Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Mahasiswa baru


__ADS_3

Malam hari, Donny tengah bersiap menuju pesta. Saat ini ia sedang menunggu Hara untuk mengajak anak gadisnya menghadiri acara ulang tahun rumah sakit sekaligus menyambut bergabungnya dokter baru yang terkenal dalam bidangnya dokter William.


"Hara kau sudah siap?" tanya Donny dari depan pintu kamar anak gadisnya. Sudah sekitar setengah jam putrinya tersebut belum juga keluar dari kamar.


"Sebentar Pi," jawab Hara, sejujurnya gadis itu enggan pergi. Akan tetapi Hara tidak dapat menolak atau membantah keinginan sang ayah. Maka dari itu dengan sangat terpaksa gadis itu menurutinya.


"Cepatlah, Papi tidak mau kita terlambat," ujar Donny.


"Aku sudah selesai," jawab Hara keluar dari kamarnya dengan menggunakan gaun seperti yang Donny inginkan.


"Kau terlihat sangat cantik sayang," puji Donny mengagumi kecantikan putrinya yang di dapat dari mendiang sang istri.


Hara tersenyum samar mendengar pujian sang ayah. Ia merasa tidak nyaman dengan gaun yang di kenakannya. Gadis itu lebih suka berpakaian santai karena hal tersebut tidak akan membatasi geraknya.


"Ayo berangkat sekarang Pi!" ajak Hara ia sudah tidak sabar untuk datang di pesta dan kembali dengan cepat karena ia benar-benar tidak menyukai acara-acara seperti itu.


Di pesta Hara menjadi sorotan karena penampilan gadis itu sangat cantik dan juga anggun. Beberapa pemuda berusaha memperkenalkan diri kepada gadis itu.


Donny juga mengenalkan Hara kepada beberapa dokter muda yang bekerja di rumah sakit miliknya. Ia berharap putrinya itu dapat menjalani hubungan dengan salah satu pria yang berprofesi sebagai seorang dokter seperti dirinya.


Namun, gadis itu hanya menanggapi dengan sopan para pria yang di kenalkan oleh sang ayah. Lagipula usianya baru dua puluh tahun, masih terlalu muda menurut Hara untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Di tambah saat ini hatinya telah di isi oleh satu nama. Nama yang selama tiga bulan ini tidak pernah dapat ia hapus dari hatinya, walau berbagai cara telah di lakukan oleh Hara.


"Bagaimana kabarmu Nona Nikki Hara Syahputra," sapa William menyebutkan nama lengkap gadis itu.


"Dokter William," balas Hara menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia merasa senang karena pada akhirnya ada seseorang yang ia kenal selain ayahnya di pesta tersebut.


"Ba-bagimana kau bisa ada di sini?" tanya Hara.


"Apa dokter Donny tidak memberitahumu bahwa mulai saat ini aku akan bekerja di sini?" tanya William membuat Hara menepuk pelan keningnya.


Ia lupa kalau beberapa hari lalu sang ayah pernah mengatakan bahwa dokter William akan bekerja di rumah sakit milik ayahnya.

__ADS_1


"Maaf aku lupa kalau Papi pernah bilang kau akan bekerja di sini," ucap Hara menyesal, namun di balas dengan senyuman di wajah tampan William.


"Tidak masalah, tapi sebagai penyambutan dapatkah aku memiliki kehormatan untuk mengajakmu berdansa Nona Hara?" tanya William membungkukan tubuhnya dengan tangan terulur meminta gadis itu untuk berdansa dengannya.


Hara menghela nafas, ia tidak bisa berdansa. Hal seperti ini bukan menjadi keahliannya. Lebih baik jika William mengajaknya untuk balap di sirkuit daripada harus mempermalukan diri untuk berdansa di hadapan orang banyak.


"A-aku tidak bisa dansa William," jawab Hara dengan suara kecil.


"Aku akan mengajarimu Hara, percaya padaku," ucap William mencoba meyakinkan gadis cantik di hadapannya.


William tetap menunggu Hara menyambut uluran tangannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa gadis itu pun menyetujui ajakan dansa William.


"Injak kakiku Hara!" titah William, dia yang akan memimpin dansa tersebut karena Hara telah mengatakan bahwa gadis itu tidak dapat berdansa.


"Tapi-" Baru saja Hara akan menolak, pria itu kembali meyakinkan Hara.


"Percaya padaku Hara," ucap William dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Akhirnya Hara pun menurut, ia menginjak kaki william dan mengikuti gerakan pria itu. Keduanya berdansa dengan begitu mesra dan juga terlihat serasi karena sang pria yang tampan dan sang wanita terlihat sangat cantik dan juga anggun, begitulah pemikiran beberapa orang yang menghadiri pesta itu.


"Hahaha, dokter Raymond bisa saja. Putriku masih terlalu muda," ujar dokter Donny juga melihat ke arah yang di tunjuk oleh wakilnya tersebut.


Benar yang dokter Raymond bilang, mereka berdua tampak serasi, gumam Donny dalam hatinya.


"Terimakasih telah mengajariku berdansa dokter William," ucap Hara setelah mereka menyelesaikan dansanya.


"Aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih kepadamu Nona Hara, kau mau berdansa dengan pria tua ini," ujar William membuat Hara tergelak mendengar ucapan pria itu.


Betapa cantiknya melihatmu tertawa Hara, andai aku bisa melihat tawamu setiap hari, batin William.


"Anda tidak terlalu tua dokter, setidaknya belum cukup untuk aku panggil kakek," kelakar Hara yang kali ini menyulut tawa William pecah.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan Donny tampak bahagia melihat interaksi yang terjadi antara putrinya dengan dokter William. Donny pun berpikir akan bagus seandainya William yang akan menjadi pasangan Hara. Dia adalah dokter yang kompeten dan pria yang dapat di andalkan. Senyum pun terbit di wajahnya yang sudah mulai menua.


Pagi harinya di salah satu Universitas swasta terkenal di Jakarta, Jordan datang dengan membawa serta Juan yang mulai hari ini akan melanjutkan pendidikannya di tempat itu.


"Uncle harap kau akan menyukai tempat ini," ujar Jordan di balas dengan senyuman dari pemuda tampan itu.


Aku pasti akan sangat menyukainya Uncle, apalagi di sini ada gadis yang aku cintai, gumam Juan dalam hatinya.


"Ayo, Uncle akan mengajakmu untuk bertemu dengan dosen pembimbingmu!" ajak Jordan. Selain sebagai pengusaha sukses pria itu juga adalah ketua yayasan pendidikan dan kampus tersebut merupakan salah satu yang berada di bawah naungannya.


Juan menganggukkan kepalanya mengikuti langkah Jordan dari belakang. Tidak berbeda dari kampus sebelumnya kehadiran pemuda tampan itu selalu menjadi sorotan para mahasiswi di sana. Apalagi Juan datang bersama dengan Prof. Jordan sang ketua yayasan yang selalu menjadi idola para mahasiswi karena ketampanannya. Walaupun usia pria itu sudah tidak muda lagi tetapi jejak ketampanan di masa mudanya tidak hilang begitu saja.


"Profesor Hardi, perkenalkan ini keponakan saya yang berasal dari New York," ucap Jordan memperkenalkan Juan kepada dosen pembimbing pemuda itu.


"Selamat pagi Profesor, saya Juan, mohon bimbingan Anda." Juan memperkenalkan diri dengan sopan.


"Selamat pagi Juan, senang kau bisa bergabung bersama dengan kami. Semoga kau dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengikuti pelajaranmu," ucap Profesor Hardi menyambut kedatangan Juan di kampus tersebut.


Setelah memperkenalkan Juan, Jordan pun kembali ke perusahaan karena hari ini ada rapat penting yang harus ia hadiri.


Profesor Hardi pun membawa Juan menuju kelasnya. Hari ini ia akan memperkenalkan Juan secara langsung karena ia yang akan mengajar di kelas pemuda itu hari ini.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Profesor Hardi kepada para mahasiswa dan mahasisiwi yang telah memenuhi isi kelasnya.


Beberapa mahasiswi berbisik melihat siapa yang datang bersama dengan dosen mereka. Seorang pemuda tampan yang akan membius siapa saja yang melihatnya.


Juan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan seseorang yang selama ini ia rindukan. Pemuda itu tersenyum saat melihat sosok Hara yang tengah seriis membaca bukunya tidak menhiraukan apa ucapan dosen yang baru saja datang.


"Kita kedatangan mahasiswa baru yang berasal dari New York," ucap profesor Hardi lantang di hadapan para mahasiswanya.


"Silakan perkenalkan dirimu Juan," bisik profesor Hardi.

__ADS_1


"Selamat pagi perkenalkan saya mahasiswa baru pindahan dari New York University dan nama saya adalah Juan Dinhara Pratama," ucap Juan dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


Hara mendongakan kepalanya begitu mendengar nama itu. Dan seketika tubuhnya menegang ketika melihat siapa yang berada di depan kelas.


__ADS_2