
Meskipun angin berhembus membawa daun, tapi ucapan Zoya tadi masih terus terngiang-ngiang di benak Alan. Ucapan yang membuat ia tidak berkutik dan membuat Zoya pergi tanpa sepengetahuannya.
"Betapa mudahnya Mas mengatakan bahwa Mas mengingatku setiap saat, tapi Mas tidak pernah berfikir bahwa akulah yang melewati saat-saat itu..... Mas yang menyalakan lilinnya tapi akulah yang terbakar."
Sofa rumah sakit yang berada di ruangan putrinya menjadi sandaran tempat ia berfikir. "Saat-saat itu?" Ulang Alan mencoba memahami maksudnya. "Apa aku tidak?" Tanyanya sendiri.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sepasang mata kecil itu melirik sosok yang ia nantikan sejak tadi, tapi bukan sapaan atau senyuman seperti biasa melainkan hening dari sang Papa. "Papa, apa terjadi sesuatu?" Pertanyaan Rosa membuat Alan merubah ekspresinya. Senyuman segera muncul diiringi dengan sentuhan manis di kepangan rambut Rosa.
"Tidak ada, tadi Papa bertemu teman lama. Jadi ia memberikan teka teki, papa sedang memikirkannya." Rosa yang mendengar kata teka teki langsung tertarik. "Oh ya? Ayo katakan padaku, siapa tau aku bisa menjawabnya. Aku kan pintar Papa, ayo katakan padaku!" Ujar Rosa semangat membuat tawa Alan keluar melihat wajah Rosa.
Sebelum Alan menjawab, terdengar pintu terbuka menampilkan Alice dengan beberapa barang ditangannya. "Mama!" Panggil Rosa yang menunggu kedatangan dirinya sejak tadi.
"Hai sayang, sudah makan? Maaf, mama sedikit lama karena mengambil barang barang tadi." Alice langsung menuju putrinya dan memberikan kecupan manis di putrinya.
"Sudah tapi sedikit, apalagi Papa tadi juga pergi. Aku jadi sendiri." Mata Alice langsung melirik Alan serta alisnya sedikit terangkat. "Oh ya? Kemana? Tidak biasanya."
Merasa ditanyai dan tidak ingin ada kecurigaan, Alan menjawab segera dengan ekspresi ya baik. " Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan teman ku, jadi sedikit mengobrol."
__ADS_1
"Begitu ya, tidak apa. Lihat Mama bawa apa, kue kesukaan mu dan kita akan makan bersama." Rosa menjadi girang melihat kue kesukaannya yang dibawa oleh mamanya. Pergerakan Alice yang ingin mengambil piring tertuju pada sebuah bekas makanan di meja piring kotor.
"Alan, kau makan pulut hitam, kapan kau membelinya?" Sontak saja pertanyaan Alice membuat pandangan Alan tertuju pada bekas piring yang berisi pulut hitam itu.
"Aku.... T....
"Itu milik teman baruku, maksudnya dua teman baruku! Anaknya dokter!" Ujar Rosa bercerita mengenai teman barunya.
"Oh ya? Sepertinya mereka memiliki selera yang sama dengan Papa mu." Alice melanjutkan kegiatannya lalu menyuapi putrinya meninggalkan Alan yang terus menatap pulut hitam itu dengan rasa penasaran.
"Pulut hitam....
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Lalu kenapa ditinggal? Di tempat orang lagi?" Tanya Zoya setelah mendengar penjelasan Richard bahwa dirinya mengajak double Z berkunjung ke kamar anak yang ia rawat.
"Kami tidak meninggalkannya, pulut hitam nya memang sudah habis, dan itu hanya tinggal sedikit. Karena terlalu asyik bercerita, jadi sampahnya ketinggalan. Aku belum makan semuanya, Zian yang habiskan!" Ujar Zain dengan rengekan sembari tangannya menunjuk kepada saudara kembarnya.
__ADS_1
Zoya berkali-kali mengambilnya napas panjangnya karena mengalami hal yang sangat berat. Tetapi bukan berarti ia marah pada kedua putranya, putra yang memberikan sinar dalam hidupnya yang telah menjadi sebagian napas dirinya.
Hanya saja setelah bertemu dengan Alan, hatinya sedang kacau, tapi ia tidak boleh lemah dan memperlihatkannya." Baiklah, kita beli lagi. Jangan menangis ok? sepertinya Mommy kalian terlihat lelah. Mungkin kita bisa makan sebentar." Ajak Richard membuat double girang dan Zoya hanya mengangguk setuju.
Sebuah restoran kecil tepi jalan yang menjual pulut hitam yang terkenal serta makanan yang lain juga turut dijual. Double Z begitu girang hingga lupa akan sekitar dan langsung menyantap makanan manis berwarna hitam dicampur dengan santan itu. "Yummy!"
Zoya memasukkan makanannya sembari melihat double Z yang begitu suka makanan itu persis seperti Alan. Apalagi selama mereka menjalin hubungan dan bahtera rumah tangga, Alan sangat suka dan selalu mencari makanan yang bernama bubur hitam itu jika di Indonesia di pagi hari. "Enak sekali, kau harus mencobanya sayang. Jangan kacang hijau terus, ini lezat sekali." Tawar Alan pada Zoya.
"Tidak, mas saja. Aku sudah kenyang dengan ini." Ujar Zoya.
"Akhirnya energi ku terisi kembali." Ujarnya sambil mengelus perutnya yang tengah mencerna makanan itu. Gerakan yang sama persis seperti Alan setelah selesai makan.
"Begitu enaknya ya? Mau dibungkus?" Tawar Richard yang langsung diangguki oleh double Z. Zoya hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku kedua putranya.
"Terimakasih Papa!" Ucapan double Z membuat air yang sedang melewati kerongkongan Zoya menjadi macet dan Richard kaget bukan main mendengarnya.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1