Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Juan sakit


__ADS_3

Hara masih terus menghubungi Juan, namun jawaban yang sama masih tetap di dapatkannya dari sang operator. Hara berguling di atas kasurnya. Ia benar-benar tidak nyaman karena terus-menerus memikirkan Juan.


Di kediaman Jordan, Joya menerobos masuk ke dalam kamar Juan karena tidak juga mendapat jawaban setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar sepupunya tersebut.


Joya berkacak pinggang melihat Juan yang tertidur bahkan tanpa melepas sepatunya. "Kak Juan benar-benar ya!" gerutu Joya sembari melepaskan sepatu dari kaki Juan.


Ketika Joya tengah melepaskan sepatu kakak sepupunya tersebut. Tiba-tiba ponsel Juan berdering. Joya melirik ke arah ponsel yang ada di atas nakas. Gadis kecil itu melihat ada nomor tidak di kenal yang menghubungi ponsel sepupunya itu.


Awalnya Joya tidak ingin mengangkat panggilan tersebut karena ia merasa tidak sopan jika mengangkat telepon milik sepupunya tersebut. Namun, karena nomor itu kembali menghubunginya, akhirnya Joya pun memberanikan diri untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," sapa Joya ketika ia mengangkat panggilan dari nomor tidak di kenal.


Hara membeku di tempatnya ketika mendengar suara seorang gadis yang mengangkat telepon Juan. Sebenarnya Hara ingin langsung memutuskan sambungan telepon tersebut, akan tetapi gadis itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan Juan setelah pemuda itu kehujanan karena telah menunggunya.


"Ha-halo," jawab Hara dengan sedikit gugup. "Apakah Juan ada?" tanya Hara setelah mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada wanita yang mengangkat telepon Juan.


"Ada, tapi sedang tidur." Joya menjawab sembari menyelimuti tubuh sepupunya karena ia melihat Juan sepertinya kedinginan.


"Ini siapa? Apa ada pesan? kalau ada katakanlah biar nanti aku sampaikan," ucap Joya menunggu jawaban dari Hara.


"A-aku teman kuliahnya," jawab Hara tidak menyebutkan alasannya menghubungi Juan.


"Baiklah terimakasih, maaf telah mengganggu." Hara langsung mematikan sambungan setelah selesai berkata. Bahkan ia tidak menunggu Joya untuk menjawabnya.


"Hemm ... baru saja aku ingin menanyakan namanya," gumam Joya. Gadis itu pun meletakkan kembali ponsel milik Juan ke atas nakas kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar pemuda itu.


Malam harinya, semua keluarga Mahendra berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Namun, tidak terlihat kehadiran Juan di sana.


"Di mana Juan, Bun?" tanya Jordan kepada istri tercintanya Sera.


"Sepertinya belum keluar kamar dari tadi pulang kuliah," jawab Sera yang memang belum melihat penampakan pemuda itu sejak Juan kembali dari kampusnya.


"Tadi sore Joy lihat Kak Juan sedang tidur," timpal Joya memberitahukan kedua orang tuanya apa yang ia lihat sewaktu ke kamar Juan.


"Daniel, coba kau panggil kakak sepupumu, bilang kita mmenunggunya untuk makan malam!" titah Jordan kepada putra sulungnya.

__ADS_1


"Baik Yah," jawab Daniel, pemuda itu melesat pergi ke kamar Juan untuk membangunkan sepupu lelakinya itu.


"Kak Juan, Kak!" panggil Daniel dari luar kamar sembari mengetuk pintu.


Cukup lama Juan mengetuk pintu kamar pemuda itu, namun tak ada pergerakan dari dalam. Daniel pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Juan.


"Kak, Kak Juan!" panggil Daniel melihat saudara sepupunya itu masih terlelap di tempat tidurnya.


Juan tidak bergerak, pemuda itu hanya mengerang seolah menahan sakit yang ia derita. Daniel pun segera menghampiri Juan, betapa terkejutnya Daniel ketika menyentuh kening kakak sepupunya dan merasakan panas yang begitu luar biasa.


"Ayah! Bunda!" seru Daniel dari kamar Juan yang berada di lantai dua rumahnya.


Daniel pun bergegas turun untuk memberitahukan keadaan Juan kepada kedua orang tuanya.


"Ayah, Bun!" panggil Daniel dengan nafas tersengal karena pemuda tersebut berlari cepat menuju ruang makan.


"Mengapa ribut sekali, ada apa Daniel?!" tanya Jordan tak senang putranya selalu saja tak bisa tenang walaupun di ruang makan.


"Kak Juan Yah," jawab Daniel mencoba mengatur nafasnya.


"Sepertinya Kak Juan sakit karena badannya panas sekali dan Kak Juan juga tidak bergerak ketika aku membangunkannya," jawab Daniel menjelaskan keadaan Juan kepada ayah bundanya.


"Apa?!" Jordan dan Sera segera bergegas menuju kamar Juan untuk memeriksa keadaan keponakannya tersebut.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu Juan?" tanya Sera ketika menyentuh kening keponakannya yang terasa panas.


"Kepalaku sakit sekali Aunty," jawab Juan lemah, bahkan ia tidak dapat melihat Sera dengan jelas hanya suaranya yang terdengar sayup-sayup di telinga Juan.


"Yah kita harus cepat membawa Juan ke rumah sakit!" ucap Sera benar-benar cemas dengan keadaan Juan.


"Aku tidak mau Aunty, jangan bawa aku ke rumah sakit. Cukup beri saja aku obat," tolak Juan, pemuda itu sudah trauma harus berurusan dengan rumah sakit sejak kecelakaan yang menimpanya.


"Tapi ini tidak bisa di biarkan Ju." Jordan yang berkata kali ini.


"Aku mohon Aunty," ratap Juan masih belum mau di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hemm, baiklah. Joya cepat ambil kotak obat!" titah Sera kepada putrinya.


"Tapi ingat Juan, kalau besok kau belum membaik juga kami akan membawamu ke rumah sakit," ucap Sera tegas.


"Bun, benar ini tidak apa-apa?" tanya Jordan masih khawatir dengan keadaan sepupunya itu.


"Ayah tenang saja, kita coba dulu pakai obat ini," ucap Sera menenangkan suaminya yang tengah panik.


"Ayo Juan, cepat minum obat dulu!" titah Sera membantu Juan untuk meminum obatnya.


"Juan pun dengan cepat meminum obat yang di serahkan oleh bibinya,


"Sekarang istirahatlah!" tukas Sera membetulkan selimut yang menutupi tubuh Juan.


Juan pun mengangguk kemudian pemuda itu memejamkan matanya. Sera segera mengajak suami dan kedua anaknya untuk meninggalkan kamar Juan agar pemuda itu dapat beristirahat.


Di kediaman Syahputra, Hara masih belum bisa tenang karena gadia itu belum dapat menghubungi Juan untuk menanyakan keadaan pemuda itu.


"Siapa ya, gadis yang tadi mengangkat telepon Juan?" Hara bertanya pada dirinya sendiri karena ia penasaran setelah mendengar suara wanita di telepon milik Juan.


"Apakah itu Nadine," gumam Hara.


Di saat gadis itu tengah memikirkan keadaan Juan, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.


"Nona ada yang mencari Anda," ucap bibi Emma dari luar kamar gadis itu.


"Siapa Bi?" tanya Hara membuka pintu sedikit dan mengintip dari celah.


"Dia bilang namanya William Nona," jawab Emma menbuat Hara terkejut kemudian mendengus kesal.


Saat ini yang ada dalam pikiran Hara adalah Juan dan dia tidak ingin di ganggu dengan hal-hal yang lainnya. Akan tetapi kini William datang dan itu sungguh menambah buruk suasana hatinya.


"Mengapa kau tidak turun Hara? Bukankah Emma telah mengatakan bahwa William menunggumu di ruang tamu," tegur Donny kepada putrinya karena Hara belum juga menemui William.


Hara tidak dapat membantah apa yang di katakan oleh ayahnya. Ia pun segera keluar dari kamar untuk menemui william walau dengan hati kesal.

__ADS_1


__ADS_2