
Keramaian pengunjung yang tengah menikmati makanan di restoran tempat yang mereka datangi mendadak hening seketika. Seolah berbagai atmosfer mengelilingi kedua sosok orang dewasa itu. Jika Zoya tengah bermasalah dengan kemacetan air di kerongkongan nya maka Richard mengalami dingin yang luar biasa seperti berada di kutub es.
"Ulangi lagi?" Tanya Zoya setelah mengatasi kemacetan yang terjadi pada tubuhnya.
"Papa! Apa tidak boleh?" Zoya kaget bukan saat melihat Richard langsung memeluk erat kedua putranya membuat double Z sedikit sesak bercampur kaget.
"Lagi! Sangat boleh! Hati ini terasa seperti meletup mendengarnya." Air mata itu yang pertama kali Zoya lihat, berhasil mengalir di pipi Richard. "Papa, kami tidak bisa bernapas dengan baik. Pelukannya terlalu erat." Richard langsung mengendurkan pelukannya dan menatap dalam dengan manik birunya pada kedua sosok kecil itu.
"Mommy, seperti Nemo yang tengah dicari oleh Daddy nya Marlin. Nemo bertemu dengan sekumpulan ikan di akuarium saat ia tertangkap dan tersesat tapi, di sana ia bertemu dengan sosok ikan yang melindunginya serta mengajarinya melewati pipa pembersih akuarium agar mereka bisa kabur. Saat Nemo sedikit terluka, ia langsung panik seperti Papa Richard." Ujar Zian membuat Zoya terdiam mendengar alasan putranya mengeluarkan panggilan itu.
Zain pun mengangguk dan tak lama mengelus pipi Richard membuat mata biru Richard terpejam merasakan sentuhannya. "Benar, persis seperti kecemasan dan kepanikan Papa Richard saat Zian sakit bahkan rela menembus badai yang melanda saat itu. Bukankah itu seperti seorang Papa? Jika Nemo memiliki Daddy dan Papa apa kami juga?"
"Itu tidak salahkan?" Sambung Zian membuat perasaan Richard bahagia memiliki ruang di hati keduanya.
"Tidak salah, itu adalah sebuah kebahagiaan dan keajaiban dari double Z Papa." Sedangkan Zoya masih belum bisa berucap sesuatu dan hanya air mata nya yang mengalir seperti mengucapkan sesuatu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Alice cukup heran melihat Alan yang mau berlama-lama dengannya di ruangan yang sama saat ini. Bahkan setelah Rosa tertidur, biasanya Alan pasti langsung pergi dengan berbagai alasan. "Kau ingin bilang sesuatu?" Tanya Alice yang merasa pria itu diliputi pertanyaan.
"Ya, mengenai dokter yang merawat Rosa." Tanya Alan membuat kening Alice mengerut. "Kenapa?" Bukannya apa-apa, tapi Alan biasanya tidak tertarik dengan orang lain atau apapun itu.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal mengenai kesehatan Rosa. Terlihat ia sudah bosan di sini, mungkin butuh tempat yang menyegarkan dirinya, jadi butuh pertimbangan darinya." Alice meletakkan gelas yang baru saja ia teguk, lalu duduk di sofa yang berada di hadapannya Alan.
"Besok saja, namanya dokter Richard. Aku tidak tau banyak, hanya bertemu untuk bertanya perkembangan Rosa. Ruangannya di lantai tiga, aku tidak tau persis. Tanya saja pada perawat atau ia akan datang kemari besok melihat Rosa."
Tak lama Alice memejamkan matanya karena malam semakin larut, meninggalkan Alan dengan pemikirannya sendiri. "Aku akan mengurus ini, baru setelah itu menemui Zoya. Aku akan memberikan kejutan untuknya, dan akan membawa ia kembali. Kau sangat berarti untuk ku dan kesalahpahaman mengenai Rosa akan ku jelaskan nanti." Alan mengecup foto di Zoya di galeri ponselnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Masalah double Z tadi aku harap....
"Aku sangat senang! Jangan berfikir apapun yang buruk. Kau tau Zee, aku sudah hampir tiga tahun menantikannya, tadinya aku tidak berharap banyak. Cukup mereka menerima ku dengan baik dan merasa nyaman denganku, tapi siapa sangka aku mendengar panggilan itu. Panggilan yang istimewa." Richard terdengar senang membicarakannya membuat mata Zoya berkaca-kaca.
"Rasanya tidak bisa ku jelaskan, rasanya melebihi jatuh cinta."
__ADS_1
"Oh... Tanpa sadar Zoya mengatakannya membuat Richard sudah berada dihadapannya dengan kecepatan tinggi membuat wajah cantik itu kaget. "Astaga!" Teriak Zoya.
"Seperti ada yang tidak suka." Zoya mendorong pelan tubuh Richard agar ia dapat pergi tapi bukannya bergerak. Zoya justru merasakan tangannya ditarik membuat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh kekar Richard dan mata biru Richard mengunci pandangannya.
"Aku mencintaimu Zee." Ada getaran aneh di hati Zoya saat mendengar kalimat itu dari bibir Richard.
Perlahan senyum di wajah Zoya terkembang meskipun tidak besar, dan tentunya tidak terlihat oleh Richard karena mereka tengah berpelukan. 'Apa aku mulai menerimanya?' Tanya Zoya sambil mengingat pertemuan nya dengan Richard hingga kebersamaan mereka.
'Tapi.....
"Zee, tadi kau darimana? Kau terlihat seperti orang yang habis lari maraton." Pertanyaan Richard membuat suasana hati Zoya berubah dengan otaknya tengah berputar.
'Bagaimana ini?'
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1