Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Quality time II


__ADS_3

Lokasinya yang tak jauh dari pusat kota, membuat wisatawan bisa merasakan suasana tenang dan asri. Salah satu daya tarik kawasan ini adalah tipe jalan berliku-liku. Wisatawan pun segera merasakan pengalaman berbeda saat menjelajahi jalanan tersebut.


Terutama double Z yang berjalan di depan beriringan sedangkan Zoya dan Alan berada di belakang tak jauh dari keduanya. Tidak ada percakapan selain double Z yang memulai. "Sudah berapa lama.... " Zoya mengerutkan keningnya mendengar Alan mengatakan sesuatu.


"Ya?"


"Maksudnya, kapan mereka lahir?" Alan menarik kembali pertanyaan yang mungkin akan membuat perdebatan dan merusak suasana yang baik ini.


"Empat tahun lalu, bulan April. Saat itu musim hujan di Singapura." Zoya menjawab sambil matanya terus menatap kedua putranya.


"Terima kasih, kau membesarkan mereka dengan baik."


"Itu adalah tugas seorang ibu. Aku memiliki kebahagiaan dan perasaan yang tidak bisa ku ungkapkan saat mereka lahir."


"Seharusnya Mas di samping mu saat itu. Seperti kehamilan sebelumnya, begitu banyak momen yang terlewat kan." Langkah kaki Zoya menjadi pelan karena mengingat momen kehamilan dan keguguran nya.


"Sepertinya takdir memiliki jalannya sendiri akan hal itu. Aku menjadi kuat meskipun tanpa sosok suami di samping ku." Alan menghela napasnya melihat Zoya terus melangkah kembali meninggalkan dirinya dibelakang.


"Kau sepertinya sudah terbiasa akan itu. Aku tidak akan menyerah!" Semangat kembali menerobos jiwa Alan untuk berkumpul bersama dengan Zoya dan dua buah hatinya.


Merasakan lelah di tungkai kaki kecil mereka, serta rasa haus yang mulai melanda membuat double Z duduk sembari menunggu pesanan yang dibelikan oleh Daddy mereka.


Sekarang keduanya tengah duduk berdua karena sang Mommy yang tengah ke toilet dan Daddy mereka yang mengambil pesanan.

__ADS_1


"Kesegaran es kacang merah datang!" Suara Alan bagaikan setetes air yang melanda kekeringan di tenggorokan mereka.


"Yey! Terima kasih Daddy!" Baik Zian atau Zain memberikan kecupan di pipi Alan membuat pria berusia 35 tahun itu tersenyum lebar.


"Makan dengan perlahan." Ujar Alan sembari melihat Zoya yang belum kembali dari toilet.


Alan memperhatikan kedua putranya yang menikmati sajian dihadapan mereka dengan lahapnya. Wajah keduanya persis seperti dirinya membuat ada kebanggaan tersendiri yang Alan rasakan dan bibir keduanya tipis seperti Zoya. "Pabrik buatan ku benar-benar!" Gumam Alan dengan senyuman yang tak luntur.


"Zian, Zain! Boleh Daddy tanya sesuatu?" Keduanya mengangkat wajahnya bersemangat lalu menatap wajah utama yang mereka warisi.


"Tentu saja Daddy." Ujar mereka.


"Apa Paman Richard itu......"


"Iya, apa dia baik?"


Double Z menyendok es kacang merah kembali lalu menjawab pertanyaan Daddy mereka. "Baik, Papa sangat baik. Ketika kami sakit, Papa langsung datang. Ketika Zain kesulitan bermain sepeda Papa Richard datang dan menjadikan aku seperti pesepeda handal."


Ekspresi yang ditampilkan kedua putranya membuat goresan tersendiri pada hati Alan. Seharusnya ia yang ada di sana, mengajarkan berbagai hal pada kedua putranya bukan orang lain. "Daddy juga terbaik! Kami sayang Daddy!"


Zian mendekat dan memeluk tubuh Alan yang langsung disambut oleh Alan dengan baik. Beberapa kali Alan mengecup rambut putranya yang memiliki warna seperti dirinya. "Daddy juga sayang kalian. Maaf, Daddy baru datang." Alan menggenggam tangan kecil putranya.


"Tidak apa-apa, artinya permainan petak umpet nya telah selesai." Meja bernomor 17 itu menjadi perhatian Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Ada perasaan senang karena double Z bertemu dengan Daddy mereka. Zoya tidak berniat menyembunyikan keduanya dari Alan, ia hanya butuh waktu untuk itu. "Seandainya saja, mungkin semuanya tidak begini. Huft... Tapi, itulah hikmah dibalik perpisahan kami. Kalau tidak, mungkin double Z juga menjadi korban seperti keguguran ku sebelumnya."


Zoya berjalan setelah memastikan tidak ada air mata yang berada di pipinya. "Wah, es nya ternyata sudah datang. Apa sangat enak? Lalu apa yang terjadi? Mommy melihat ada pelukan Teletubbies di sini."


Sontak saja double Z melepaskan pelukan dari Alan lalu duduk di tempat mereka semula. "Itu rahasia triple pangeran tampan." Jawab Alan disertai anggukan double Z.


Zoya tersenyum dan segera menikmati sajian didepannya yang tentu tak luput dari pandangan Alan. "Kau masih sama Zoya. Seperti saat kita bertemu, aku akan merekam dan menjadikan ini jalan yang mengandung untuk kebersamaan kita."


Tatapan Alan terganggu karena deringan ponsel Zoya. Dia penasaran siapa yang menganggu quality time keluarga kecilnya."Maaf sayang, Mommy baca sebentar ya."


Wajah dan tatapan Zoya menjadi serius membuat Alan begitu penasaran dan ingin rasanya mengambil benda pipih persegi itu dari tangan Zoya.


Bersambung......


Jangan lupa like 👍


Komentar 🙏


Vote 🎫


Hadiah 🎁


Serta Favoritnya ❤️

__ADS_1


__ADS_2