
Cintai apapun yang ada didunia dengan sewajarnya. Karena apapun yang ada di dunia tak ada yang abadi.
Keabadian hanyalah milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
~Ay Alvi~
Juan mengangguk menjawab pertanyaan sang ayah. Pemuda itu memang mengetahui dengan jelas siapa yang berani bermain-main dengannya. Juan bersumpah tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan mudah dan ia juga tidak akan mempercepat kematiannya.
Bertepatan dengan itu ponsel pemuda tersebut berdering dengan kerasnya dan nama yang tertera di sana adalah Emily, nama gadis tidak tahu diri yang berani bermain-main dengan nasibnya.
Juan menatap nanar ke arah ponsel dengan tangan yang terkepal erat. Amarah memenuhi hati pemuda itu dan rasa jijik terpancar jelas dari wajahnya, ia benar-benar membenci Emily dan tak ingin lagi berurusan dengan rubah betina tersebut.
"Halo!" Juan menjawab dengan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sebenarnya pemuda itu malas untuk mengangkat telepon sang rubah. Hanya saja ia juga tidak ingin gadis itu curiga, Juan ingin membalas perbuatan Emily dengan caranya sendiri. Bahkan ia tidak ingin Ziga ayahnya mengetahui dalang dari kejadian yang menimpanya dan juga Hara.
"Sayang." Emily memanggil Juan dengan suara yang manja, gadis itu tetap berusaha menggoda sang kekasih yang hingga saat ini masih menjadi target untuk calon suaminya.
"Ehmm," jawab Juan malas, basa-basi yang sebenarnya membuat pemuda itu muak. Namun, demi kelancaran rencananya Juan harus rela memendam amarahnya saat ini.
"Bisakah kita bertemu siang nanti?" tanya Emily mengajak pemuda itu berjumpa untuk kembali mencoba menjeratnya.
"Aku ada kuliah," bohong Juan, untuk saat ini ia belum ingin menemui Emily. Pemuda itu masih menyusun rencana yang tepat untuk membalas perbuatan gadis itu.
"Pulang kuliah mungkin?" Emily kembali bertanya mendesak agar dapat bertemu dengan pujaan hatinya tersebut.
Juan terdiam, pemuda itu nampak berpikir sebentar tentang apa yang ingin di lakukannya kepada si gadis rubah.
__ADS_1
"Sayang," rengek gadis itu yang belum juga mendapatkan jawaban dari Juan, Emily mulai tak sabar karena pemuda itu masih saja terdiam.
"Nanti malam mungkin?" Emily kembali bertanya memastikan pemuda itu memiliki waktu untuknya. Ia bersikeras memaksa agar mereka bisa saling jumpa.
"Baiklah, nanti malam," jawab Juan pada akhirnya. Pemuda itu telah memikirkan cara yang akan ia gunakan untuk membalas perbuatan Emily si rubah betina.
Emily bersorak gembira di dalam hatinya, gadis itu merasa senang karena Juan mau menuruti permintaannya. Ia sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti malam. Senyum mengembang di sudut bibir Emily seiring dengan suasana hatinya yang sedang bahagia.
"Oke, aku tunggu nanti malam. I love you honey," ucap Emily yang tak di balas oleh Juan, pemuda itu bahkan langsung menutup teleponnya.
Emily menatap layar ponselnya yang telah menghitam, gadis itu berpikir mungkin sinyal yang memutus sambungan teleponnya sehingga Juan tidak membalas ucapan cintanya seperti yang biasa di lakukan oleh pemuda itu. Maka dengan tidak berpikir lagi Emily segera mengirimkan pesan singkat kepada Juan yang berisi dengan ungkapan rasa cintanya lengkap dengan emoticon hati di ujung pesan tersebut.
Juan menatap jengah ke layar ponselnya, andai saja ia tidak ingin membalas dendam pada Emily, pemuda itu tidak akan sudi untuk mengangkat panggilan dari gadis yang menjadi dalang atas kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya.
Ziga menatap putranya saat mobil yang di kendarainya telah memasuki halaman gedung markas Marco dan yang lainnya. Pria itu ingin tahu siapa yang menghubungi putra bungsunya hingga membuat raut wajah pemuda itu kesal.
"Hanya teman kuliah," jawab Juan menutupi siapa yang menghubunginya. Pemuda itu tidak ingin ayahnya tahu perihal Emily karena ia mempunyai cara sendiri untuk membalas perbuatan si gadis rubah yang tidak tahu malu tersebut.
Mereka berjalan memasuki gedung yang langsung di sambut oleh puluhan anak buah Ziga di sana. Kedatangan Ziga yang tiba-tiba membuat mereka semua terkejut, pasalnya walau pria itu adalah pemimpin utama mereka sangat jarang bagi Ziga mendatangi markas tersebut. Bahkan kejadian ini boleh di bilang langka apalagi kini sang tuan besar juga membawa tuan kecil yang sudah dapat di pastikan bahwa pemuda itulah yang akan mewarisi tahta dan kekuasaan sang ayah.
"Selamat datang Tuan!" sapa Marco yang di ikuti serempak oleh seluruh anak buahnya. Mereka kompak menunduk untuk memberi salam kepada sang tuan besar dan tuan kecil.
Sejujurnya Juan sangat tidak menyukai panggilan tuan kecil tersebut. Pria itu merasa ia sama seperti sang ayah, tapi mengapa semua orang memanggilnya dengan sebutan Tuan kecil. Apakah karena ia adalah anak bungsu atau yang paling kecil dari keluarga Pratama sehingga akhirnya panggilan itu di sematkan oleh anak buah ayahnya.
Ziga mengangguk membalas sapaan hormat anak buahnya, kemudian pria itu kembali melangkah ke dalam berjalan masuk ke ruang rapat dengan di ikuti oleh Juan dan juga beberapa petinggi di organisasi tersebut.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit, Via tengah menemani Hara menghabiskan makan paginya yang tadi sempat ditolak oleh gadis itu karena ingin mengerjai Juan.
"Hara!" panggil Via pada gadis yang masih fokus mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"I-Iya Aunty," jawab gadis itu setelah menelan dengan sempurna makanan yang tengah ia kunyah.
"Bisakah kau ceritakan yang sebenarnya?" pinta Via, wanita itu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putra bungsunya dan juga gadis itu.
Hara memainkan sendok yang kini tengah di pegangnya, gadis itu tampak ragu apakah harus jujur atau tidak. Pasalnya semalam Juan berbohong kepada mereka semua. Pemuda itu tidak mengatakan bahwa ia akan mengajak Hara ke arena balap, pria itu pamit pada keluarganya untuk mengajak Hara makan malam dan berkeliling kota yang memang belum lama di datanginya tersebut.
"Aunty tahu Juan mengajakmu ke tempat balapan bukan?" tanya wanita paruh baya itu seolah tahu apa yang menjadi bahan pertimbangan Hara untuk tidak bercerita kepadanya.
"I-Iya benar Aunty," jawab Hara sedikit terkejut karena ternyata ibu kandung Juan itu telah mengetahui kebiasaan putra bungsunya.
Via menghela nafas, wanita itu memang sudah dapat menebak apa yang terjadi pada mereka berdua. Hanya saja, wanita itu tidak menyangka kalau putra bungsunya tersebut berani mengajak Hara mengikuti kegiatan menantang mautnya.
Via geram dengan kelakuan Juan yang masih saja menjadikan balap liar sebagai hobinya, apalagi kini kelakuan putra bungsunya tersebut menyebabkan seorang anak gadis yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa seperti Hara terluka.
"Hara, bolehkah Aunty minta sesuatu?" tanya Via menatap penuh harap ke arah gadis yang kini sedang bingung dengan apa yang akan di minta oleh ibu dari tiga orang anak itu.
*****
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU.
Jangan lupa like, coment dan juga vote ya agar Ay tambah semangat untuk up bab barunya.
__ADS_1
Yang mau kasih tip boleh juga😂😂😂😂
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘