Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Jadilah kekasihku


__ADS_3

Jangan pernah menyepelekan apapun yang telah kamu miliki, karena mungkin yang kamu miliki itu sangat diinginkan oleh orang lain.


Jadi jagalah selalu dan bersyukurlah.


~Ay Alvi~


Di markas Marco, Ziga mendengarkan laporan pria itu tentang Theo yang selama ini memang telah mereka curigai. Beberapa kali rupanya pria itu telah mengkhianati Ziga dengan bekerja pada orang lain.


Bukan hanya itu, Theo bahkan mengedarkan obat-obatan terlarang yang selama ini menjadi kegiatan haram bagi Ziga. Pengusaha itu memang melarang seluruh anak buahnya untuk berurusan dengan hal-hal seperti itu. Dia tidak ingin terlibat bisnis yang ilegal.


"Bagaimana dengan keluarganya?" Ziga bertanya tentang keluarga yang di tinggalkan oleh Marco.


"Theo memiliki seorang istri dan dua orang anak perempuan yang masih kecil-kecil, masing-masing umurnya 5 dan 3 tahun," lapor Marco, pria itu menjelaskan tentang keluarga yang di miliki oleh Theo.


"Berikan sumbangan kepada mereka dan untuk biaya pendidikan anaknya tanggung hingga keduanya dapat bekerja!" perintah Ziga yang langsung di setujui dengan anggukan kepala semua yang berada di sana.


Pria itu tidak ingin istri dan kedua anak Theo menderita karena Juan putra bungsunya telah membunuh pria tersebut. Walau Theo seorang pengkhianat bagi mereka, tapi istri dan anaknya tidak bersalah. Bahkan mungkin mereka tidak mengetahui apa yang selama ini di kerjakan oleh Theo.


Juan tampak begitu memperhatikan sang ayah ketika pria itu memimpin rapat. Pemuda tersebut kagum atas sikap Ziga yang begitu tegas, namun masih tetap berprikemanusiaan. Juan tidak menyangka sang ayah masih memikirkan keluarga yang di tinggalkan oleh Theo, padahal jelas-jelas pria itu telah berkhianat kepadanya. Bahkan Theo hampir saja membunuhnya jika waktu itu Hara tidak menggantikannya untuk menghadang peluru.


Sementara itu di rumah sakit, Via tampak mulai menginterogasi Hara atas kejadian yang menimpa gadis tersebut.


"Aunty tahu Juan mengajakmu ke tempat balapan bukan?" tanya wanita paruh baya itu seolah tahu apa yang menjadi bahan pertimbangan Hara untuk tidak bercerita kepadanya.


"I-Iya benar Aunty," jawab Hara sedikit terkejut karena ternyata ibu kandung Juan itu telah mengetahui kebiasaan putra bungsunya.


"Hara, bolehkah Aunty minta sesuatu?" tanya Via menatap penuh harap ke arah gadis yang kini sedang bingung dengan apa yang akan di minta oleh ibu dari tiga orang anak itu.


"Apa Aunty?" tanya Hara mengambil segelas air dari atas nakas untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Menikahlah dengan Juan ...."

__ADS_1


pfttt ....


Hara menyemburkan air yang baru saja di minumnya sebelum Via selesai dengan ucapannya.


"Ma-maaf Aunty," ucap Hara menyesal, gadis itu segera menyeka air yang membasahi baju ibu tiga orang anak itu dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Tidak, tidak apa," ucap Via mengeringkan sendiri baju dengan sapu tangan miliknya.


*Maksud Aunty kalian bertunangan terlebih dahulu." Via kembali meneruskan kalimat yang ingin di ucapkannya membuat Hara menjerit di dalam hatinya.


Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan Via. Ini bahkan yang kedua kalinya ibu kandung Juan tersebut meminta Hara untuk bertunangan dengan Juan. Sedangkan mereka berdua sama sekali tidak ada hubungan apa-apa.


"Hara mau kan?" tanya Via penuh harap.


Diam menundukkan kepalanya, Hara tak berani menatap mata Via. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang harus menjadi jawabannya. Walau di dalam hatinya a ada sedikit rasa suka pada Juan, namun hal itu belum berubah menjadi cinta sehingga ia dapat meng-iyakan permintaan Via untuk bertunangan dengan Juan.


"Aunty, bertunangan dan menikah adalah masalah perasaan. Aku tidak ingin kami berdua melakukan ini hanya karena terpaksa." Hara menjawab dengan mata menerawang karena yang ia inginkan adalah pernikahan yang di landasi oleh cinta, bukan sekedar perjodohan yang mengikat karena terpaksa.


"Tapi, apakah kau sama sekali tidak menyukai Juan?" tanya Via lagi, wanita itu masih belum menyerah untuk mendapatkan Hara sebagai menantunya.


Hara terdiam, kepalanya menunduk menatap jemarinya yang saling bertautan. Suka? pantaskah seorang Hara yang hanya gadis cupu menyukai Juan yang merupakan idola para gadis, pikir Hara. Bohong rasanya jika Hara bilang tidak tertarik pada Juan, pemuda itu memiliki daya tarik yang dapat memikat setiap gadis yang berada dekat dengannya.


Semua yang di lakukan oleh pemuda itu bagai magnet yang dapat menarik ribuan bunga untuk mendekat, bahkan tanpa harus melakukan apa-apa Juan dapat menarik setiap gadis ke dalam pelukannya.


"Jika kau menyukai Juan, katakanlah sejujurnya!" ucap Via menebuk bahu Hara, ia tahu ada keraguan di hati gadis itu yang membuatnya tidak dapat menjawab pertanyaan dari ibu tiga orang anak tersebut.


"A-Aku ...."


"Mommy, Daddy menunggu di luar,"potong Juan sebelum Hara menyelesaikan kalimatnya. Pemuda itu tiba-tiba berada di sana tanpa mereka ketahui kapan Juan datang.


Via melirik ke arah putranya, wanita itu tahu Juan sengaja datang memotong perkataan Hara. Nampaknya pemuda itu sedikit mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Mommy masih ingin bersama Hara," tolak Via, ia masih ingin berbincang dengan gadis itu.


"Hara harus banyak istirahat Mom!" ucap Juan sama kerasnya, ia tidak ingin sang ibu terus menginterogasi gadis yang kini masih dalam tahap penyembuhan tersebut.


"Baiklah, Aunty pulang dulu sayang," pamit Via pada akhirnya, wanita itu tidak lagi mendebat perkataan putra bungsunya.


"Pikirkan kembali apa yang Aunty katakan tadi!" pesan Via berbisik di telinga Hara saat berpamitan sembari memeluk gadis itu.


Hara membalas pelukan Via dan mengangguk membalas perkataan wanita itu. Ia akan mencoba memikirkan kata-kata Via tentang pertunangannya dengan Juan.


Via tersenyum lembut ke arah gadis itu kemudian berpaling ke arah putra bungsunya dan menatap pemuda itu dengan tegas.


"Jaga Hara baik-baik!" titah Via dengan tatapan tajam membuat Juan hanya mampu menganggukkan kepalanya. Wanita itu pun bergegas keluar ruangan untuk menemui Ziga suaminya yang sedari tadi telah menunggu wanita itu.


"Apa yang Mommy katakan?" tanya Juan saat ibunya telah keluar dari ruangan tersebut. Pemuda itu menarik kursi dan duduk tepat di sisi ranjang Hara.


"Tidak banyak," jawab Hara tidak ingin menceritakan apa yang mereka perbincangkan tadi.


Juan menatap lekat-lekat wajah gadis yang kini ada di hadapannya tersebut. Tangan pemuda itu meraih jemari Hara kemudian menggenggamnya.


"Hara, jadilah kekasihku," punya Juan yang membuat Hara membelalakkan matanya lebar-lebar.


*****


Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU.


Jangan lupa like, coment dan juga vote ya agar Ay tambah semangat untuk up bab barunya.


Yang mau kasih tip boleh juga😂😂😂😂


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2