Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Tanggung Jawab


__ADS_3

Mendengar teriakan kecil itu, Alan berhenti tapi tak lama. Sesaat kemudian, ia menyentuh pundak anak yang terjatuh itu. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Alan.


"Tubuhku tidak apa, tapi semuanya jatuh dan kotor." Ujarnya sambil melihat ke tanah yang sudah ditempeli beberapa bahan makanan.


"Apa Paman tidak melihat dengan baik?" Suara anak yang tadi kembali menyahut. Alan tidak dapat melihat wajah keduanya karena ditutupi oleh topeng budaya Chinese. Tapi entah mengapa suara keduanya terasa berbeda dan menusuk pelan tapi indah nan masuk ke relung hatinya.


"Sekarang, Paman ini juga tuli!" Jika Alan lihat lagi ada perbedaan di topengnya satu bewarna emas satu lagi merah keperakan. "Maaf, Paman tidak lihat. Tapi, lain kali jangan berlari, untunglah ada daun yang menyambut kalau bebatuan bagaimana?" Kedua anak itu terdiam sambil melirik.


"Pokoknya, Paman harus tanggung jawab! Karena sekarang kejutan kami jadi kacau!" Alan rasa usia keduanya tidak jauh beda dari Rosa. Jika dilihat dan diamati keduanya sangat lucu meskipun wajah tidak terlihat.


"Baiklah, Paman ganti. Berapa semuanya?" Alan mengeluarkan uang nya tapi langsung ditahan oleh anak bertopeng emas.


"Tidak begitu caranya." Alan tidak mengerti pemikiran dalam tubuh kecil itu. Ia menarik kembali uangnya dan memasukkan kembali dompetnya.


"Lalu? Apa? Tadi kalian bilang ganti rugi." Alan berjongkok karena kentara ketinggian tubuh mereka yang begitu berbeda. Dapat Alan lihat mata keduanya yang begitu menarik dirinya, ditambah perasaan berdebar tak karuan. Hanya menatap anak kecil, ia tidak pedofil bukan, itulah yang ada dibenaknya. Dengan cepat ia menyingkirkan pemikiran buruk itu sambil menunggu jawaban keduanya.


"Tentu saja harus membeli kembali barang-barang itu. Dan asal Paman tau saja, itu cukup jauh dari sini, karena ada perayaan Imlek, jadi toko disini tidak buka hanya buka di sana." Tunjuk tangannya menuju arah belakang mereka.


Mata Alan melihat kearah yang ditunjuk dan tersenyum, tak lama ia berdiri. "Baiklah, kalau begitu Paman akan belikan. Da......


"Double Z! Dimana kalian?" Ketiganya langsung kaget mendengar suara cempreng sosok yang menuju mereka. Dan Alan menjadi bingung dan kelimpungan melihat kedua anak itu yang tadinya cerewet berubah takut dan bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Paman, selamatkan kami!" Ujar keduanya dengan memeluk kaki Alan.


"Kenapa? Itu pasti mama kalian." Tapi keduanya langsung menggeleng cepat. "Tidak! Itu bibi jahat!" Jawab keduanya serempak. Alan yang tidak tau harus apa masih terdiam mendengar suara cempreng yang semakin mendekat ditambah rengekan keduanya.


"Sebentar lagi selendangnya akan terbang dan menyentuh pipi kami yang mulus."


"Akhirnya, aku temukan....... Wanita keturunan Chinese itu terdiam saat melihat Alan dihadapannya dan matanya mengerjap beberapa kali seolah memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Jangan sakiti mereka, tidak baik berteriak begitu pada anak-anak, nona." Tapi wanita itu masih belum bicara dan setelah memindai Alan dengan double Z. Mulutnya yang tadi terkunci, sekarang membulat seperti huruf O.


"Kalian kesini! Kan bibi sudah bilang, bahkan Mommy juga. Kalian tidak boleh dekat-dekat dengan orang asing!" Dengan segera ia mengambil double Z dan sekarang keduanya sudah berada di belakangnya tanpa perlawanan anak kembar itu.


Alan yang merasa dicurigai orang jahat, langsung membalas. "Maaf Nona, apa aku terlihat seperti itu? Aku hanya membantu keduanya."


"Siapa yang tau, bahkan pengemis pun berpakaian model begini!" Mata kecil itu menyipit membuat Alan kesal.


"Ayo, kita pulang!" Tapi keduanya menahan tangan Jili membuat wanita berpostur langsing itu tak mampu bertahan. "Tidak bibi, kejutan untuk Mommy berantakan, jadi Paman itu harus ganti rugi. Seorang pria harus bertanggung jawab, Mommy bilang begitu."


"Nanti kita beli lagi! Sekarang kita harus segera pulang dan kalian berdua harus mandi." Double Z menurut saja tapi mungkin karena perasaan nya, keduanya melihat kebelakang tempat posisi Alan dan melambaikan tangan dengan suara yang manis tidak seperti tadi.


"Bye Paman, jika kita bertemu lagi. Maka,. Paman harus ingat tanggung jawabnya." Jili segera mempercepat langkahnya dengan tangan yang cukup kesulitan membawa double Z serta barang yang lain.


Alan membalas lambaian tangannya, ia begitu penasaran unit berapa kedua anak itu tinggal. Ia menatap tajam, tapi dering telepon mengganggunya, memencet panggilan menggunakan naluri. Ia mendekatkan benda pipih itu ke telinga nya, tapi masih belum mengalihkan pandangan nya. Karena ia ingin kembali menemui kedua anak itu setelah pertemuan mereka. "Papa! Sakit!" Tangisan Rosa langsung membuyarkan konsentrasi dan observasi Alan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Wajah double Z terlihat menekuk dengan bibir mengerucut sambil memandangi Jili yang menyiapkan makanan mereka. "Kenapa wajah kalian begitu? Seperti bibir bebek dan wajah ayam." Ucap Jili melihat keduanya.


"Karena bibi. Bibi menyebalkan, kenapa menghalangi kami meminta tanggung jawab tadi?"


"Astaga, kan bibi sudah bilang. Kita bisa beli lagi, dan ia itu orang asing. Tidak baik dekat dengan orang asing, bahaya!"


"Tapi Paman itu sangat baik, tidak seperti yang lain. Bahkan saat kami didekatnya, perasaan kami sama saat bersama Mommy. Mommy bilang perasaan tidak pernah bohong!" Skatmat, itulah yang Jili rasakan, bibirnya tidak lagi bicara. Jika ia bicara, bisa saja menyebabkan malapetaka besar nanti.


"Sudah! Segera makan. Sebentar lagi Mommy kalian akan pulang." Jili segera pergi menuju kamar double Z dan tangannya langsung membuka lemari dan ada sebuah laci rahasia yang ditunjukkan oleh Zoya padanya.

__ADS_1


Flashback.....


"Siapa ini? Ah..... Apa itu dirimu Zee? Lalu pria ini?" Saat itu Jili yang memiliki jiwa kepo yang begitu besar langsung berada di belakang Zoya yang tengah melihat sebuah foto.


"Dia......


"Tunggu dulu, wajahnya mirip Double Z apalagi matanya. Jadi..... Zoya mengangguk setuju membuat Jili menarik napas panjang dan tak lama memeluk tubuh Zoya yang baru saja habis melahirkan.


"Jangan menangis, ada aku dan nenek. Kami bersamamu dan kita akan melindungi double Z serta membesarkan mereka dengan kasih sayang hingga mereka tidak akan kekurangan apapun."


Flashback end......


"Dia disini, hampir saja. Untungnya double Z menggunakan topeng, apa Zee mengetahuinya?" Jili bertanya tanya dalam benaknya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pintu rumah sakit langsung dibuka lebar semua wajah tampan panik tak karuan. "Papa!" Rosa langsung memekik dan memeluk tubuhnya dan langsung disambut oleh Alan seraya terus mengecup rambut putrinya.


"Alan, aku.... Satu tangan Alan ia angkat yang membuat Alice terdiam seketika. Pandangan mata Alan begitu tajam seolah ingin memakan Alice sekarang juga.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Sekarang, kita pulang." Zoya dan Richard baru saja keluar dari toko kue untuk membeli beberapa roti dan kue kesukaan kedua putranya.


"Iya, Jili sudah mengirimkan pesan mereka sudah tiba sejam yang lalu. Tapi.....


"Kenapa?" Tanya Richard segera.


"Kau seperti tidak tau saja, bagaimana mereka jika sudah ditinggalkan bertiga." Jawab Zoya dengan senyum membuat Richard ikut tersenyum. Dan tak lama kendaraan roda empat itu membelah jalanan menuju apartemen.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2