
Si mungil cantik bermata coklat hazel itu tak mau jauh dari papanya, sejak tadi ia terus menempel dan bergelayut manja. "Papa, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu Papa." Ujarnya dengan manja.
"Papa tadi ada urusan sebentar, dengan Paman Aron. Kenapa belum tidur? Jika sudah mengantuk Rosa bisa tidur."
"Aku ingin tidur bersama Papa seperti biasanya, benarkan Mama?" Tatapan kecil itu tertuju pada wanita cantik berambut coklat itu.
"Iya, tentu saja."
"Kalau begitu, sekarang kita tidur." Adegan itu disaksikan oleh manik hitam itu hingga menghilang dari pandangannya.
Sebuah kamar dengan nuansa putih ditambah dengan hiasan tokoh Barbie swan lake. Rosa berselimut dalam dekapan Papanya, tampak ia mendengarkan dengan seksama cerita yang keluar dari mulut Papanya.
"Selesai..... Sekarang waktunya tidur, ini sudah terlambat."
"Selamat malam Papa."
"Selamat malam sayang." Mata kecil itu akhirnya mulai terlelap, setelah memastikan putrinya tertidur. Ia segera melangkah keluar dengan hati-hati dan itu tidak lepas dari pengawasan seseorang.
"Pergi lagi? Rosa nanti mencarimu Ale."
"Ia tidak akan bangun sebelum besok pagi, kecuali ada sesuatu yang membangunkan nya."
"Kenapa tidak di sini saja? Apa kau tidak lelah? Tidak ada sosok yang kau cari di sana, ia tidak datang. Sudah empat tahun, apa kau masih belum mengerti....
"Jaga batasan mu! Cukup jadi ibu yang baik bagi Rosa. Jangan mengatur ku!" Setelah mengatakannya ia segera pergi dan tepat di depan pintu ia terhenti sejenak membuat senyuman di wajah cantik itu terkembang.
__ADS_1
"Ada apa? Kau ingin di ke kamar.....
"Aku akan ke sini pagi-pagi sekali, sebelum Rosa bangun. Aku harap kau tidak berbuat apapun." Senyum yang terkembang tadi perlahan menghilang, seperti inilah yang ia alami. Hampir empat tahun tapi tidak mengubah apapun, segala cara ia lakukan, bahkan telah memiliki alasan. Tapi seolah hati Pria itu sudah tertutup rapat akan masa lalunya, membuat tidak ada perubahan signifikan dalam hubungan ini.
"Sampai kapan Alan. Aku menanti mu di sini." Kelopak matanya mulai basah karena air mata yang jatuh seiring kepergian mobil mewah itu yang menjauh dari gerbang.
🌟🌟🌟🌟🌟
Suara mesin mobil terhenti di sebuah rumah kayu minimalis. Rumah ini sudah ia datangi selama 4 tahun, dia berharap ketika ia masuk ada senyuman manis yang selalu memenuhi kepalanya dan juga hatinya. Ia berharap ketika ia masuk ada sosok yang ia rindukan berdiri menyambut kedatangan nya seperti biasa. Ia berharap akan ada suara manis dan merdu yang menghiasi telinganya.
"Aku pulang." Ucapnya di dalam rumah kosong itu, meskipun terawat tapi tidak ada siapapun di sana. Langkahnya menyusuri ruangan demi ruangan hingga berakhir di kamar bernuansa abu-abu dengan deretan foto yang penuh kenangan indah di sana.
Tangan kekar itu mengambil sebuah pigura di mana terlihat sepasang wanita dan pria tengah menikmati keindahan ladang bunga tulip yang dipenuhi oleh cinta mereka. Merasa lelah dengan kerinduan dan juga penantian yang tidak ada hasil membuat tubuhnya segera berbaring di ranjang kayu itu.
"Aku merindukanmu, kau di mana? Maaf..... Matanya menutup dengan pigura yang ia dekap di dadanya.
"Ini indah sekali, terimakasih!" Pelukan hangat langsung disambut baik oleh sang pria.
"Tempat yang cocok dan penuh keindahan sama seperti dirimu Zoya."
Jalan berliku membuka tangannya mereka untuk kita, dan disinilah tempat yang dulu kita datangi. Sebuah gaya kabut lembut padat menempel di bulu mataku dan lihatlah disana awan awan di atas gunung
yang lembut menyanyikan cerita tentang kita. Hanya lembah bunga ini yang menceritakan kisah tentang kita.
Ketika malam terlihat bintang bertebaran seolah mereka merayakan kebersamaan kita, dan disinilah tempat yang dulu kita datangi.
__ADS_1
Dekapan erat menyatu dengan cinta yang bersemi serta nyanyian dari alam menghiasi kisah cinta keduanya.
Nyanyian itu seolah tidak akan hilang, malam yang gelap berganti dengan cahaya terang tak membuat nyanyian itu padam di telinga mereka.
🌟🌟🌟🌟🌟
"Mommy! Suaranya tidak berhenti. Aghhhh!" Teriakan putranya membuat Zoya segera menuju ke ruang tv yang ternyata tayangan televisi menayangkan konser yang memekakkan telinga putranya.
"Zain, berapa kali Mommy bilang. Jika saat matikan televisi pelankan suaranya sayang."
"Sudah Mommy, tapi Zian lupa." Zoya hanya menggeleng kecil melihat tingkah putranya.
"Keduanya salah, jika lupa harus diingatkan. Mommy tidak mau kejadian lagi." Zoya memperingatkan putranya.
"Baik Mommy, maafkan kami." Double Z menunduk sambil mengerjapkan matanya.
"Mommy mau bukti bukan kata-kata, pria sejati memperlihatkan dengan tindakannya bukan kata-kata. Ok?"
"Oke Mommy."
"Sekarang peluk Mommy." Double Z berhamburan menuju Zoya dan ketiganya berpelukan.
Di tengah aksi pelukan itu, suara Nenek Ning membuat kehebohan. "Astaga! Richard datang dengan Family!"
"APA!"
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.