
Keesokan harinya, Alan segera meluncur ke apartemen, pintu dan bel itu segera ia mainkan. Tak lama terlihat sosok yang ia rindukan. "Zain, Daddy..." Tidak ada jawaban atau senyuman seperti biasanya hanya ada diam mengajak masuk.
Alan segera masuk dan terlihat Zian sedang sarapan dan Zoya tengah memberikan sereal. " Sudah sarapan?" Tanya Zoya tidak ada hal yang seperti bayangan Alan.
"Boleh." Alan langsung duduk menatap kedua putranya. Ia menunggu kedua putranya selesai, minuman dan makanan yang dihidangkan oleh Zoya tidak bisa ia telan dengan baik. Seolah ada yang mengganjal di sana dan apalagi melihat reaksi kedua putranya.
Penantian Alan berakhir, Zoya sengaja pergi ke kamarnya memberikan waktu untuk ayah dan anak itu. "Mommy ganti baju dulu. Ok?"
Keduanya hanya mengangguk dan diam, Alan terlihat mendekat dan merangkai kata-kata. "Sayang, maafkan Daddy. Apa kalian marah?" Tanya Alan.
"Tidak, tapi kamu kecewa karena Daddy tidak bicara jujur."
Terlihat kekecewaan disana kedua putranya tidak mau menatap matanya. "Maaf, Daddy hanya menunggu waktu yang pas, karena kalian bisa bertemu dengannya sekalian. Bukankah kalian terlihat dekat?"
"Iya, tapi Rosa sepertinya tidak begitu. Ia bilang tidak mau memiliki saudara, ia tidak mau membagi Daddy. Jadi lebih baik kami yang mundur, bukankah sebelumnya begitu? Kami sudah terbiasa tanpa Daddy sebelumnya dan kami sangat senang bertemu Daddy. Tapi sepertinya kita tidak bisa tinggal bersama, pasti nanti ada yang merasa sedih."
Kedua putranya mengutarakan perasaan mereka, tentunya double Z ingin kasih sayang yang penuh untuk mereka tapi ketika melihat Rosa mereka cukup sadar bahwa mereka harus membaginya sepertinya mainan yang mereka mainkan atau rumah yang ditempati bersama.
"Kenapa bilang begitu? Mungkin Rosa akan berubah jika dia tau kalian adalah saudaranya. Tidak mau bertemu? Ada Nenek kakek dan Bibi kalian disana."
"Sungguh?" Tanya Zian sedangkan Zain hanya diam saja.
"Iya, kita tidak tau jika belum mencoba bukan? Bukankah anak Daddy sangat pintar?" Alan yakin Rosa akan menerima kedua putranya karena mereka satu darah.
Bukannya memberikan jawaban tapi keduanya menuju ke kamar Zoya membuat Alan menatap kepergian kedua putranya.
Tak lama terlihat Zoya keluar bersama kedua putranya, sepertinya double Z ingin mengajak Mommy mereka, bukankah itu bagus.
"Double Z mengatakan nya padaku. Aku tidak melarang tapi akan lebih baik jika mempertemukan mereka di luar, maksudnya bukan di rumah."
"Memang kenapa Zoya?" Tanya Alan.
"Aku tidak mau mereka bertemu dengan yang lain sebelum Rosa bisa menerimanya, perasaan anak-anak akan lebih bisa terlihat lebih leluasa di luar bukan dengan orang-orang terdekat mereka. Karena mungkin ada pengaruh....
"Baiklah, kita membuat pertemuan sambil mengajak mereka bermain. Kebetulan Rosa sudah sembuh." Alan menerima saja tidak ingin ada perdebatan bukankah ini sangat bagus hanya ada mereka tanpa.....
__ADS_1
"Boleh mengajak Papa?" Pertanyaan double Z membuat hati Alan tersentil.
"Kenapa sayang? Daddy rasa tidak perlu...
"Nanti seperti cerita sebelah ibunya dimarahi oleh istri ayahnya karena mereka pergi bertiga. Kami tidak mau begitu, kalaupun Rosa mengajak Mama nya maka Papa bisa ikut."
"Kenapa melihat ku?" Zoya merasa Alan mencurigai dirinya.
"Baiklah, kalian senang?"
"Senang." Perasaan kedua putranya mudah berubah sekarang ia kembali mendapatkan pelukan hangat dari kedua putranya.
"Daddy menyayangi kalian. Jangan ragukan itu nak."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Erna merasa kesal karena Alan sudah tidak ada di rumah, pagi-pagi putranya itu ay menghilang bak asap. "Kau tidak tahu kemana Alan?" Tanyanya pada Alice.
"Alan hanya bilang ingin pergi saja Bu, aku tidak tanya. Lagipula itu sudah biasa." Mata Erna memicing mendengar ucapan menantunya.
"Sejak Rosa kecelakaan Bu. Memangnya kenapa?" Tanya Alice.
"Apa kau tidak merasa mungkin Alan bertemu dengan wanita itu? Kenapa kau bisa bodoh sekali?" Ujar Erna dengan kesal.
Alice tidak terpikirkan akan hal itu, perasaan dan pikirannya berkecamuk karena penuturan Ibu mertuanya.
"Ibu aku....."
"Astaga! Menantu ku ini!" Kedua wanita itu saling berpikir dan Alta datang melihat keduanya seperti cemas tak beraturan.
"Ibu, kak Alice ada apa ini? Kenapa berwajah begitu?" Tanyanya sambil duduk menikmati buah segar.
"Kakak mu pergi di pagi buta dan Kaka ipar mu ini tidak tau kemana? Dan lebih buruknya mantan istrinya itu ada disini!"
"Kenapa harus khawatir, lacak saja ponsel kakak. Sini!"
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pintu terbuka membuat ketiganya terhenti dan terdiam. Sosok yang mereka khawatirkan akhirnya datang dengan wajah senang tapi berubah bingung melihat ketiganya. "Kenapa?" Tanya Alan.
"Kau dari mana?" Cecar Erna.
"Aku habis jalan pagi." Alan sengaja memakai pakaian untuk joging agar semuanya percaya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Alan kembali.
"Tidak ada, ibu hanya bingung kau menghilang di pagi hari."
"Aku sudah besar Bu, aku tidak akan hilang."
Alan perlahan menuju kamarnya tapi dihentikan oleh Erna. "Tunggu, ibu ingin bicara."
"Baiklah." Alan setuju dan Erna terlihat memberikan kode untuk Alta dan Alice memberikan waktu untuk Ibu dan anak itu.
"Ada Bu? Apa ada masalah?" Tanya Alan.
"Sejak kapan kau mengetahui Zoya disini? Dan sejak kapan kau menyembunyikan kedua cucuku?" Alan yang tadinya tenang berubah menjadi tegang karena pertanyaan ibunya.
"Maksud Ibu apa? Cucu apa?" Alan berpura-pura tidak tau.
"Ibu melihat sendiri Zoya bersama dua anak yang terlihat seperti dirimu? Mau mengelak? Ibu memiliki bukti cctv dihalaman."
"Mereka akan berkunjung nanti." Alan tidak perlu mengelak lagi.
"Berkunjung? Mereka cucu ibu, ambil mereka dari Zoya!" Alan sontak berdiri mendengar penuturan ibunya.
Bersambung.....
Jangan lupa like
Tinggalkan komentar
__ADS_1
Dan berikan hadiah dengan iklan dan bunga mawar 🌹