Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Menuju tabir masa lalu


__ADS_3

Ruangan yang dihuni oleh orang-orang berbaju hijau itu terlihat bermain dengan peralatan kecil tapi mematikan. Mereka melakukan tindakan operasi untuk sosok mungil yang terbenam dalam air beberapa waktu yang cukup lama.


Sedangkan diluar, terlihat ketegangan dan kecemasan yang besar. Tidak bisa berpikir dengan ketenangan. Sungguh, ia tidak bisa melakukannya, air matanya tidak bisa dipungkiri terus mengalir. Sekarang bukan hanya satu cahayanya yang meredup tapi tiga cahaya hidupnya.


Bahkan kondisinya yang masih lemah sehabis memberikan cairan merah miliknya tidak ia hiraukan. Ia memilih duduk di ruangan yang dingin tidak beralas apapun dikakinya. "Istirahat lah, pikirkan dirimu. Kalau kau sakit bagaimana?" Wanita yang menjadi bagian kehidupannya itu bicara tanpa menoleh.


"Aku tidak bisa. Kau tidak mengerti...."


"Aku seorang ibu, aku mengerti. Mungkin karena satu anak jadi tidak semengerti itu."


"Mama...." Suara kecil itu menyahut dengan meracau.


"Iya, kita pulang sayang." Perlahan wanita keturunan Belanda itu melangkah pergi dengan putri kecilnya.


Wajah putus asa itu hanya menunduk tidak bicara apapun, sungguh hati dan pikirannya sangat kacau sekarang. Melihat kekacauan di sosok itu, pria disebelahnya menghampiri. "Saya akan antarkan nyonya dan nona kecil. Tuan sebaiknya istirahat, saya akan mengabari setelah kembali."


Tidak ada reaksi apapun membuat Jim segera memutuskan beranjak menyusul Alice. Jam menunjukkan 11 malam, jalanan tidak pernah hening tapi dalam mobil yang tengah berjalan itu terjadi keheningan yang luar biasa.


"Kau pergilah. Aku bisa sendiri." Pintu itu terbuka disambut dengan pelayan wanita.


"Nyonya...."


"Tidak perlu katakan apapun. Aku sudah terbiasa bukan? Aku memang tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya. Tapi Rosa.... Kenapa dia juga? Hah, sudahlah."


"Aku tidak ingin gangguan." Setelah mengatakan itu, Alice langsung menutup pintu kamarnya. Hanya bermodalkan keremangan ia menangis disana.


Alan hanya peduli akan dua anaknya, mungkin ia sanggup dan mengerti akan hal itu. Tapi putrinya, bukankah Rosa juga anaknya, semenjak penculikan double Z. Alan mengesampingkan Rosa, padahal ia juga memiliki hak yang sama bukan.


"Apa aku yang harus menyerah?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Ketenangan juga tidak terjadi di negara lain, terlihat Indra segera terbang ke Singapura saat itu juga. Berita ini bukan hanya mengejutkannya tapi membuka tabir masa lalu. "Kenapa Erna...."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Lampu yang menyala itu akhirnya padam juga menandakan operasi selesai. Alan yang terjaga berjam-jam langsung bangkit dengan langkah yang berat. "Bagaimana? Putraku...."

__ADS_1


"Operasinya berjalan dengan lancar, pendarahan sudah berhenti. Kita berharap beberapa jam kedepan pasien sudah sadar, kalau tidak akan terjadi masalah. 2 luka pada lapisan perut perinoteum sangat berbahaya. Walupun terlambat dibawa tapi segera ditangani, sekarang kita berdoa semoga ia segera sadar."


Lapisan peritoneum ini berfungsi melindungi berbagai organ di dalam rongga perut.


Alan yang mendengarnya merasa bebannya terangkat sedikit. Ia berdoa agar Zain segera sadar. "Boleh ku lihat?" Pintanya.


"Iya, tapi gunakan seragam sterilisasi. Operasi baru saja selesai."


"Terima kasih." Alan perlahan masuk dan terlihat putranya tertidur pulas wajah pucat itu masih menghiasi wajahnya yang biasanya tersenyum menunggu kedatangannya.


"Lihat, Daddy disini. Zain tidak ingat membuka mata? Kita akan pergi liburan seperti keinginan Zain, kita pergi bersama."


Alan masih ingat permintaan putranya. "Daddy, apa kami bisa tinggal dan jalan-jalan mengelilingi tempat tinggal Daddy? Karena Mommy bilang tempat nya sangat bagus dan banyak pantai."


"Tentu saja, apapun dan kemanapun yang kalian mau."


"Kalau begitu Zain mau jalan-jalan dan menyelam di pantai pink dan bertemu dengan Nemo dan kawan-kawannya!"


"Iya, kita akan menyelam dan menemui mereka."


Alan menggenggam tangan mungil putranya, ia mengarahkan tangan putranya pada pipi dan sekitaran wajahnya. "Kita sangat mirip! Mata Daddy, hidung yang besar dan juga lekukan bibir."


Ketiganya menatap ke arah cermin, dengan tangan Zain yang menjelajahi wajah Alan. "Ada yang berbeda..."


"Apa?" Tanya Alan.


"Zian dan Zain tidak punya kumis dan ini.... Rasanya sangat geli ! Hahaha!"


"Daddy keluar sebentar, segeralah bangun, hmmm.... Daddy akan menemui Mommy. Mommy akan senang karena Zain sudah disini." Mengecup dahi putranya, Alan perlahan beranjak dari sana.


Ia ingin menemui Zoya, tapi beberapa langkah sudah terasa sangat berat baginya. Kayanya menatap ke arah depan terlihat sosok yang ia kenali menuju ke arahnya.


Senyum kecil terbit diwajah nya, dengan terseok-seok ia terus melangkah. "Ayah..."


Bruk!


Alan terjatuh tak sadarkan diri. Melihat putranya, Indra dibantu dengan sosok lain membawa Alan ke ranjang nya untuk ditangani. "Kondisinya jadi buruk sekarang, ditambah tidak ada asupan makanan yang masuk. Untuk sekarang, jangan dibiarkan ia bangkit dari ranjangnya. Kalau tidak akan terjadi masalah nantinya."

__ADS_1


Setelah dokter pria itu pergi, Indra terduduk menatap putranya, ia tidak tau kondisi Alan, Jim tidak mengatakan mengenai ini.


Ketika ia berniat mencari Jim, ia dikejutkan oleh sosok pria keturunan India yang sudah menanti dirinya dengan beberapa polisi. "Dengan tuan Indra? Anda suami nyonya Erna?"


"Iya, ada apa? Terjadi sesuatu?"


"Iya, mengenai istri anda."


"Ya, saya tau i...."


"Bisa ikut kami ke kantor. Anda akan tau nanti." Indra mengikuti polisi itu ditambah dengan kehadiran Jim yang aku menjaga Alan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sepanjang perjalanan satu hal yang menganggu Indra. Pria keturunan India ini ikut bersama dengannya. Awalnya ia tidak peduli karena ia akan segera bertemu dan bicara empat mata mengenai kegilaan istrinya Erna.


"Aku tidak tau, istrimu ternyata seorang yang berbahaya, sangat disayangkan." Ucapan itu membuat wajah Indra segera menatap pria itu.


"Apa aku mengenal mu? Tanya Indra akhirnya.


"Kau tidak ingat padaku Indra?" Indra menatap lekat pria dihadapannya saat ini.


Bersambung....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiahnya ya.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!!!



Di usianya yang ke 40 tahun Delon menyandang status sebagai duda dan mempunyai dua anak kembar yang masing-masing berusia 20 tahun.


Hingga suatu ketika dirinya dipertemukan oleh seorang gadis seumuran dengan anak kembarnya yang bernama Joanna.

__ADS_1


Entah kenapa Delon merasakan seperti remaja jatuh cinta ketika bertemu dengan Joanna dan tidak bisa berpisah bagaikan lem dan perangko.


Apakah hubungan mereka berakhir bahagia atau kandas di tengah jalan mengingat perbedaan umur mereka yang terpaut 20 tahun.


__ADS_2