
Belajar memahami bahwa tak semua keinginan bisa terpenuhi, adalah obat terbaik untuk mencegah kecewa dan sakit hati.
~Ay Alvi~
"Ini masalah hidup dan mati, apa Anda mau bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi pada temanku itu?" tanya Juan seraya mengancam sang perawat.
Mendengar ancaman Juan, perawat tersebut tampak panik. Ia pun segera memberitahu pemuda itu kamar di mana tempat William di rawat. Juan pun meminta Farrel untuk membantu mendorong kursi rodanya menuju kamar rawat William.
"Apa kau sengaja melakukan ini Tuan William?!" Juan langsung menuduh William tanpa basa-basi lagi setelah ia memasuki kamar milik pria itu.
"Sepertinya Anda tidak memiliki sopan santun yang baik Tuan Pratama," ucap William sarkas setelah Juan memasuki ruangannya dengan tiba-tiba.
"Tidak butuh sopan santun untuk menghadapi orang sepertimu!" tukas Juan tak mau kalah.
"Apa maksudmu Tuan Pratama?" tanya William dari tempat tidurnya, ia menatap bingung ke arah Juan karena tidak mengerti apa yang di katakan oleh pemuda itu.
"Bukankah kau sengaja menabrakku agar aku kalah taruhan dengan Hara?!" tuduh Juan membuat William mengernyitkan kedua alisnya.
Pria itu benar-benar tidak mengerti apa yang di katakan oleh Juan, taruhan apa? ia sama sekali tidak mengetahuinya. Kejadian yang terjadi di lintasan murni kecelakaan karena ia mencoba untuk menikung di sudut yang sempit sehingga akhirnya menyebabkan kecelakaan itu terjadi.
Akan tetapi, Juan menuduhnya sengaja menggagalkan taruhan pemuda itu dengan Hara, sebenarnya apa yang di pertaruhkan oleh kedua orang itu. Hal itu justru membuat William semakin penasaran.
"Kalau memang aku sengaja, lalu kau mau apa?" William bertanya kepada Juan, pria itu berpura-pura mengetahui apa yang menjadi taruhan Hara dengan pemuda itu sehingga membuat Juan begitu marah ketika dirinya mengalami kecelakaan.
"Kau, ck!" Juan berdecak kesal, andai saja saat ini ia tidak berada di kursi roda tentu sudah di pukulnya William sekarang juga.
__ADS_1
"Aku senang kau kalah dalam taruhan itu," ucap William mengejek Juan, walau ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi taruhannya tetapi pria itu senang dapat memprovokasi pemuda yang ada di hadapannya kini.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi," ajak Farrel yang tak ingin ada keributan di antara dua orang sakit itu.
"Ingat William, aku tidak akan menyerah. Hara adalah milikku dan tetap akan menjadi milikku selamanya!" tegas Juan yang langsung memutar kursi rodanya bermaksud untuk pergi meninggalkan William.
"Aku juga tidak akan menyerah Tuan Pratama, kita lihat siapa yang akan mendapatkan hati Hara!" tukas William menantang Juan. Pria itu tidak mau kalah saing dengan pemuda yang usianya masih jauh berada di bawah pria itu.
Mendengar ucapan William membuat Juan menghentikan kursi rodanya, kedua tangan pemuda itu terkepal kuat menahan amarah.
"Aku terima tantanganmu, aku harap kita bisa bersaing secara sportif untuk mendapatkan hati Hara!" ucap Juan yang kemudian segera pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Farrel sahabatnya.
"Shitt!!" umpat Juan begitu tiba di dalam kamarnya. Pemuda itu kesal karena untuk saat ini ia memiliki saingan untuk mendapatkan hati Hara. Sebelum ada saingan saja sudah susah untuk mendapatkan hati gadis itu sepenuhnya. Hara mau di ajak berpura-pura karena ia merasa berhutang budi kepada Mommy Via, ibunda Juan.
"Bukan seperti itu, hanya saja mengapa William menyukai Hara? Harusnya laki-lakinya itu berpikir usia mereka terpaut jauh," tukas Juan kesal.
Farrel tergelak mendengar ucapan Juan, baru kali ini pemuda itu mendapatkan seorang saingan di tambah lagi gadis yang di sukai oleh sahabatnya itu tampaknya tidak terlalu tertarik kepada Juan. Selama ini selalu para gadis yang bersaing dan mengejar Juan. Akan tetapi kali ini berbeda, pemuda itu yang mati-matian mengejar seorang gadis bahkan hingga menjadikan hidupnya sebagai taruhan.
"Sepertinya kau terjerat cinta si cupu," ejek Farrel di sela-sela tawanya.
Juan mendengus kesal mendengar ejekan dari sahabatnya itu. Namun, ia juga tidak menampik apa yang di katakan oleh Farrel bahwa saat ini ia sudah terjerat cinta si cupu Hara yang kali ini tidak cupu lagi, tetapi menjelma menjadi gadis cantik yang amat mahir menguasai lintasan balap sehingga gadis itu sering keluar sebagai juara.
"Tapi kau lihat sendiri bagaimana gadis itu di dalam lintasan, tidak ada yang dapat menandinginya," ujar Juan bersemangat, ia memang mengagumi tehnik Hara dalam balapan, gadis itu dapat mencari celah untuk mengalahkan seseorang. Perhitungannya sangat matang sehingga ia dapat dengan mudah melewati lawan-lawannya.
"Ya, kau benar. Hara sangat berbakat, bahkan dia adalah satu-satunya peserta wanita yang mengikuti perlombaan tadi," ucap Farrel setuju dengan apa yang di katakan oleh Juan.
__ADS_1
"Aku harus mendapatkannya!" tegas Juan, ia tidak akan menyerah walau sudah kalah taruhan dari Hara. Ia bertekad untuk mengejar gadis itu. Sesungguhnya, hal ini sangat bertentangan dengan sifat pemuda itu. Biasanya dirinya lah yang selalu di kejar-kejar bahkan menjadi rebutan para wanita, namun kali ini ia harus mengejar bahkan bersaing dengan William untuk mendapatkan Hara.
Suara ketukan terdengar di pintu kamar, Juan tampak berbinar, ia berpikir Hara yang datang untuk membawakan makan malam. Namun, ternyata harapan Juan tidak terwujud. Seorang perawat setengah baya masuk ke dalam ruangan tersebut membawa beberapa obat yang harus di minum oleh Juan.
"Tuan, waktunya minum obat!" titah sang perawat yang langsung menautkan kedua alisnya ketika melihat makanan yang di sediakan untuk Juan belum tersentuh sedikit pun. Makanan itu masih utuh di atas nakas.
"Mengapa Anda tidak makan malam Tuan?" tanya sang perawat mencoba bertanya dengan sabar walau sebenarnya di dalam hati wanita itu menahan kesal.
"Aku tidak ingin makan!" bantah Juan, ia tidak ingin makan makanan yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
"Tapi Anda harus makan terlebih dahulu sebelum meminum obat ini," tutur si perawat berusaha menjelaskan bahwa Juan perlu makan sebelum mengkonsumsi obat yang telah di bawanya.
"Aku tidak mau minum obat!" tegas Juan karena saat ini suasana hatinya sedang kesal.
"Sebaiknya kau makan sedikit sebelum minum obat ini," ujar Farrel berusaha membujuk sahabatnya yang keras kepala tersebut.
"Ck," Juan berdecak kesal, ia paling tidak suka ada orang yang memaksanya walaupun itu Farrel yang merupakan sahabatnya sendiri.
"Jangan cerewet! Sebaiknya kau pergi sekarang!" usir Juan kepada Farrel yang berusaha menasehatinya tersebut.
"Oke ... oke, aku pergi sekarang Tuan kecil yang terhormat," ucap Farrel mengangkat kedua tangan dan juga bahunya berbarengan.
Farrel pun segera pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia tidak ingin berdebat dengan Juan karena sepertinya pemuda itu sedang mode tidak ingin di ganggu apalagi di bantah.
Namun, pemuda itu mencari Hara dan berharap gadis itu dapat membujuk Juan yang saat tampak mengerikan setelah tantangan yang di ajukan oleh salah satu penggemar gadis itu.
__ADS_1