
Ketiga orang itu langsung menuju ruangan yang tak jauh dari mereka, sebelum pintu masuk sudah terdengar teriakkan dari luar. Ketika pintu terbuka terlihat dokter dibantu perawat dan sosok yang mereka kenali tengah menenangkan anak laki-laki itu.
Tangisan dan teriakkan bercampur aduk di dalam sana. "Jangan! Pergi! Orang jahat jangan mendekat! Aghh! Mommy! Sejak tadi itulah yang terus dilontarkan oleh dirinya.
"Zain, Mommy disini." Zoya mencoba mendekat menenangkan putranya.
"Mommy ada orang jahat! Zain sangat takut!" Sepertinya Zain tidak sadar akan kehadiran Zoya jangankan memeluk, menyentuh saja sudah membuat Zain
berteriak histeris.
"Pergi semua! Aghhhh!" Zian yang berada di sana berlari menuju saudara kembarnya.
"Zain ini Zian..... Aghhh!" Tak peduli sosok yang mendekati dirinya ia mendorong tubuh kecil saudara kembarnya.
"Zian!" Tubuh kecil Zain ditangkap oleh Alan dan berada dalam pelukannya.
"Daddy...."
"Daddy disini." Alan mencoba menenangkan putranya yang lain karena terlihat sedih melihat saudara kembarnya.
Kepanikan kembali terjadi saat melihat pendarahan terjadi pada bekas operasi di tubuh Zain. Dokter yang tidak memiliki jalan lain menyuntikkan obat penenang supaya tidak terjadi lebih parah lagi.
"Pergi, Mom... Mommy." Pemberontakan yang dilakukan Zain perlahan melemah dan Zoya memeluk putranya itu.
Dengan mata yang belum sepenuhnya menutup ia melihat Mommy nya dengan tubuh yang bergetar. "Mommy, Zain ta.... takut." Hampir lima belas menit, akhirnya Zain tertidur dan dokter segera bertindak.
"Lukanya terbuka kembali, jahitan operasi belum mengering. Kami akan mengatasinya kembali, bisa nyonya lepaskan pelukannya." Melihat anggukan Richard, Zoya melepaskan dekapannya dan mereka memberikan ruang untuk Dokter bekerja.
"Zoya...." Panggilan itu membuat Zoya sadar akan kedatangan Alan bersama Indra dan juga Alice serta Jim.
"Putraku Zain...." Air mata Zoya kembali terjun bebas, kebahagiaan yang akan segera hadir seperti dugaannya melihat kedua putranya sadar justru dikacaukan dengan realita.
Zoya yang melihat putranya terbangun langsung memanggil dokter dibantu Richard. Zain yang awalnya terbangun langsung diperiksa namun ia justru berteriak histeris dan ketakutan seolah ada yang mengancam dirinya.
Zoya yang melihat itu langsung menenangkan dengan cepat tapi Zain seolah tidak tau dan terus berontak. Panggilan, dekapan atau ucapan yang mereka lakukan tidak membuat Zain berhenti.
"Ia akan baik-baik saja, percayalah. Zain itu anak yang kuat bukan begitu?" Zoya mengangguk lemah dengan berusaha berpikir positif, tapi entah mengapa perasaanya menolak untuk itu.
"Mommy!" Zian yang tadinya berada dalam dekapan Alan langsung turun ke dalam dekapan Zoya.
__ADS_1
"Mommy, kenapa Zain mendorong ku? Kenapa ia terus berteriak? Aku jadi takut." Adu Zian mengutarakan perasaannya.
"Zain belum pulih, sekarang dokter memeriksa nya kembali. Bukankah Mommy pernah bilang, jika Zian sehat maka Zain juga begitu."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sekarang mereka berada di sisi ruangan lain, Dokter masih belum selesai menangani Zain. "Bagaimana luka mu?"
"Sudah baikan, mas sendiri?"
"Sudah juga." Jawab Alan.
Tak lama terlihat Alice kembali dengan sebuah obat dan memberikan pada Alan. "Minum obat dulu, tadi kau terburu-buru." Alan menerimanya, ia lupa meminumnya karena langsung bergegas setelah mendengar kabar putranya.
Mereka tengah menunggu Dokter keluar dan akhirnya penantian mereka berakhir. Dokter pria itu keluar dan membuat semuanya mendekat. "Bagaimana keadaan putraku?"
"Lukanya sudah kami tangani."
"Syukurlah." Ujar mereka bersamaan.
"Begini nyonya, sepertinya kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Zain."
"Bukan itu, dari pengamatan dari reaksi yang ditunjukkan oleh Zain. Sepertinya ia mengalami gangguan karena kejadian buruk itu."
"Apa maksudnya? Putraku baik-baik saja."
"Untuk itu kita akan melakukan pemeriksaan mengenai ini, bukan begitu Dokter Richard? Kau juga dokter anak kau bisa melihatnya bukan?" Richard yang menjadi topik pembicaraan masih terdiam meskipun sekarang dirinya menjadi pusat perhatian.
"Richard, apa maksudnya ini? Zain?"Masih belum ada jawaban, Zoya yang merasa cemas dan bingung dengan praduga ini langsung memegang pundak Richard dan kembali bertanya dengan nada yang berbeda.
"Richard! Katakan sesuatu!"
"Zee, untuk lebih jelasnya kita lakukan pemeriksaan. Kita akan lihat bagaimana nantinya, tenanglah." Zoya menggeleng sambil mencerna ucapan Richard.
Pemeriksaan dilakukan, meskipun tidak ada jawaban yang jelas dari Zoya tapi Alan menyetujuinya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya, Rosa terlihat datang dan menemui Zian. "Kau sakit apa?" Tanyanya.
"Tanganku sakit." Jawab Zian.
"Kau memanggil Papa ku dengan Daddy, dan juga Zain. Apa kita saudara?"
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟
Malam telah datang bahkan sudah larut, tapi mata semuanya tidak ada yang terpejam setelah mendengar laporan Zain. "Seperti dugaan kami, Zain mengalami traumatis akibat kejadian itu. Ketidakpercayaan dan juga ketidaksadaran melihat seseorang atau situasi disekitarnya sehingga ia beranggapan bahwa ia masih berada dalam kejadian buruk itu."
Tubuh itu bergetar membuat sosok dibelakangnya sedikit ragu untuk menyentuh. "Al...."
"Putraku Alice, putraku." Alice membiarkan tubuhnya menjadi sandaran dibalik rapuhnya Alan sekarang.
Masih terngiang jelas dibenak Alan, ia mendekati putranya karena melihat Zain kembali membuka matanya. "Sayang, ini Daddy...."
"Pergi! Orang jahat, jangan mendekati ku... Jangan sakiti aku! Aghhhh tolong!" Penolakan terus Zain berikan membuat Alan mundur dengan hati yang hancur, sedikit sentuhan yang ia berikan membuat Zain histeris bukan main.
Bahkan manik mata yang biasanya memancarkan keceriaan ketika melihat dirinya berubah kosong dengan ketakutan yang luar biasa.
"Dia akan kembali seperti semula kan?" Zoya duduk menatap Zain yang tertidur karena pengaruh bius dengan tatapan mengandung bawang besar.
"Tentu, kita disini. Zain akan sembuh." Zoya membenamkan wajahnya kedalam tangan mungil putranya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
'Erna apa yang kau lakukan sebenarnya?' Indra langsung menuju kantor polisi menemui istrinya yang pastinya melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pengakuan yang ia berikan pada polisi.
Bersambung.....
Jangan lupa like
Tinggalkan komentar
Dan berikan hadiahnya ya.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!!
aisyah Hadirah Nazifa seorang gadis cantik berusia 18 tahun disapa Ais yang berasal dari Desa memutuskan melanjutkan pendidikan ke Ibu Kota Jakarta. Tanpa di duga ia membuat kesalahan sehingga mengakibatkan harus menikah dengan seorang pria dewasa keturunan Amerika-Indonesia, Malvyn Carloson Abraham.
Tanpa diketahui Aisyah, Malvyn adalah pria yang menyelamatkan dirinya dari penculikan seorang Mafia dan merelakan kebahagiaan demi keselamatan dirinya 8 tahun lalu. Ketika benih cinta mulai tumbuh di hati Aisyah, ia harus merelakan kandungan nya lenyap akibat wanita yang menginginkan Malvyn sejak 10 tahun terakhir. Tidak hanya itu, demi mempertahankan rumah tangga nya, Aisyah harus kehilangan orang-orang yang disayanginya dan mengetahui akan ada anak lain dari suaminya yang tumbuh di rahim Jesica.
Haruskah Aisyah bertahan setelah kehilangan semua dan juga menerima pengkhianatan dari Malvyn?
__ADS_1
Atau menerima cinta dari seorang mafia yang dahulunya menculik dirinya?