Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Hara keceplosan


__ADS_3

Hidup itu sederhana, asal kita tidak bersikeras untuk menjadikannya rumit.


~Ay Alvi~


"Sudah! Kalian jangan ribut lagi," tukas Hara, beralih kembali ke motornya dan bersiap untuk pergi meninggalkan Farrel dan Jodi yang masih sama-sama bersikeras dengan pendapatnya.


"Kau mau kemana?" tanya Farrel dan Jodi berbarengan keduanya terkejut karena Hara langsung memacu laju motornya tanpa menjawab pertanyaan keduanya.


Hara melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Juan. Bagaimanapun juga gadis itu merasa sedikit bersalah kepada pemuda yang akhirnya terlibat kecelakaan karena taruhan yang mereka buat.


Apalagi sebenarnya ia juga menyukai Juan, hanya saja gadis itu tidak ingin Juan berpikir dapat dengan mudah untuk mendapatkan hatinya. Pemuda itu telah terbiasa di puja-puja oleh para gadis, oleh karena itu ia ingin Juan merasakan bagaimana rasanya jika ia yang harus berjuang untuk mendapatkan cinta seseorang.


Sementara itu di rumah sakit, Juan masih dengan keras kepala menolak untuk makan dan juga minum obat. Bahkan hingga sang Mommy, Via turun tangan untuk membujuk pemuda itu tetap tidak bergeming. Ia bahkan memarahi dokter yang melaporkan kejadian ini kepada orang tuanya.


"Apa yang harus kita lakukan Dad?" tanya Via menghela nafas dengan sikap putra bungsunya tersebut. Biasanya Juan sangat mudah di atur, namun entah mengapa kali ini sikap pemuda itu sangat berbeda. Apa yang terjadi sebenarnya Via sendiri tidak mengerti.


Ziga tampak berpikir sebentar, apakah Juan telah mengetahui masalah Emily sehingga membuat pemuda itu menjadi pemarah seperti sekarang atau ada masalah yang lainnya yang membuat putra bungsunya itu berubah.


"Aunty, Uncle! Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Hara begitu tiba di rumah sakit dan melihat kedua orang tua Juan itu berada di luar ruangan tempat pemuda itu di rawat.


"Untung kau datang Hara, cepat bujuk Juan," ucap Via meraih tangan gadis itu memohon kepada Hara agar mau membujuk putra bungsunya.


"Sebenarnya ada apa?" Hara kembali bertanya, ia bingung kenapa sedari tadi orang-orang terus meminta padanya agar dapat membujuk pemuda yang kini tengah berada di dalam kamar rawatnya tersebut.


"Juan menolak untuk makan dan juga minum obatnya, bahkan ia memarahi semua orang yang berusaha untuk membujuknya," jawab Via, wanita itu sedih dengan sikap sang putra yang sangat di sayanginya itu.

__ADS_1


Hara menghela nafas, ia bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya terjadi pada Juan. Apakah Juan melakukan itu karena kesal kalah taruhan dengannya atau pemuda itu sengaja agar mendapat perhatian darinya karena sedari awal Juan memang ingin dirinya menemani dan merawat pemuda itu.


"Biar aku coba untuk membujuk Juan, Aunty," ucap Hara yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Via.


"Terimakasih sayang, semoga Juan mau mendengarkanmu," ucap Via yang berharap putra bungsunya tersebut mau mendengarkan perkataan Hara. Sampai dengan saat ini Via hanya tahu jika gadis itu dan putranya merupakan sepasang kekasih.


Ibu tiga orang anak itu tidak tahu jika hubungan Juan dan Hara hanya sebatas pasangan pura-pura, bahkan kini Hara telah memutuskan untuk mengakhiri sandiwara mereka. Yang ada dalam pikiran Via adalah ia sangat bahagia seandainya kedua anak itu berjodoh yang artinya ini akan mempererat tali persaudaraan dirinya dan juga Donny yang merupakan kakak kelasnya sewaktu di SMA.


Hara menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki kamar Juan, ia berdoa dalam hatinya di depan sebelum tangannya memegang handle pintu kamar pemuda itu.


"Sebaiknya kalian pergi! Aku sudah bilang kalau aku tidak akan makan!" tegas Juan begitu mendengar suara pintu terbuka tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.


Hara tidak menjawab, gadis itu tetap melangkah mendekati Juan yang kini menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut menolak untuk melihat siapapun.


"Sepertinya bubur ini sangat enak, kalau kau tidak mau biar aku yang habiskan," ucap Hara yang kini telah duduk di kursi samping ranjang Juan dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Kau mau makan atau tidak?" tanya Hara menyodorkan sesuap bubur ke arah pemuda yang kini duduk bersandar di kepala ranjang.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Juan balik bertanya kepada gadis itu tanpa menjawab pertanyaan Hara.


"Cepat buka mulutmu! Nanti aku akan jawab pertanyaanmu," ucap Hara memerintahkan pemuda itu membuka mulut dan menerima suapan bubur darinya.


Pemuda itu pun menurut, ia membuka mulut dan mulai mencerna bubur sesendok bubur dari tangan Hara.


"Bukankah tadi kau bilang tidak mau merawatku?" tanya Juan heran, tapi pemuda itu masih tetap menerima bubur yang Hara sodorkan ke mulutnya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak ingin," jawab Hara asal, gadis itu tidak tahu jika jawaban yang terlontar dari mulutnya membuat nafsu makan Juan terhenti sudah.


"Aku sudah kenyang," tolak Juan, padahal baru sekitar tiga sendok bubur yang masuk ke perut pemuda itu.


Hara mengernyitkan alisnya mendengar penolakan Juan, gadis itu menyadari bahwa pemuda di hadapannya kini tengah merajuk. Sekilas Hara merasa lucu melihat tingkah dan sikap Juan, namun gadis itu berusaha sebisa mungkin untuk menahan tawanya agar Juan tidak tambah marah.


"Yakin, kau tidak mau makan lagi?" tanya Hara memancing pemuda yang ada di hadapannya kini. Juan memasang tampang dingin yang mengerikan.


"Untuk apa? Tidak ada juga yang perduli padaku?" tanya Juan yang akhirnya memecah tawa Hara.


Gadis itu tergelak mendengar pertanyaan Juan. Pemuda itu berkata tidak ada yang perduli kepadanya padahal sebaliknya ia sendiri yang tidak ingin di perdulikan. Buktinya, Juan menolak ketika para perawat dan juga dokter membujuknya, bahkan pemuda itu tidak menghiraukan ketika kedua orang tuanya juga berusaha menasehatinya.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Juan tak senang melihat Hara terbahak-bahak ketika ia sendiri tengah merasa kesal.


"Kau," jawab Hara menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya karena gadis itu tertawa terlalu keras.


"Aku? Ada apa denganku?" Juan kembali bertanya dengan menunjuk dirinya sendiri, ia semakin kesal karena dengan jelas Hara mengakui bahwa gadis itu tengah menertawakannya.


"Tuan Juan Dinhara Pratama yang terhormat, sebenarnya bukan tidak ada yang perduli padamu, justru kaulah yang tidak ingin di perdulikan oleh orang lain," jelas Hara membuat Juan menautkan kedua alisnya mendengar penjelasan gadis yang menolak menjadi kekasihnya itu.


"Jika semua orang perduli padaku, itu berarti termasuk kau? Kau benar perduli padaku kan?" tanya Juan dengan mata berbinar karena pada akhirnya ia tahu kalau Hara memang perduli kepadanya.


"Tentu saja aku perduli padamu," jawab Hara keceplosan, gadis itu segera menutup mulut dengan kedua tangannya berharap dapat menarik kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Mendengar jawaban Hara membuat hati Juan senang, pemuda itu segera menarik tubuh Hara ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sudah aku duga, kau pasti perduli padaku, kau pasti mencintaiku," ucap Juan penuh keyakinan membuat Hara menyesali apa yang baru saja di ucapkannya.


__ADS_2