
Kediaman Richard terlihat semuanya berkumpul ada Zoya juga berserta double Z, hari ini adalah hari penentuan tanggal pernikahan mereka. "Jadi, bulan depan. Kalian..."
"Terlalu lama, aku ingin Minggu depan!" Pinta Richard membuat semuanya menatap kearahnya.
"Ada apa denganmu? Kau pikir ini mainan?" Ujar kakeknya.
"Tidak, aku ingin secepatnya, aku tidak bisa menunggu lagi. Benarkan Zee?" Zoya mengangguk saja.
"Apa dipikiran putramu ini? Pernikahan mereka akan menjadi perkumpulan kita di India. Aku akan mengundang semuanya menjalankan tradisi dari kita, dan putramu ini meminta seminggu lagi?"
"Itu bisa diatur kek, Yang jelas Pernikahan Nya seminggu lagi atau perlu sekarang saja! Resepsinya bisa menunggu." Rekha dan yang lainnya tepuk jidat bahkan Zoya tidak menyangka penuturan Richard yang merubah seenaknya.
"Rekha! Manu! Putra kalian sudah gila! Turuti perkataan ku atau ku batalkan semuanya!" Terlihat wajah Kakek merah karena kesal. Zoya terlihat mendekat kepada Richard untuk mengikuti permintaan kakek.
"Richard, kita ikuti saja permintaan kakek. Pasti ia sudah memiliki rencana untuk itu, sebulan tidak lama kan?" Zoya memberikan pengertian.
"Tidak bisa, apalagi dengan....
"Kau kan ada bersamaku, jadi semuanya akan baik-baik saja. Jadi, sebulan lagi ya? Setuju?"
__ADS_1
Richard menghela napasnya dan mengangguk membuat semuanya tersenyum lega. "Bagus, itu baru benar. Pernikahan kalian kakek yang atur! Bukan begitu dua ladoo ku?" Terlihat double Z tersenyum dan tertawa saat berinteraksi dengan kakek.
"Kakek sangat benar, janggut kakek sangat panjang dan itu sangat geli. Hahahaha." Zoya dapat melihat ketulusan keluarga Richard menerima dirinya dan kedua putranya.
"Ladoo?" Ulang Zoya. Richard tersenyum karena wanita ini pasti tidak bingung.
"Itu manisan dari India, mungkin karena double Z sangat manis. Jadi kakek memanggil mereka dengan itu." Jelas Richard membuat Zoya mengerti.
"Oh ya, Daddy double Z meminta pertemuan dengan Rosa juga dan..."
"Aku tau, aku akan ikut." Ujar Richard membuat Zoya tersenyum.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Lalu bagaimana dengan keluarga Alice Bu? Apa tanggapan mereka?" Tanya Alan.
"Itu bisa diatur! Yang penting Ibu mau kedua cucu Ibu!" Setelah Erna pergi dengan kesal membuat Alan menggusar rambutnya.
"Astaga! Kepalaku rasanya ingin pecah! Dan juga Jim! Dimana dia? Bukankah dia ingin datang?" Alan mencobanya menghubungi Jim dan tak lama terlihat pesan dari pria itu.
__ADS_1
"Kita bertemu di mall xx Tuan, saya sudah di Singapura." Alan segera bangkit meninggalkan perdebatan dengan ibunya dan segera menuju Jim untuk mengetahui alasan kepergian Zoya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di mall terlihat sosok pria dengan surat ditangannya dan juga map yang berisikan sesuatu. Terlihat ia duduk menunggu dengan wajah yang melirik kearah lurus dihadapannya. "Ikuti perkataan ku, kalau tidak kau tau selanjutnya."
Alan terlihat mendekat dan Jim bersikap normal. "Jim! Akhirnya kau datang! Katakan apa yang kau bawa? Mana buktinya? Ayo!" Alan tidak sabaran.
"Iya tuan, saya sudah membawanya. Ini..."
"Apa ini?" Tanya Alan melihat hasil laboratorium rumah sakit.
Gebrakan meja dan tak lama diiringi dengan cengkeraman kerah baju pada Jim membuat beberapa orang menoleh. "Apa maksud mu? Kau mau bermain?"
"Tidak Tuan, saya berani bersumpah. Itu adalah kebenaran nya."
"Kau pikir aku akan percaya?" Tanya Alan dengan kemarahan.
"Kau harus percaya Alan!" Perkataan dibelakangnya membuat pria itu mengendurkan cengkeramnya.
__ADS_1
"Kau....."
Bersambung.....