangan yang mereka lihat adalah Zain tengah menangis histeris dan tak lama diikuti oleh Zian membuat Zoya panik. "Sayang..... Ada apa?" Zoya memeluk kedua putranya yang menangis bersahutan.

__ADS_1


"Double Z, kenapa sayang?" Richard mengelus rambut double Z membuat Zian menoleh padanya sedangkan Zain tengah menenggelamkan wajahnya ke pelukan Zoya.


"Daddy...."


Air mata menyegarkan itu kembali mengisi gelas yang bertuliskan Zian membuat sang pemilik kembali meminumnya. Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya double Z berhasil ditenangkan.


Zoya merasa panik karena Putranya menangis histeris seperti itu. "Mau Daddy. Kenapa Daddy pergi tidak pamit." Ya, penyebab double Z menangis karena saat Zian bangun ia segera mencari keberadaan Alan yang ia yakini masih berada di sana.


Sayangnya setelah cukup lama mencari, ia tidak menemukan Daddy nya dan langsung menangis di kamar membuat Zain langsung bangun karena suara tangisan saudara kembarnya.


Mendengar cerita saudara kembarnya membuat Zain berteriak dan tak lama ikut menangis karena perasaan mereka yang terikat. "Apa Daddy tidak sayang kami? Apa karena kami nakal?" Zoya menggeleng mendengar penuturan putranya.


"Tidak, tentu saja tidak."


"Lalu kenapa Daddy pergi? Tidak bicara pada kami. Padahal ini kan rumah Daddy juga, kenapa?"


"Baiklah, kalau begitu. Mommy hubungi Daddy, kami mau bicara."


"Iya, Ayo Mommy hubungi Daddy. Kami mau bicara."


Zoya mengeluarkan ponselnya dan ketika ia membuka ponselnya.....


"Gunakan ponsel ku saja, untuk mencegah hal....." Zoya hampir saja lupa, pasti istri Alan tengah bersamanya dan itu mungkin akan menyebabkan masalah nanti.


"Mommy, come on!"

__ADS_1


"Iya, ini Mommy hubungi." Zoya menekan nomor Alan yang tadi ia berikan dan tak lama terdengar nada sambung dari ponsel Alan.


"Mama, ponsel Papa berbunyi!" Alice yang baru saja mengompres kening Alan langsung mengangkat panggilan itu, dan tak lama terdengar suara pria.


"Halo?"


"Halo, bisa bicara dengan Tuan Alan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Alice berfikir mungkin itu adalah klien Alan.


"Siapa? Berikan padaku." Suara Alan terdengar lemah membuat Alice sedikit ragu tapi, melihat wajah pria itu membuat Alice memberikannya.


"Ya?" Sejenak wajah Alan terlihat datar tapi, tak lama wajah yang sayu itu langsung berseri-seri seperti mendapatkan jackpot membuat Alice penasaran begitu juga dengan Rosa yang duduk di sebelah Papa nya.


"Baik, aku pasti akan datang." Tak lama panggilan terputus tapi, wajah Alan masih berseri-seri.


"Siapa?" Tanya Alice spontan namun, Alan masih belum bicara.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sedangkan di apartemen Zoya, double Z berteriak kegirangan setelah mendengar jawaban dari Daddy mereka. "Hore! Tiga hari lagi kita akan pergi bersama Daddy!" Baik Zoya ataupun Richard melihat kebahagiaan double Z dengan pemikiran mereka sendiri.


"Papa, kami akan pergi dengan Daddy. Tidak apa kan?" Richard terharu mendengarnya, padahal ia tidak memiliki hak melarang itu bahkan double Z pun tidak perlu melakukannya.


"Tentu saja, lagipula kita sudah pernah pergi bersama dan kebetulan Papa cukup sibuk di rumah sakit." Double Z memeluk Richard membuat Zoya terharu akan sikapnya kedua putranya.


Di sisi negara lain, Jim yang baru saja tertidur langsung terbelalak membaca pesan yang dikirimkan kepadanya. "Astaga!"

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2