
"Daddy mengapa Daddy tidak mengizinkan Juan untuk kuliah di Indonesia?" tanya Via setelah mereka berada di dalam kamar. Ia masih belum mengetahui alasan suaminya melarang putra bungsunya tersebut.
"Juan liar dan Daddy tidak ingin dia jauh dari pengawasan," jawab Ziga. Sifat Juan sangat sulit di tebak. Pemuda itu jadang bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Untuk itu hingga saat ini Ziga belum dapat melepaskan putra bungsunya tersebut.
Via menghela nafas, benar apa yang di katakan oleh suaminya. Sifat putra bungsunya tersebut sangatlah liar dan tidak terkendali akan tetapi Via juga tidak ingin mengekang Juan karena sepertinya saat ini pemuda itu telah menyadari kesalahannya selama ini.
"Tapi Dad, jika Daddy terus mengekang Juan seperrti ini, itu hanya akan membuatnya menjadi anak manja. Selama ini apapun kemauannya dan juga kebutuhannya selalu tersedia. Jika Daddy ingin menghukum tapi juga mendidik Juan, Mommy pikir ini adalah waktu yang tepat," ujar Via.
Ziga mengeryitkan alisnya mendengar ucapan sang istri, ia tahu Via pasti memiliki rencana yang tidak ia ketahui, "Lalu, apa rencana Mommy?" tanya Ziga penasaran ide apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu.
Via pun mendekatkan bibirnya ke telinga Ziga kemudian membisikan rencana yang ia miliki kepada suaminya tersebut.
"Apa Mommy yakin ini akan berhasil?" tanya Ziga sedikit meragukan ide dari istrinya.
Via mengangguk yakin menjawab keraguan Ziga, bagaimanapun juga ia adalah seorang ibu jadi pasti ia tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya termasuk untuk Juan.
__ADS_1
Ziga menghela nafas, "Baiklah, jika Mommy sudah yakin daddy akan menyetujui Juan untuk melanjutkan kuliahnya di Indonesia," ucap Ziga membuat Via melebarkan senyumnya kemudian memeluk erat tubuh suaminya.
"Lalu di mana Juan akan tinggal nanti, Daddy tidak akan mengizinkan jika dia tinggal di apartemen sendiri." Ziga tetap belum bisa memberikan kepercayaan penuh kepada putranya itu. Ia masih khawatir Juan akan membuat masalah jika di biarkan tinggal sendiri. Pemuda itu akan merasa memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja dan Ziga tidak mau hal itu terjadi.
"Kita bisa titipkan Juan pada kak Jordan atau juga kak Reza, Mommy yakin mereka tidak akan keberatan dengan kehadiran putra Mommy yang tampan," jawab Via.
"Lebih tampan mana dengan Daddy?" tanya Ziga melingkarkan lengan di pinggang ramping istrinya memeluk Via dari belakang.
Via berbalik menghadap Ziga, wanita itu mengalungkan lengannya di leher sang suami, "Tentu tampan Juan, Daddy sudah tua. Lihat saja ada kerutan di wajah Daddy," ledek Via membuat Ziga menautkan kedua alisnya mendengar apa yang di katakan oleh suaminya tersebut.
"Wajah boleh keriput dan tua tapi Daddy yakin masih sanggup membuat Mommy mendesah dengan keras," goda Ziga membuat wajah sang istri memerah. Pria itu pun menggendong Via ke atas tempat tidur untuk membuktikan apa yang baeu saja di katakannya.
Sebenarnya itu bukanlah niat Juan yang sesungguhnya, ia ingin kuliah di negara tersebut selain untuk menuntut ilmu adalah untuk mengejar cintanya. Cinta yang pergi meninggalkannya bahkan sebelum Juan dapat memiliki apa yang ia namakan sebagai cinta sejatinya itu.
Tiga bulan yang lalu, Hara telah meninggalkannya di saat ia membutuhkan gadis itu di masa terpuruk karena kecelakaan yang di alaminya. Namun, Juan tidak menyalahkan Hara karena ia tahu ini bukanlah keinginan gadis itu melainkan keinginan Donny ayah Hara yang tidak menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
"Juan, boleh Mommy masuk?" tanya Via dari luar kamar setelah mengetuk pintu kamar putranya tersebut.
"Masuklah Mom," sahut Juan dari dalam kamar tanpa membukakan pintu untuk sang ibu.
Via menggelengkan kepalanya melihat Juan masih bergelung di kasur, bahkan pemuda itu tidak membuka tirai jendelanya dan membiarkan kamar dalam keadaan gelap.
"Apa kau tidak ingin bersiap-siap?" tanya Via membuka tirai yang menutupi jendela kamar pemuda itu.
"Aku tidak ingin kuliah Mom, hari ini juga tidak ada pelajaran yang menarik," jawab Juan kembali masuk dalam selimut, tak ingin melihat cahaya matahari pagi yang menerobos dari jendela.
"Benar kau sudah tidak ingin kuliah?" tanya Via menarik selimut yang menutupi tubuh putra bungsunya.
Juan mengangguk pelan, ia sedang melakukan protes kepada kedua orang tuanya. Ia tidak ingin melanjutkan kuliahnya jika bukan di Indonesia.
"Hemm ... sayang sekali jika kau sudah tidak berminat untuk melanjutkan kuliahmu. Mommy akan bilang pada Daddy untuk membatalkan pendaftaran di kampus tempat Uncle Jordan mengajar," ucap Via.
__ADS_1
Juan segera bangun dari posisi tidurnya. Dengan cepat pemuda itu duduk di atas ranjang begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh ibunya.
"Apa Mommy bilang? Daddy sudah mendaftarkan kuliahku di Jakarta?" tanya Juan tak yakin karena kemarin ayahnya itu sangat menentang keras dirinya yang akan pergi melanjutkan kuliah di Indonesia.