
Satu hari sebelumnya, Juan datang ke rumah sakit untuk menemui Donny. Bagaimanapun juga ia harus menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dengan ayah sang kekasih.
"Selamat pagi Uncle," sapa Juan ketika datang menemui Donny di kantor rumah sakit milik pria paruh baya itu.
Donny memicingkan matanya menatap tidak suka kepada Juan. Sudah beberapa bulan ini ia tidak bertemu dengan pemuda itu, namun tetap saja kebencian Donny terhadap Juan tidak berkurang sedikit pun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Donny tidak senang. Pria itu masih ingat tentang perkataan Jodi tentang pemuda yang ada di hadapannya kini.
"Saya ingin menemui Uncle," jawab Juan jujur, ia tidak merasa gentar walaupun Donny menatapnya dengan sinis.
"Untuk apa kau menemuiku?" tanya Donny dingin menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya.
"Saya ingin menjelaskan semuanya," jawab Juan berusaha bersikap santai.
"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan!" tukas Donny tak ingin memberikan kesempatan karena pria itu telah termakan omongan Jodi yang selama ini selalu menjelek-jelekkan Juan.
"Banyak yang harus di jelaskan Uncle," ujar Juan tetap berusaha membujuk ayah kandung Hara.
"Aku sudah tahu semua tentang kebusukanmu, jadi penjelasan yang seperti bagaimana lagi?!" tanya Donny menaikkan nada bicaranya karena ia sudah terlanjur kesal dengan pemuda yang kini tengah duduk di hadapannya.
Juan menghela nafas kemudian memejamkan matanya sejenak. Memang benar apa yang pernah di katakan oleh Mommy nya Via bahwa ayah kandung Hara itu sangatlah keras dan juga benar-benar tidak bisa di ajak berkompromi.
__ADS_1
Pemuda itupun mengambil sebuah flashdisk dan menyerahkannya kepada Donny membuat pria paruh baya itu terkejut. "Apa ini?" tanya Donny tak mengerti.
"Ada yang harus Uncle ketahui dan sebaiknya Uncle lihat sendiri isi di dalamnya," jawab Juan menunjuk ke arah flashdisk yang kini telah berada di tangan Donny.
Walau enggan Donny tetap mengikuti apa yang di katakan oleh Juan. Matanya menatap serius ke arah layar komputernya begitu melihat isi yang ada di dalam benda itu.
Donny menghela nafas, "Baiklah aku akan memberikanmu kesempatan untuk membuktikan semua ini," ucap Donny membuat Juan tersenyum bahagia mendengar apa yang di katakan oleh calon ayah mertuanya itu.
"Tapi jangan pikir kau telah mendapatkan persetujuan dariku. Aku tetap tidak mengizinkanmu untuk mendekati Hara selama semua informasi tadi belum dapat dibuktikan!" tegas Donny membuat Juan jengkel dalam hatinya karena bagaimanapun juga sangat sulit menjauhi Hara yang sudah Juan anggap sebagai udara yang harus selalu ia hirup setiap waktu, setiap saat.
"Uncle, kami kuliah di tempat yang sama bahkan kelas yang sama, jadi bagaimana mungkin kami tidak bertemu bahkan berinteraksi," ucap Juan jujur walau ia belum mengatakan yang sejujurnya bahwa ia dah putri satu-satunya Donny telah menjalin hubungan kekasih.
"Apa kau bilang?!" tanya Donny terkejut, ia tidak menyangka bahwa Juan akan senekat ini untuk mengejar putrinya. Pemuda itu bahkan rela meninggalkan negara asalnya dan jauh dari kedua orang tuanya demi mengejar Hara.
"Aku dan putriku tidak butuh kata-kata manismu. Buktikan kalau kau memang mencintai putriku." Donny berkata dengan tegas.
Donny pun mengajukan satu syarat lagi kepada pemuda itu. Walau awalnya Juan harus berdebat dalam hatinya tentang syarat yang di ajukan oleh Donny, tetapi demi cintanya kepada Hara membuat Juan menerima syarat tersebut.
Aku pasti akan membuktikannya Uncle dan kau akan mengetahui kalau aku memang layak untuk di cintai oleh putrimu, tekad Juan dalam hatinya.
Akhirnya di sinilah Juan, di rumah sakit. Sudah dua hari sejak ia menemui Donny dan sudah dua hari pula ia menuruti syarat yang di ajukan oleh Donny untuk menjadi pekerja sosial di rumah sakit milik Donny yang beraea di luar kota. Ada sebuah desa di mana penduduknya banyak terserang penyakit akibat bencana alam yang mereka alami.
__ADS_1
Donny terus memperhatikan kinerja Juan, ia tidak menyangka pemuda yang berasal dari keluarga kaya raya itu mampu berbaur dengan masyarakat kecil. Bahkan Juan juga tidak segan membantu mereka yang kesulitan walau itu bukan bagian dari tugasnya.
Sementara itu Nadine mengajak Hara untuk berkunjung ke kediaman keluarga Mahendra. Mereka ingin menanyakan tentang keberadaan Juan yang sudah dua hari ini tidak datang ke kampus.
"Apa mungkin Juan kembali ke New York?" tanya Hara kepada Nadine setelah mereka tidak dapat menemukan Juan ke kediaman Mahendra.
Mereka baru saja kembali dari rumah keluarga Mahendra dan tidak menemukan Juan. Keluarga Mahendra sendiri tidak berada di kediamannya karena mereka tengah kembali ke Jogja untuk memperingati kematian kakak dan juga ibu Sera sang nyonya rumah.
"Apa sebaiknya aku menghubungi Aunty Via?" Nadine balik bertanya kepada gadis yang duduk di kursi sebelahnya ini.
"Jangan!" larang Hara, Juan sempat bercerita bahwa ia tengah dalam masa hukuman dari sang ayah.
"Kenapa?" tanya Nadine tidak mengerti, bukankah jika Hara berpikir Juan kembali ke New York yang harus mereka hubungi tentu adalah orang tua dari pemuda itu.
"Bagaimana jika Juan tidak ada di sana? Tentu Aunty Via akan khawatir," jawab Hara.
Nadine akhirnya mengerti, gadis itu juga setuju dengan apa yang di katakan olah Hara. Ia juga tidak ingin membuat sepupu dari ibunya itu cemas dengan menanyakan keberadaan Juan.
Perjalanan selanjutnya mereka isi dengan keheningan, masing-masing keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga tanpa terasa Hara telah tiba di depan rumahnya. Nadine mengantar gadis itu pulang setelah mereka tidak menemukan jawaban tentang keberadaan Juan dari keluarga Mahendra.
"Terimakasih," ucap Hara tulus yang hanya di jawab anggukan kepala Nadine. Gadis itu melambaikan tangan ketika mobil milik Nadine meninggalkan kediamannya.
__ADS_1
Hara memasuki rumahnya yang terlihat sepi, sejak kemarin sang ayah tidak berada di rumah karena harus keluar kota untuk membantu para korban bencana alam.
Hara terkejut ketika ada sebuah lengan kekar yang memeluk pinggang rampingnya dari belakang.