
"Terimakasih sayang," ucap Juan mengecup puncak kepala Hara. Bagaimanapun juga ia senang karena pada akhirnya gadis pujaan hatinya mengakui perasaannya. Di tambah lagi kali ini Hara berkata akan percaya pada Juan tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan restu dari ayah gadis tersebut.
"A-aku harus pulang," ucap gadis itu melonggarkan pelukannya kepada Juan.
Juan melepas pelukan mereka dengan tidak rela, pemuda itu masih ingin mendekap erat tubuh kekasihnya yang telah lebih dari tiga bulan tidak ia temui. "Apa kau tidak bisa menemaniku di sini?" tanya Juan berharap sang kekasih menemaninya.
Hara menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa Juan, Papi akan marah jika aku menemanimu di sini," jawab Hara khawatir.
"Tapi-"
Hara meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Juan meminta pemuda itu tidak meneruskan ucapannya, "Aku janji akan datang lagi besok pagi," ucap Hara membujuk Juan agar mau mengerti.
"Janji?" Juan mengacungkan jari kelingkingnya meminta Hara berjanji dengannya.
Hara tersenyum kemudian mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Juan berjanji bahwa ia akan datang untuk menjenguk kekasihnya besok pagi.
Tidak puas dengan janji kelingkingnya pemuda itu kembali menarik Hara ke dalam pelukan kemudian mencium dalam-dalam gadis itu sebelum ia melepaskan Hara untuk kembali ke rumahnya.
"Hati-hati di jalan dan terimakasih sudah menemaniku," ucap Juan membelai pipi gadisnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Hara mengangguk, "istirahatlah." Hara mengecup kening Juan.
"I Love you." Juan kembali mengutarakan perasaanya sebelum gadis itu benar-benar pergi.
Senyum tersungging di wajah manis Hara ketika mendengar pernyataan cinta dari kekasihnya, "Me too," jawab gadis itu yang kemudian segera meninggalkan ruangan tempat Juan di rawat.
"Hara kau kemana saja?" tanya William cemas begitu melihat gadis tersebut tidak ada di lobi rumah sakit.
"Aku menjenguk seorang teman," jawab Hara, "Bagaimana dengan operasinya? Apakah berjalan lancar?" tanya gadis itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Berhasil, maaf aku meninggalkanmu terlalu lama," ucap William merasa bersalah karena membiarkan gadis itu menunggunya selama proses operasi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Hara kembali menatap keluar jendela sembari memikirkan apa yang akan Juan lakukan untuk membuat ayahnya merestui hubungan mereka. Jujur gadis itu tidak ingin mengecewakan sang ayah, tetapi Hara juga tidak dapat menahan perasaannya yang memang mencintai Juan.
Hara berharap semoga saja semua ini ada solusinya karena bagaimanapun juga mereka adalah dua orang lelaki yang sangat di sayangi dan juga di cintai oleh Hara. Rasanya tidak mungkin ia memilih salah satu di antaranya karena ia tahu hatinya akan tersiksa jika di hadapi oleh sebuah pilihan.
William sendiri tidak bicara karena ia memang tengah lelah. Operasi yang baru saja di lakukannya benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Maka dari itu William memilih untuk diam dan berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
"Terimakasih untuk malam ini," ucap Hara begitu mobil yang di kendarai oleh William tiba di depan kediamannya.
__ADS_1
William tampak bingung dengan ucapan terimakasih yang di lontarkan oleh gadis itu karena tidak ada hal menarik yang mereka lakukan hari ini.
"Untuk apa?" tanya William namun tidak di jawab oleh Hara.
"Selamat malam William," ucap Hara bergegas masuk ke dalam rumah tak menghiraukan reaksi William yang masih belum mengerti maksud dari perkataan gadis itu.
Hara memang harus berterimakasih pada William karena berkat pria itulah ia dan Juan dapat saling terbuka dengan perasaan masing-masing hingga saling berjanji untuk mengusahakan yang terbaik untuk hubungan mereka.
"Sepertinya kau sangat senang." Donny menegur putrii satu-satunya yang baru saja kembali berkencan.
"Tentu Papi, aku sangat senang," jawab Hara sumringah.
"Sudah Papi bilang William pemuda baik dan pastinya menyenangkan," ujar Donny, ia berharap dapat menyatukan putrinya dengan dokter muda tersebut.
"Aku mau istirahat, selamat malam Papi," ucap Hara mengecup pipi sang ayah kemudian naik ke atas kamarnya.
Donny menggelengkan kepalanya, pria paruh baya itu tersenyum lebar. Nampaknya ia nerasa puas karena rencananya untuk menjodohkan Hara dengan William hanya tinggal menunggu waktu saja.
Di dalam kamar Hara merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar kesayangannya. Gadis itu mengingat kembali saat-saat ia menemani Juan di rumah sakit. Hara mengingat ciuman panas mereka, ciuman yang seolah mengatakan semua perasaan yang selama ini di pendam oleh keduanya.
__ADS_1
Hara tidak menghiraukan sang ayah yang salah paham atas sikapnya tadi. Biarlah sang ayah mengira jika malam ini ia bahagia karena William. Bagaimanapun juga untuk saat ini ia belum ingin mengungkap hubungannya dengan Juan.