Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Provokasi Hara


__ADS_3

Cinta yang baik adalah yang selalu mendekatkan kepada kebaikan, saling menerima, dan saling menguatkan, bukan menjerumuskan.


~Ay Alvi~


"Aku juga tidak yakin Uncle," ujar Hara mengemukakan pendapatnya kepada Ziga tentang anak yang di kandung oleh Emliy.


"Apa tidak sebaiknya Uncle tanyakan langsung pada Juan," saran Hara karena saat ini hanya pemuda itulah yang mengetahui jawaban atas pernyataan Emily.


Ziga menghela nafas berat, benar memang apa yang di katakan oleh Hara, ia sebaiknya bertanya langsung kepada putra bungsunya tersebut. Akan tetapi, saat ini di kamar Juan ada Via istrinya, ia tidak ingin membuat Via khawatir dan juga marah begitu mendengar Juan telah menghamili anak orang.


"Sebaiknya kau habiskan makananmu, lalu kita kembali ke ruangan Juan," ujar Ziga meminta Hara untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa di meja.


"Aku sudah kenyang Uncle," jawab Hara yang sebenarnya sudah tidak sabar menemui Juan untuk mengetahui keadaan pemuda itu.


Di pinggiran kota New York, lebih tepatnya di markas milik Marco. Pria itu tengah mengamati photo-photo Emily yang ia dapat dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk mencari tahu tentang gadis itu.


Ternyata selama ini gadis itu berhubungan dengan banyak laki-laki. Bukan hanya itu saja, Emily pun sering menggunakan obat-obatan terlarang dalam kesehariannya. Marco menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir mengapa Emily bermain api dengan menjerat tuan kecil mereka.


Marco pun segera mengambil ponselnya bergegas untuk menghubungi Ziga melaporkan apa yang baru saja di ketahuinya. Tapi, sebelum menghubungi Ziga, Marco terlebih dahulu menghubungi Dom. Ia meminta anak buahnya itu untuk mengawasi dengan benar gerak-gerik Emily. Marco tidak ingin gadis licik itu mengambil kesempatan dari pengakuan kehamilannya tersebut.


Kembali ke rumah sakit, akhirnya Hara dapat menemui Juan yang saat ini tengah di temani oleh sang bunda di dalam kamar. Gadis itu begitu prihatin dengan keadaan pemuda yang saat ini tengah terbaring lemah di hadapannya.


"Dad, ayo kita keluar!" ajak Via kepada suaminya.


"Sebaiknya kita berikan kesempatan mereka untuk berbicara," tambah wanita itu yang di jawab anggukan setuju oleh Ziga, pria itu memberi isyarat kepada Hara agar gadis itu berusaha bertanya kepada Juan perihal masalah Emily.


Sepasang suami istri itu pun segera pergi meninggalkan Hara dan Juan di kamar rawat pemuda itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Hara berjalan mendekati Juan yang terbaring dengan sebelah kaki tergantung di atas.


"Seperti yang kau lihat sendiri," jawab pemuda itu mencoba untuk bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.


Melihat pergerakan Juan yang sedikit susah membuat Hara tidak tega. Gadis itu pun membantu Juan untuk duduk agar pemuda tersebut lebih nyaman.


"Ternyata aku tidak bisa mengalahkanmu," ucap Juan kecewa karena pada akhirnya ia tidak dapat memenangkan tantangan yang di ajukan oleh Hara.


"Itu bukan yang terpenting sekarang, yang harus kau pikirkan adalah tentang kesehatanmu," ucap Hara tidak ingin membahas tentang perjanjian mereka.


"Tapi bagiku itu penting karena aku ingin kau menjadi kekasihku," ucap Juan sembari menatap lekat-lekat gadis yang kini duduk di kursi sebelah ranjangnya.


Hara memutar bola matanya, gadis itu malas mendengar gombalan yang terlontar dari mulut Juan. Ia kembali teringat tentang Emily yang katanya tengah mengandung anak dari pemuda itu.


"Kekasihmu? Apa kau pikir aku mau menjadi perebut suami orang?" cibir Hara membuat Juan menyatukan kedua alisnya.


"Suami? Apa maksudmu?" tanya Juan tak mengerti apa maksud perkataan gadis itu.


"Kau jangan bicara sembarangan!" tukas Juan kesal karena Hara menuduhnya yang tidak-tidak.


"Aku tidak bicara sembarangan," bantah Hara karena ia memang mengatakan apa yang di ketahuinya.


"Emily sendiri yang mengatakan jika ia tengah mengandung anakmu!" ujar Hara tak mau kalah. Walau ia percaya Juan tidak mungkin melakukan hal seperti itu, tapi ia sengaja memancing emosi pemuda tersebut untuk mengetahui reaksi Juan.


"Aku tidak pernah menyentuh Emily, bagaimana mungkin ia bisa mengandung anakku?!" Juan semakin marah mendengar Emily yang mengatakan kebohongan itu. Ia bahkan hampir saja bangun dari tempat tidur untuk secepatnya pergi menemui Emily.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Hara ketika Juan berusaha untuk melepaskan kakinya yang masih tergantung di atas.

__ADS_1


"Aku akan memberi pelajaran pada Emily agar ia tidak akan pernah lagi mengucapkan kebohongan dari mulutnya!" ketus Juan emosi.


"Hentikan! Kau pikir bisa pergi dengan keadaan seperti ini?" ejek Hara, gadis itu terus memprovokasi Juan membuat pemuda itu semakin kesal.


Bukan tanpa alasan Hara terus memprovokasi Juan, ia tidak ingin pemuda itu merasa terpuruk atas kejadian yang di alaminya. Apalagi kini kondisi kakinya yang cukup parah membuat pemuda itu tidak akan dapat berjalan setidaknya selama tiga bulan proses pemulihannya.


Ia ingin membuat Juan memiliki motivasi untuk segera pulih karena dengan begitu menurut dokter prosesnya akan lebih cepat dari tiga bulan.


"Damn!" umpat Juan hampir saja memukul kakinya jika saja tangan pemuda itu tidak di cekal oleh Hara.


"Kau mau mati ya!" tukas gadis itu menghempaskan tangan Juan dengan kasar.


"Aku tidak akan mati hanya dengan luka seperti ini!" sombong Juan tidak ingin di remehkan oleh Hara.


"Aku bersumpah padamu Hara, aku tidak pernah sekalipun menyentuh Emily, ia berbohong," ujar Juan meyakinkan Hara agar gadis itu tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Emily.


Sementara itu Ziga telah menerima laporan dari Marco, pria itu mengirimkan semua berkas melalui email yang segera di buka oleh Ziga yang memang penasaran tentang latar belakang gadis yang mengaku tengah mengandung cucunya tersebut.


"Bawa gadis itu ke markasmu sekarang juga!" perintah Ziga melalui telepon kepada Marco, ia ingin menemui langsung gadis itu dan menanyakan apa alasannya menjebak Juan.


"Baik Tuan," jawab Marco yang segera memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas menghubungi Dom yang berada di pulau.


Dom yang menerima perintah dari Marco bergegas menemui Emily di dalam kamarnya.


"Nona, pakai ini kita akan menemui tuan kecil sekarang!" ucap Dom memberikan jaket kepada Emily karena mereka harus menggunakan perahu untuk pergi dari pulau tersebut.


"Benarkah kau akan membawaku kepada Juan?" tanya Emily setengah tidak percaya karena yang ia inginkan pemuda itu sendiri yang menjemputnya.

__ADS_1


"Benar Nona, bahkan Tuan besar ingin menemui Nona," jawab Dom mencoba meyakinkan Emily.


Gadis itu pun tersenyum mendengar Ziga akan menemuinya. Ia berpikir rencananya kali ini pasti akan berhasil. Emily mengira kepala keluarga Pratama itu pasti akan senang begitu mendengar kabar bahwa ia mengandung anak Juan yang berarti cucu pertama dari keluarga itu mengingat kedua kakak Juan belum ada yang menikah.


__ADS_2