
Untuk memiliki mata yang cantik, cukup lihatlah kebaikan orang lain.
Untuk memiliki bibir yang indah, selalu berkatalah dengan kebaikan.
Dan untuk sebuah ketenangan diri, tetap berjalanlah dengan pengetahuan bahwasanya kamu tidak pernah sendiri.
~Ay Alvi~
Karena terlalu lelah Juan pun merebahkan kepalanya di sisi tempat tidur Hara. Masih dengan setia menggenggam tangan gadis itu, Juan memejamkan matanya dan tak lama kemudian pemuda itu pun terlelap dalam tidur yang membawanya ke alam mimpi.
Hara mengerjapkan matanya, melihat keadaan sekeliling yang tampak putih dan terang. Hanya saja berbeda dengan yang tadi di lihatnya. Entah ini bagian dari mimpinya atau bukan, yang jelas tadi ia sempat bertemu dengan sang bunda. Ia mencoba berlari mengejar sang ibu yang terus meninggalkannya menuju sebuah cahaya putih yang bersinar teramat terang.
Namun, kini yang di lihatnya berbeda. Ruangan berwarna putih itu tampak hangat dan nyaman. Cahaya terang yang masuk ke dalam pun terhalang tirai yang juga berwarna putih cerah.
Hara mencoba menggerakkan tangannya, namun ada sebuah beban yang menahannya. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya, ternyata tangannya tengah di genggam erat oleh seseorang dan orang itu adalah Juan.
Pemuda itu tampak terlelap sembari menggenggam tangan Hara, membuat gadis itu kesulitan untuk menggerakkan tangannya.
Hara mencoba menarik tangannya perlahan, sebisa mungkin untuk tidak menggangu tidur Juan karena sepertinya pemuda itu terlihat lelah.
Namun, baru saja gadis itu sedikit bergerak tiba-tiba Juan pun membuka matanya, membuat Hara gugup dan menghentikan gerakannya.
"Kau sudah sadar?" tanya Juan dengan suara serak khas bangun tidur yang membuatnya terdengar lebih seksi di telinga Hara.
Hara tak menjawab, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. Matanya menatap Juan yang terlihat sangat tampan, walau dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
Pemuda itu mencium punggung tangan Hara yang sedari tadi masih di genggamnya. Juan merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya gadis itu telah sadar.
Hara yang merasa gugup mencoba untuk menarik tangannya dari genggaman Juan, namun pemuda itu tak mau melepaskannya malah semakin erat Juan menggenggam tangan gadis itu.
"Terimakasih," ucap Juan membuat Hara menatapnya dengan intens.
"Terimakasih telah menyelamatkanku," tambah Juan, pemuda itu sadar ia berhutang nyawa pada Hara.
__ADS_1
"Dan terimakasih telah kembali lagi kedua ini," ucap pemuda itu membuat Hara menatapnya dengan keheranan.
"Ma-maksudmu?" tanya Hara tak mengerti arti dari ucapan terimakasih Juan yang terakhir.
Sebelum Juan sempat menjawab pertanyaan gadis itu, datang dari arah luar satu orang dokter dan dia orang perawat yang akan memeriksa keadaan Hara.
"Selamat pagi!" sapa Dokter William yang akan memeriksa Hara. Dokter muda yang tampan itu adalah putra dari pemilik rumah sakit tempat Hara di rawat.
"Pagi Dok!" jawab Hara tersenyum membuat gadis itu terlihat cantik walau dalam keadaan sakit.
Sementara itu Juan hanya diam tidak menjawab sapaan William, entah mengapa hatinya merasa kesal melihat Hara tersenyum kepada seorang pria. Pemuda itu merasa tidak rela Hara menjawab sapaan William bahkan di sertai dengan senyuman yang membuat gadis itu terlihat sangat manis.
Manis? Tunggu-tunggu sejak kapan Juan mulai menganggap gadis cupu di hadapannya ini berubah menjadi manis? Tidak benar, tidak, Hara tidak hanya manis tetapi juga terlihat cantik tanpa kacamata tebal yang menghalangi mata indahnya tersebut.
Oh, tidak, mengapa kini semua yang ada di pikiran Juan adalah tentang Hara? Pemuda itu mengetuk pelan kepalanya, bermaksud membuyarkan semua lamunan yang ada di dalam otak dan pikirannya.
"Halo Nona ... Nikki Hara Syahputra," sapa Dokter William setelah memastikan nama Hara yang ada di atas kertas laporannya.
"Perkenalkan saya William, Dokter yang akan menangani Anda selama dalam proses penyembuhan," ucap Dokter William memulai untuk memeriksa keadaan gadis itu.
"Kondisi Anda sudah baik Nona," ucap William lembut, Dokter muda itu telah selesai memeriksa keadaan Hara.
"Istirahat yang benar, makan dan minum obat sesuai aturan serta turuti semua yang di katakan oleh para perawat," pesan William, ia memberi wejangan sembari menjabat tangan Hara.
"Terimakasih Dok," jawab Hara menyambut jabatan tangan William dengan sopan.
Juan yang tak tahan melihat basa-basi kedua orang tersebut segera menarik tangan Hara, lalu menggantikannya menjabat tangan Dokter William.
"Sekali lagi terimakasih Dok dan seperti yang Dokter bilang kekasih saya butuh istirahat yang benar," ucap Juan dengan menekankan kata kekasih pada kalimat yang di ucapkannya.
Hara membelalakan matanya mendengar ucapan pemuda itu, sejak kapan ia menjadi kekasih Juan? Apakah otak pemuda itu bermasalah? Berbagai pertanyaan muncul di benak Hara setelah mendengar apa yang Juan katakan pada Dokter William.
Dokter William tersenyum mendengar ucapan Juan, ia mengerti bahwa Juan dan Hara sedang dalam masa-masa romantisme remaja beranjak dewasa. Sehingga ia pun paham akan sifat posesif yang di tunjukkan oleh pemuda tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter William.
"Semoga Anda lekas sembuh Nona," ucap Dokter William kembali menebar senyum manisnya yang membuat wajah pria itu terlihat lebih tampan.
Hara menganggukkan kepalanya, saat ini gadis itu tidak dapat menanggapi ucapan Dokter William karena Juan menatap tajam ke arahnya dan Hara sendiri masih sedikit syok mendengar perkataan Juan yang menyebutnya sebagai kekasih.
"Mengapa kau bilang Aku adalah kekasihmu?" protes Hara ketika Dokter dan para perawat telah meninggalkan ruangan tersebut dan hanya tersenyum tersisa mereka berdua di sana.
"Tidak apa-apa," jawab Juan acuh membuat Hara memutar bola matanya dengan malas.
"Aku bukan kekasihmu Juan," ucap Hara kesal.
"Aku tahu," sahut Juan dingin, pemuda itu seolah menganggap tak ada yang salah dengan ucapannya, Juan kini malah berfokus pada ponsel miliknya.
Hara berdecak kesal, gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia kesal dengan sikap Juan yang seenaknya menyebutkan ia adalah kekasih pemuda tersebut. Gadis itu pun menarik kembali selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya bahkan hingga ujung kepalanya. Hara tidak ingin melihat Juan, gadis itu sangat kesal dan ini adalah satu bentuk protes dari Hara.
Sementara itu Juan hanya dapat menggelengkan kepala melihat Hara yang tengah merajuk kepadanya. Bukan ia tidak ingin memberi jawaban yang benar atas pertanyaan Hara, hanya saja pemuda itu sendiri tidak tahu mengapa ia sampai bisa menyebut Hara adalah kekasihnya di hadapan Dokter William dan para suster tadi.
Entah mengapa Juan merasa kesal begitu melihat Hara melemparkan senyuman manis kepada pria lain selain dirinya. Pemuda itu juga tidak ingin ada orang yang memberi perhatian kepada Hara.
Hanya dia dan hanya dia yang boleh memberi perhatian pada gadis itu dan juga mendapatkan senyuman manis dari gadis yang kini tengah merajuk kepadanya tersebut.
Juan menghela nafas, memijit ruang di antara alisnya, ia sendiri merasa kebingungan dengan apa yang tengah di rasakannya pada gadis itu.
******
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU dan untuk yang telah memberikan like, coment dan Votenya ay ucapkan terimakasih.
Ay cuma mau ingetin sama kalian bahwa Ay nanti akan buat cerita tentang kakak kembar Juan yaitu Aiden dan Zeline dalam extra chapter di novel yang berjudul TAKDIR CINTA.
Jadi buat kalian yang penasaran dengan kisah mereka, silakan baca TAKDIR CINTA dan masukkan ke dalam favorit Anda.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘
__ADS_1