Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Hara marah


__ADS_3

Hidup ini singkat, maka jangan membuatnya lebih singkat dengan melakukan hal yang dilarang oleh Allah.


~Ay Alvi~


"Hara!" panggil pria itu saat brankar yang membawa dirinya melewati gadis itu.


Hara tercengang, gadis itu merasa heran karena pria tersebut dapat mengenalinya. Padahal saat ini penampilan yang ia pakai adalah penampilan Nikki bukan penampilan Hara.


"Bisa berhenti sebentar Sus!" pinta William, saat brankar yang membawanya melewati Hara.


Ia memanggil gadis itu karena memang merasa tidak salah mengenalinya.


"Hara!" panggil William sekali lagi.


Hara mendekat, namun kedua orang perawat itu mendorong kembali brankar yang membawa William karena pria itu harus segera di pindahkan ke ruang perawatan.


Gadis itu pun mengikuti kemana perawat-perawat itu membawa William. Ia ingin bertanya bagaimana dokter tersebut dapat mengenalinya dan gadis itu juga penasaran bagaimana bisa seorang dokter seperti William menjadi pembalap handal. Andai kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin bisa jadi William keluar sebagai pemenangnya.


Di ruangan dokter yang baru saja melakukan operasi pada Juan tampak Via dan Ziga tengah menanti kabar tentang keadaan putra bungsunya dengan cemas.


Dokter pun memasang photo dari hasil sinar x ke depan layar yang berada di hadapan mereka untuk menjelaskan bagian tubuh mana saja milik Juan yang terluka.


"Permisi Tuan, Nyonya, adalah luka pertama yang di alami oleh putra kalian," ucap sang dokter menunjuk tulang selangka Juan yang patah.


"Untuk penyembuhannya di perlukan waktu paling cepat tiga bulan," jelas sang dokter bahwa sepertinya pemuda itu harus lebih banyak berbaring di tempat tidur selama tiga bulan masa penyembuhan.

__ADS_1


Via menarik nafas, ia tidak menyangka kejadian ini akan menimpa putra bungsunya. Selama ini ibu tiga orang anak itu telah memperingati bahkan menasehati Juan agar pemuda itu menghentikan kebiasaan ekstremnya. Namun, semua itu tidak pernah di gubris oleh pemuda berusia dua puluh tahun tersebut.


Dokter itu menurunkan gambar pertama dan mengganti dengan gambar yang kedua. Kali ini nampak oleh mereka semua photo dari hasil Rontgen kaki dari pemuda itu.


"Yang kedua adalah cedera lutut, kaki putra Tuan dan Nyonya mengalami patah tulang yang memerlukan proses penyembuhan minimal juga tiga bulan," ucap sang dokter menjelaskan panjang lebar cedera yang di alami oleh putra bungsu keluarga Pratama tersebut.


"Apa tidak ada usaha yang lebih cepat untuk proses pemulihannya?" tanya Ziga yang merasa tiga bulan adalah waktu yang lama. Apalagi saat ini Juan juga masih berstatus mahasiswa, hal ini tentu akan mengganggu aktivitas belajar putranya.


"Maaf Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik. Tapi, memang untuk proses penyembuhan luka seperti yang di alami oleh putra Tuan kira-kira seperti itu lamanya," jawab Dokter tersebut, mencoba memberi pengertian kepada Ziga karena luka yang di alami oleh Juan cukup parah. Akan tetapi pemuda itu cukup beruntung karena tidak mengalami cedera kepala. Helm yang di kenakannya masih terpasang rapat sehingga kepalanya dapat terlindungi dengan baik.


"Kalian ...."


"Terimakasih Dokter, saya harap kalian dapat mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan putra kami," ucap Via me.tong perkataan suaminya karena ia tahu Ziga akan memarahi dokter yang tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuknya.


Ziga membuang nafas kasar, ia baru saja ingin memaki dokter tersebut yang di anggap kurang ahli untuk menyembuhkan putranya. Namun, sebelum ia meluapkan kemarahannya sang istri telah lebih dulu memotong apa yang akan di ucapkannya.


"Mengapa Mommy menarik Daddy? Daddy bahkan belum selesai berbicara dengan dokter itu," keluh Ziga, walau ia tidak senang akan tindakan istrinya tetapi pria itu tidak dapat marah kepada Via.


Via memutar bola matanya malas melihat suaminya yang kini merajuk seperti bocah. Terkadang ia merasa heran sendiri, mengapa pria yang telah memiliki tiga orang putra yang sudah dewasa itu selalu bersikap seperti anak kecil jika di hadapannya.


"Sudah, sebaiknya kita lihat keadaan Juan," ucap Via kembali menggandeng tangan Ziga agar suaminya itu mengikuti langkahnya.


"Apa ini dapat membuatmu jera?" tanya Via sarkas terhadap putra bungsunya tersebut.


Ia selalu memperingatkan Juan, namun pemuda itu tidak pernah mendengarkan kata-katanya.

__ADS_1


Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa malu dengan keadaannya yang sekarang. Sebelah kakinya tergantung ke atas dengan di balut gips karena kaki kanan pemuda itu memang mengalami patah tulang. Sedangkan untuk menahan tulang selangkanya pemuda itu harus menggunakan arm sling.


"Sudahlah Mom, ini sudah terjadi," ujar Ziga kali ini sang kepala keluarga Pratama itu membela Juan yang tengah di marahi oleh istrinya.


Di kamar lain yang terletak tidak begitu jauh dari kamar Juan, Hara tengah menemui William yang saat ini terbaring di atas ranjang rumah sakit. Keadaan pria itu tidak terlalu parah, ia hanya mengalami cedera lutut dan juga beberapa luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.


Awalnya Hara tidak bermaksud menjenguk William terlebih dahulu, ia masih menunggu kabar tentang Juan. Namun, William memanggilnya bahkan orang tua pria itu yang juga berada di sana meminta Hara untuk mendatangi pria yang baru saja mengalami kecelakaan itu.


"Nona, apakah benar kau adalah kekasih William?" tanya seorang pria paruh baya yang menurut perkiraan Hara itu adalah ayah dari dokter William.


"Aku bu ...."


"Iya, Hara adalah kekasihku Papah," potong William sebelum Hara menyelesaikan kalimatnya. Perkataan William membuat Hara membelalakkan matanya, gadis itu tidak menyangka jika William akan menjawab seperti itu. Hara benar-benar terkejut apalagi yang bertanya adalah orang tua dari pria itu.


"Nona Hara!" sapa Alfred ayah dari William, pria itu menilai Hara dengan melihatnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki gadis itu.


Hara ingin membantah perkataan William, tapi melihat tatapan dari ayah dokter tersebut membuat gadis itu sedikit gugup.


"Jadi gadis seperti ini yang kau bilang pantas untuk menjadi kekasihmu?!" Alfred bertanya dengan nada sedikit keras kepala William setelah pria paruh baya itu menilai penampilan Hara.


William terdiam, ia tidak dapat menjawab karena mereka memang bukan pasangan kekasih seperti yang ia katakan tadi. Pria itu hanya memanfaatkan Hara agar kedua orang tuanya tidak memaksa untuk menikahi Sheryl.


"Apa maksud Anda gadis seperti saya Tuan?" tanya Hara tidak senang mendengar perkataan Alfred.


"Gadis seperti kamu Nona yang tidak pantas untuk mendampingi William," hina Alfred membuat wajah Hara memerah.

__ADS_1


"Sepertinya saya harus meluruskan hal ini Tuan yang terhormat. Saya Nikki Hara Syahputra tidak punya hubungan apapun dengan putra Anda," tegas Hara.


"Saya hanya mengenal dokter William di rumah sakit dan kami tidak memiliki hubungan seperti yang putra Anda katakan," jelas gadis itu yang langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut membuat William terkejut dan salut akan keberanian Hara.


__ADS_2