
Benda pipih itu menampilkan sosok yang sangat Alan rindukan. Setelah hampir beberapa waktu, tidak bertemu ayah dan anak itu terhubung lewat kecanggihan teknologi. Wajah Zian terpampang jelas dengan senyuman dan gigi kecilnya yang ompong beberapa tak mengurangi jumlah gulanya.
Sesekali Zian memperlihatkan pada Alan keadaan Zain yang berada di sebelahnya. Meskipun Zain sudah mengenal dan bertanya mengenai Daddy nya tapi ia masih ragu-ragu untuk bicara atau bertatapan. Hanya mencuri pandang saja dan itu sudah cukup bagi Alan.
"Daddy tau, saat festival jajanan aku sangat bahagia dan senang sekali! Mommy beberapa kali melarang ku jajan yang manis karena aku sudah manis dan lucu!" Zian bicara sambil mengekspresikan wajahnya yang manis.
"Iya, tapi jangan terlalu banyak. Nanti ompong nya bertambah," ucap Alan ditengah istirahat nya dalam mengurus perusahaan.
"Aku juga ompong." Terdengar pelan tapi Alan dapat melihat putranya Zain bicara meski mengalihkan pandangan nya sesekali.
"Itu artinya kedua putra Daddy sudah besar. Apakah Zain membeli makanan manis juga?" Tanya Alan dengan lembut.
Membalas pertanyaan Daddy nya, Zain menggeleng kecil. "Mommy bilang jangan banyak-banyak." Alan tersenyum menanggapinya, ingin sekali ia memeluk keduanya. Zoya terkadang menjelaskan keadaan perkembangan putra mereka.
"Beberapa bulan lagi ada bulan istimewa, kalian mau kesini? Kita bisa liburan ala Daddy." Tawar Alan membuat kedua putranya saling memandang.
Jika dilihat dari eskpresi Zian, ia tentu menginginkan hal itu. Tapi beberapa kali matanya menatap ke arah saudara kembarnya, dan tak lama ia menggeleng.
"Kalau Zain setuju, aku juga ikut. Kita pergi bersama, Mommy bilang begitu. Tidak boleh pergi sendiri, kami satu ikatan."
Alan cukup paham dan salut akan pemikiran putranya, Zoya tidak salah membentuk karakter anak mereka. Alan salut akan itu, bahkan tidak ada kebencian yang bisa saja Zoya tanamkan pada kedua putra mereka.
"Baiklah, hubungi Daddy jika bisa." Zian mengangguk, sedangkan Zain melangkah pergi dari sana sambil memanggil Mommy nya.
__ADS_1
"Sepertinya disana sangat terang, apa waktu siang Daddy?"
"Ya, ini jam setengah satu sayang."
"Daddy sudah makan?" Alan senang akan pertanyaan kecil putranya.
"Sudah, sebelum panggilan kita. Bagaimana dengan kedua putra Daddy?"
"Mommy sedang memasak, hari ini restoran ada yang jaga. Jadi Mommy datang sore kesana, sebelum menu utama Mommy buatkan kue gandum dengan kacang."
Percakapan keduanya terhenti saat mendengar panggilan Zoya dari luar, Ada sesuatu yang terasa bagi Alan. Suara panggilan itu, biasanya ia dengar dan menjadi nada dering kesukaannya. Tapi sekarang, meskipun bukan untuknya tapi sudah menurun pada buah hati mereka. Walupun tidak seperti impian Alan dulu, tapi setiap kejadian selalu ada makna di dalamnya.
"Daddy, sepertinya makan siang sudah siap. Aku makan dulu, bye Daddy... Aku sayang Daddy!"
"Daddy sayang Zian juga." Alan masih menatap profil yang memperlihatkan kedua putranya dengan Zoya yang tidak begitu kentara.
Ketukan pintu membuat adegan tatapan itu terhenti, Alan mempersilahkan masuk dan terlihat Alice datang bersama Rosa. Suara kecil putrinya langsung menggema dan diiringi dengan pelukan princess mawar itu.
"Papa!" Jim tersenyum sambil menunduk dan menyampaikan bahwa Alice baru datang dan Alan hanya mengangguk.
"Saya permisi tuan, nyonya." Jim memberikan waktu untuk keluarga kecil itu, Rosa bercerita pada Daddy nya mengenai les piano yang tengah dijalaninya. Gadis kecil itu senang sekali dengan musik dan dunia seni.
"Apa aku terlambat? Maaf, tadi ada urusan sebentar." Alice tengah membuka tempat makanan yang ia isi dengan makanan yang membuat perut kenyang.
__ADS_1
"Tidak, masih ada waktu." Jawab Alan sambil merapikan rambut putrinya.
Tak selang lama, meja yang tadinya diisi oleh vas bunga sekarang sudah dipenuhi oleh makanan yang dibawa Alice. Alan belum makan siang, ketika ada waktu istirahat, ia langsung menghubungi putranya.
Ketiganya makan sambil bercerita kecil, Rosa sesekali ikut menimpali pembahasan orang tuanya. "Oh ya, aku ingin beritahu. Ayah dan ibu mau saat libur nanti, kita berlibur kesana karena tahun sebelumnya sudah disini." Alan yang tadinya merasa senang sekarang menjadi terdiam, sedangkan Alice yang melihat itu hanya bisa mengambil napas.
"Kalau tidak bisa tidak apa, aku bisa kabari mereka dan...."
"Bukan begitu, kita akan kesana. Aku ingin mengatakan pada Ayah terlebih dahulu." Ada rasa senang dihati Alice mendengar jawaban Alan.
Sedangkan di kediaman Richard, Rekha berniat mengunjungi Zoya bersama double Z sambil melihat perkembangan Zain. Jujur saja, ia ingin pernikahan Richard dan Zoya segera berlangsung.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh
“Tidak perlu mengatasnamakan cinta jika hanya menyurutkan dendam. Karena cinta yang sesungguhnya tidaklah melemahkan tetapi, justru sebaliknya.”
Misi balas dendam yang telah lama direncanakan oleh Xavier dengan sempurna, tiba-tiba saja labil saat tujuannya hampir tuntas. Dilema sengit yang menghampiri, nyaris menghancurkannya dalam sekejap.
__ADS_1
Akankah misi balas dendam itu sanggup ia tunaikan ataukah menyerah pada cinta?
“When love and revenge comes together, it's the most aesthetic thing in the world.”