
"Pagi Pi!" sapa Hara mencium pipi sang ayah di meja makan.
"Kuliah pagi?" tanya Donny ketika melihat sang putri telah berpakaian rapi lengkap dengan membawa tasnya.
"Iya," jawab Hara berbohong karena sebenarnya gadis itu ingin singgah terlebih dahulu ke rumah sakit untuk melihat keadaan Juan kekasihnya.
"Apakah William akan menjemput?" tanya Donny yang tampaknya berharap hubungan putrinya dan dokter muda itu berkembang.
"Tidak," jawab Hara mengambil roti dan mengoleskan selai coklat kesukaannya.
"Bagaimana dengan kencanmu semalam?" Donny kembali bertanya dan berharap akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Hara.
__ADS_1
Gadis itu tidak menjawab, Hara bangkit dari duduknya kemudian mencium pipi sang ayah, "Aku berangkat Pi, takut telat," ucap Hara terburu-buru kemudian menghilang dari balik pintu.
Donny menggelengkan kepalanya, namun ia tersenyum mengingat sikap Hara semalam. Kembali ia berpikir bahwa hubungan Hara dan William mengalami kemajuan. Mungkin sebentar lagi ia dapat memiliki seorang menantu yang satu profesi dengannya yaitu seorang dokter.
Hara memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sejak kembali ke Indonesia Donny melarang anak gadisnya mengendarai motor. Biasanya gadis itu selalu di antar ataupun di jemput oleh sopir pribadinya karena sang ayah tidak membiarkan putrinya tersebut pergi seorang diri.
Namun, beruntung bagi Hara sudah tiga hari ini Mang Diman sopir pribadinya sakit jadi tidak bisa mengantar sang Nona seperti biasanya. Karena Donny juga memiliki pekerjaan yang cukup sibuk jadi untuk sementara dokter spesialis kandungan tersebut membebaskan Hara untuk menggunakan aplikasi taksi online sementara sembari menunggu Mang Diman sehat kembali.
Hari masih termasuk pagi sehingga perjalanan Hara tidak di ganggu dengan kemacetan kota Jakarta sehingga hanya dalam waktu empat puluh lima menit ia dapat tiba di rumah sakit tempat Juan di rawat.
"Apa kau sudah sembuh benar?" tanya gadis itu meletakkan tangannya di atas kening Juan untuk memeriksa suhu tubuh kekasihnya tersebut.
__ADS_1
Juan meraih tangan Hara kemudian mengecup lembut punggung tangan gadis itu, "Aku sudah sembuh sayang," jawab Juan menarik tubuh gadis itu mendekat ke arahnya.
Jantung Hara berdegup kencang, posisi mereka saat ini begitu dekat. Bahkan Hara dapat merasakan panasnya nafas yang Juan hembuskan. Juan membuka kacamata yang membingkai mata indah gadis itu. Pemuda itu juga menarik ikatan rambut Hara dan membiarkan rambut panjang gadis itu tergerai sempurna menutupi punggungnya.
"Kau cantik sayang," puji Juan mengecup kening gadis itu membuat wajah Hara merona.
"Tapi, kecantikanmu hanya untukku. Jangan pernah menunjukkan wajah cantikmu di hadapan pria lain!" tegas Juan memakaikan kembali kacamata Hara kemudian mengikat rambut Hara seperti semula.
Awalnya Hara ingin marah ketika Juan mengubah penampilannya kemudian memberi pujian. Namun, setelah pemuda itu berkata tidak ingin penampilan aslinya di lihat oleh orang lain kemarahan Hara pun menghilang.
Juan tidak pernah mempermasalahkan penampilan Hara. Justru ia merasa bersyukur karena sang kekasih menyembunyikan kecantikannya. Yang artinya tidak akan mengetahui kecantikan yang gadis itu miliki selain dirinya.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap?" tanya Jordan masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu telebih dahulu.
Hara yang gugup segera menjauh dari Juan, ia merasa malu karena untuk yang kedua kalinya sang kepala yayasan tempatnya menuntut ilmu itu memergoki kedekatan gadis itu dengan keponakannya.