Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Ayah dari anak Emily


__ADS_3

Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, namun percayalah, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.


~Ay Alvi~


"Apa benar anak yang kau kandung adalah darah daging Juan?" tanya Ziga untuk yang terakhir kalinya sebelum pria itu memutuskan apa yang akan di lakukan kelas Emily.


Hening beberapa saat setelah Ziga mengajukan pertanyaan kepada Emily. Tidak ada satupun suara di antara mereka. Ziga menanti jawaban pasti dari gadis yang saat ini tampak tengah berpikir keras.


"Apa jawabanmu Nona?" Ziga kembali bertanya karena gadis itu belum juga memberi jawaban atas pertanyaannya.


"I-Ini ... Ini ...." Emily tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan dari ayah tiga orang anak itu. Ia dilema antara harus jujur atau malah menambah lagi daftar kebohongannya. Namun, masih teriang di ingatannya tentang ancaman yang di keluarkan oleh Ziga.


Emily menarik nafas dalam-dalam kemudian memejamkan matanya.


"Ini adalah anak Juan, Tuan," jawab Emily lirih, gadis itu masih tetap memegang teguh kebohongan yang sedari awal telah ia buat.


Ziga membuang nafas kasar, pria itu tidak habis pikir mengapa Emily begitu bersikeras dengan kebohongannya.


"Baiklah, aku telah memberi pilihan padamu dan kau tetap memilih hal yang sama. Jadi sebaiknya kau tak tidak menyesal!" tegas Ziga membuat Emily bergetar ketakutan.


"Bawa dia masuk!" perintah Ziga berteriak kepada Marco yang saat ini berada di luar ruangan.


Marco pun kembali masuk ke dalam ruangan tersebut, namun kali ini ia tidak sendirian. Anak buah Ziga itu membawa seorang pria bersamanya yang membuat Emily membelalakan mata terkejut saat melihat siapa yang di bawa oleh Marco.


"Apa kau mengenal Nona ini Tuan?" tanya Ziga kepada pria yang baru saja di bawa masuk oleh Marco.


"Aku mengenalnya Tuan, dia adalah kekasihku," jawab pria tersebut menjawab pertanyaan Ziga.

__ADS_1


"Bohong, itu tidak benar!" pekik Emily membantah pernyataan pria yang baru saja di bawa masuk itu.


"Mengapa kau menyangkal Emily, bahkan anak yang kau kandung itu adalah anak kita," tukas pria itu membuat Emily kembali berteriak histeris menyangkal semua yang di katakan oleh pria tersebut.


"Tuan, jangan percaya! Itu semua tidak benar. Aku bahkan tidak mengenalnya," ujar Emily bersimpuh di kaki Ziga berusaha membujuk agar ayah kandung Juan itu mempercayai apa yang di katakannya.


"Aku punya bukti-buktinya Tuan," sahut pria itu geram karena Emily tidak mau mengakui hubungan mereka. Ia pun menyerahkan ponselnya kepada Marco yang kemudian segera memberikan kepada Ziga yang masih duduk santai di atas kursinya.


Ziga pun melihat ponsel pria tersebut di mana di dalamnya terdapat photo-photo keduanya dan juga video yang sama seperti yang telah di putar di layar besar tadi. Bahkan ada juga video saat pria itu dan Emily tampak bergembira memeriksakan kehamilan gadis itu ke salah satu dokter kandungan.


Ia pun mengembalikan ponsel itu kepada Marco dan meminta anak buahnya tersebut untuk memproyeksikan gambar-gambar yang terdapat di dalam ponsel ke layar besar yang ada di hadapan mereka.


"Apa kau masih mau menyangkal Nona?" tanya Ziga ketika di layar telah terpampang apa yang sudah di lihatnya tadi.


"I-itu, itu ... bohong Tuan, itu bukan fotoku," ucap Emily masih saja berusaha menyangkal.


"Em, hentikan!" ucap pria tersebut menarik Emily ke dalam pelukannya, ia berusaha menenangkan gadis yang kini tengah mengandung anaknya tersebut.


"Nona, karena kau masih saja tidak mau mengatakan yang sebenarnya maka jangan salahkan keputusanku!" tukas Ziga segera memberi isyarat kepada Marco untuk membawa gadis itu ke tempat yang telah ia tentukan.


Marco pun segera menarik paksa Emily yang saat ini masih menangis di dalam pelukan pria yang mengaku sebagai kekasih gadis itu.


"Ahh ... apa yang kalian lakukan?" Emily histeris berusaha melawan, ia tidak ingin di bawa pergi oleh Marco.


"Tuan, aku mohon lepaskan dia," pinta pria itu, walau Emily menolaknya tetap saja ia membela gadis yang kini tengah mengandung darah dagingnya itu.


"Dia sendiri yang memilih jalan ini, bahkan dia tidak mengakuimu," ujar Ziga acuh, pria itu kembali menyulut rokok di tangannya.

__ADS_1


"Aku mohon Tuan, dia sedang mengandung," ucap pria itu kali ini dengan bersimpuh di bawah kaki Ziga.


Sementara itu Emily terus berteriak histeris, namun tetap saja Marco tidak memperdulikannya. Pria itu membawa gadis yang kini berteriak dan meronta-ronta ke dalam sebuah ruangan di bawah tanah kemudian menguncinya agar gadis itu tidak dapat melarikan diri.


"Bangunlah!" titah Ziga kepada pria yang masih bersimpuh di hadapannya memohon agar Emily di bebaskan.


"Tidak Tuan, aku akan terus bersimpuh di sini sebelum Anda melepaskan Emily," jawab pria itu tetap pada pendiriannya.


Ziga menggelengkan kepalanya, ia kagum atas keteguhan pemuda itu yang masih saja membela Emily walau jelas-jelas gadis itu tidak mengakui hubungan mereka. Ia menepuk bahu pemuda itu pelan, kemudian memberi nasihat kepada pemuda yang sepertinya berumuran sama dengan Aiden putra sulungnya.


"Sebaiknya kau pikirkan lagi anak muda, gadis itu bahkan tidak mengakuimu sebagai ayah dari anak yang di kandungnya," ucap Ziga sesuai dengan apa yang di katakan Emily tadi.


"Apa kau tidak merasa sakit hati?" tanya Ziga kepada pemuda itu.


Pemuda itu terdiam, ia memikirkan kata-kata Ziga. Sakit hati? Tentu saja dia merasakan hal tersebut, hanya saja ia lebih memikirkan anak yang di kandung Emily yang merupakan darah daging miliknya.


"Aku harap kau bisa mengubah gadis itu," ucap Ziga.


"Jika kau memang mencintainya, aku akan mengirim kalian untuk tinggal di pulau, kau bisa menjaga gadis itu dan juga anakmu," tambah Ziga menjelaskan rencananya kepada kekasih Emily.


Ia bukanlah pria yang kejam, walau Emily bersalah dan berbohong kepadanya, tetapi kondisi gadis itu yang tengah mengandung membuat Ziga tidak dapat berbuat kasar atau kejam terhadap gadis itu. Ia sengaja mengirim Emily ke pulau karena tidak ingin nantinya gadis itu kembali menganggu Juan.


Namun, ia juga tidak mungkin membiarkan gadis itu seorang diri di sana. Apalagi dalam masa kehamilannya ia pasti memerlukan seseorang yang mendampinginya. Hal itu yang membuat Ziga iba dan akhirnya memutuskan untuk mengirim keduanya ke pulau.


Mungkin, jika mereka berada di tempat yang sama, hal itu dapat merubah Emily dan mengakui siapa sebenarnya ayah dari Janin yang tengah di kandungnya.


"Aku mencintainya Tuan dan aku berjanji akan merubah Emily, jadi tolong beri kami kesempatan," ucap pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2