
Sudah hampir dua jam hujan deras mengguyur kota Jakarta membuat Hara tidak dapat kembali ke rumah walaupun urusannya di perpustakaan telah selesai. hara kembali melirik jam yang emlingkar di pergelangan tangannya. Tiga puluh menit lagi berlalu dan hujan masih saja turun dengan derasnya.
Ponsel Hara berdering, ada satu nomor baru yang menghubunginya. Entah siapa lagi, tapi hatinya sangat berharap jika itu adalah Juan. Ia memikirkan pemuda itu, apakah Juan masih menunggunya?
Akan tetapi rasanya sangat tidak mungkin karena saat ini hujan turun dengan begitu derasnya dan Juan bukanlah orang bodoh yang akan tetap menunggunya di tengah-tengah hujan.
"Halo." Suara seorang pria terdengar begitu Hara mengangkat panggilan di telepon genggamnya. Akan tetapi ini bukan suara Juan, lalu siapakah ini? Hara bertanya dalam hatinya.
"Ini aku William." Kembali terdengar suara pria itu sebelum ia dapat melontarkan pertanyaan yang mengusik hatinya.
"Wi-Wiliam?" tanya Hara tak yakin , bagaimana dokter tampan itu mendapatkan nomornya?
"Dokter Donny yang memberikan nomor ponselmu," ucap William seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Hara membuat gadis itu beranggapan bahwa William bukanlah seorang dokter melainkan seorang cenayang yang dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya.
"Oh, apa apa dokter?" tanya Hara tidak tahu maksud pria itu menghubunginya.
"Apakah kau masih di kampus?" tanya William, "Dokter Donny memintaku untuk menjemputmu," ujar William.
"Tidak perlu dokter," tolak Hara, ia memang tidak ingin merepotkan siapapun. "Aku dapat memesan taksi," imbuh gadis itu.
"Tidak apa Hara, kebetulan aku akan lewat depan kampusmu. Lima belas menit lagi aku tiba, kau tunggu saja di depan gerbang," ucap William langsung menutup teleponnya bahkan sebelum Hara sempat memberikan jawaban.
Hara membuang nafas kasar, kenapa pula Papinya harus memberikan nomor ponselnya kepada William bahkan meminta pria itu untuk menjemputnya. Ia memang mengenal william tetapi tidak terlalu akrab juga sehingga gadis itu tidak ingin menyusahkan pria itu.
__ADS_1
Lima belas menit telah berlalu, Hara masih tetap di tempatnya tidak mengikuti apa yang di katakan oleh William untuk menunggunya di depan gerbang. Saat ini hujan sudah mulai reda, namun tidaak berhenti sepenuhnya. Gerimis masih menghiasi kota Jakarta membuat sebagian orang mungkin enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman.
Ponsel Hara kembali berdering dan nomor William kembali muncul di layar.
"Kau di mana? Aku sudah tiba di depan kampusmu," ucap william begitu Hara mengangkat panggilannya.
"Tunggu sebentar, aku akan keluar," sahut Hara dengan nada malas.
"Tidak perlu, di luar masih hujan. aku yang akan mendatangimu," William berkata sambil keluar dari mobilnya dengan membawa payung untuk melindungi Hara dari tetesan air hujan.
"Kau ada di gedung yang mana?" tanya william karena ada tiga bangunan gedung di wilayah kampus tersebut.
"Di gedung tengah," jawab Hara, sebenarnya ia tidak ingin memberitahukannya akan tetapi karena william sudah berada di wilayah kampus. Dengan terpaksa gadis itu mengatakan kepada William di mana tempatnya berada kini.
Gadis itu berjalan semakin lambat dan kemudian Hara menghentikan langkahnya tiba-tiba begitu melihat Juan berdiri tak jauh dari tempatnya dalam keadaan basah kuyup.
Apakah ... apakah ia menungguku? Apakah ia tetap menunggu dalam derasnya hujan? tanya Hara dalam hatinya.
Hara menggigit bibir bawahnya melihat kenyataan itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Juan cukup keras kepala dengan tetap menunggunya di bawah guyuran hujan hingga tubuhnya basah kuyp seperti itu.
Juan melangkah menghampiri Hara, matanya menatap tajam ke arah gadis yang tega memperlakukannya seperti ini. Selama ini Juan selalu di puja-puja oleh para gadis, tetapi kini demi Hara ia melakukan tindakan bodoh menunggu gadis itu dan berharap Hara akan datang sehingga ia tidak bergeming dari tempatnya menunggu walau hujan deras mengguyur seluruh tubuhnya.
Hara menahan nafas melihat Juan menghampirinya, jujur gadis itu merasa bersalah. Andai kata ia tahu bahwa Juan cukup keras dengan kemauannya tentu ia akan menemui pemuda itu dan mencari tahu apa yang di inginkan Juan dengan terus mengejarnya.
__ADS_1
"Hara, ayo kita pulang. Dokter Donny telah menunggu," ucap William menyentuh lengan gadis itu membuat Juan menghentikan langkahnya.
Hara terkejut mendapati William kini telah berada di sisinya dan menggandeng tangannya untuk pergi keluar meninggalkan kampus.
Tangan Juan terkepal erat, matanya terus mengikuti langakah Hara yang mulai di bawa menjauh darinya. Nampaknya William tidak menyadari kehadiran Juan, bahkan ketika melewati pemuda itu william tetap melangkah tanpa manyapa Juan walau sebenarnya mereka telah saling mengenal
Hara menundukkan kepalanya, gadis itu tidak berani menatap Juan yang memandangnya dengan tatapan terluka. Ia benar-benar merasa bersalah kepada pemuda itu.
"Oh Juan, apa yang terjadi denganmu?" tanya seorang gadis yang merupakan teman satu kelas mereka. Gadis itu segera membuka jaket yang di pakainya dan menyampirkannya di bahu Juan yang tampak basah kuyup.
"Tidak perlu," tolak Juan mengembalikan jaket kepada sang pemiliknya.
"Juan, tapi kau bisa sakit," ujar gadis tersebut namun Juan tetap tidak menghiraukannya. Pemuda itu terus menatap kepergian Hara dengan sejuta luka yang di rasakannya.
"Apa yang kau lihat Juan, ayo ikut aku! Sebaiknya kau ganti bajumu sebelum kau sakit," ucap gadis itu lagi mencoba menarik tangan Juan.
"Hentikan Nadine, aku hanya ingin pulang!" tukas Juan kepada gadis manis yang ternyata sepupunya itu.
Nadine adalah anak dari Aunty Nadhya dan juga Uncle Joshua yang hanya berselisih satu tahun setengah usianya dengan Juan. Gadis itu juga kuliah di kampus yang sama dengan Juan atas rekomendasi yang di berikan oleh Uncle Jordan.
Walau Hara sudah melangkah sedikit jauh, namun ia masih dapat mendengar sayup-sayup kata-kata khawatir yang keluar dari mulut Nadine. Ia tahu siapa gadis itu, tapi sepertinya Juan sangat mengenalnya. Tiba-tiba Hara merasakan sedikit sesak di dadanya melihat kenyataan baru hari pertama Juan di kampus ia sudah mengenal gadis secantik Nadine. Bahkan gadis itu tampak begitu khawatir melihat keadaan Juan.
"Apa kau mau mampir terlebih dahulu untuk makan sesuatu?" tanya William membuka percakapan ketika mereka telah berada di dalam mobil milik pria tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak lapar dan aku hanya ingin cepat-cepat pulang," jawab Hara menolak halus ajakan William. Gadis itu pun memejamkan matanya berpura-pura tidur karena ia tidak ingin melakukan pembicaraan dengan william.