
Kita harus rela melepaskan kehidupan yang telah kita rencanakan untuk memiliki kehidupan yang menunggu kita.
~Ay Alvi~
"Itu kenyataan bukan suatu kebohongan," ucap William serius, pria itu memuji Hara dengan tulus.
Hara tersenyum mendengar ucapan William, gadis itu tidak mengira jika pria tersebut serius mengatakannya. Selama ini tidak ada seorang pria yang memuji dirinya saat ia berpenampilan sebagai Hara. Penampilannya yang culun membuat gadis itu lebih sering menerima cemoohan daripada pujian.
"Dokter bisa saja," ucap Hara dengan tersipu malu, entah mengapa gadis itu merasa nyaman berbicara dengan dokter William.
"Apa kau menyukai tempat ini Nona?"tanya William.
"Panggil saja Hara Dok," ucap Hara merasa tak enak jika dokter William terus memanggilnya dengan panggilan nona.
"Kalau begitu kau juga bisa memanggil namaku, William," ujar William agar mereka berdua lebih akrab.
"Tapi ... Bukankah itu tidak sopan?" tanya Hara lagi merasa memanggil dokter William hanya dengan namanya saja itu tidak sopan baginya.
"Tentu tidak, aku lebih suka jika kau bisa memanggilku dengan nama saja," ungkap William tidak merasa keberatan jika Hara memanggil dengan nama depannya saja.
"Ehmm ... Baiklah," ucap Hara setelah berpikir sebentar.
"Dokter eh ... Maaf, William maksudku," panggil Hara masih sedikit canggung dan gugup.
William tersenyum melihat Hara yang gugup dengan wajah malu merona membuat gadis itu terlihat cantik alami dan natural.
"Terimakasih telah membawaku ke tempat ini," ucap Hara menyukai suasana damai yang ia rasakan di tempat yang menjadi favorit bagi William.
"Sama-sama," jawab William, dokter muda itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, sepertinya sudah waktunya kau harus kembali ke kamar," ucap William karena mereka sudah cukup lama berada di luar.
__ADS_1
Walau William mengizinkan Hara bahkan menemani Hara keluar, tapi pria itu tetap tidak melupakan tugasnya. Ia masih harus menjaga kesehatan Hara yang belum terlalu pulih. Pria itu pun membantu Hara untuk menaiki kursi rodanya dan mendorong pelan untuk turun kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar tempat Hara di rawat, Juan berjalan mondar-mandir kesana kemari. Hatinya merasa kesal ketika melihat Hara begitu akrab dengan dokter William.
Awalnya pemuda itu ingin menenangkan diri di taman yang terdapat di atap rumah sakit, namun tidak di sangka kedatangannya kesana malah tambah merusak suasana hatinya. Dan kini Juan malah semakin tidak tenang, ia telah menunggu lumayan lama tetapi Hara dan William belum juga kembali ke kamar.
Akhirnya Juan pun memutuskan untuk kembali menemui Hara, ia tidak rela gadis itu berdekatan dengan pria lain selain dirinya. Hara kemarin mengajukan syarat agar Juam tidak boleh berdekatan dengan wanita. Maka dari itu ia juga berhak untuk mengajukan syarat yang sama pada gadis itu walau status mereka hanyalah kekasih pura-pura.
Namun, sebelum Juan keluar dari kamar rawat Hara tiba-tiba ia mendengar suara tawa dari luar di ikuti dengan terbukanya pintu kamar tersebut kemudian muncul wajah Hara dan William yang tengah tertawa bahagia.
"Kau sudah kembali?" tanya Hara begitu melihat Juan sudah berada di dalam kamarnya.
Juan tidak menjawab, pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera kembali mengalihkan pandangannya ke arah ponsel genggamnya. Ia bahkan tidak menyapa dokter William yang ikut mengantar Hara.
"Sekarang sebaiknya kau istirahat Hara," ucap William mengusak rambut gadis itu.
"Terimakasih William," ucap Hara sembari menganggukkan kepalanya, gadis itu juga tersenyum lebar kepada dokter William.
"William?" Juan bertanya tentang cara Hara memanggil dokter William saat pria itu telah meninggalkan ruangan tersebut.
Hara mengernyitkan alisnya, gadis itu tidak tahu apa yang di maksud oleh Juan. Ia merasa tidak ada masalah dengan panggilan itu karena memang William yang memintanya.
"Ada apa?" tanya Hara bangkit dari kursi rodanya untuk kembali ke ranjang dengan perlahan.
"Apa ada yang salah?" tanya gadis itu lagi, kali ini telah berhasil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Sepertinya kau sudah lebih akrab?" tanya Juan menatap gadis itu dengan tatapan yang tajam.
"Tidak juga, William hanya menemaniku jalan-jalan karena aku merasa bosan," jawab Hara jujur karena memang itu yang mereka lakukan.
Dokter William hanya menemani gadis itu dan mereka juga hanya berbicara sewajarnya, tidak ada yang spesial dari mereka.
__ADS_1
"Apa kau sudah lupa statusmu?" tanya Juan berjalan mendekati Hara dan duduk di sisi ranjang gadis itu.
Hara memutar bola matanya malas, gadis itu tentu saja ingat statusnya sebagai kekasih pura-pura Juan. Bagaimana ia akan lupa karena hampir setiap saat pemuda itu mengingatkannya.
"Tentu tidak, kekasih pura-pura," jawab Hara menekankan kata pura-pura dalam pengucapan kalimatnya.
Juan menggertakan giginya, pemuda itu sedikit kesal dengan sikap Hara. Namun, ia juga tidak dapat menyangkal apa yang di katakan oleh gadis itu. Mereka memang hanya berpura-pura menjadi pasangan kekasih.
Namun, entah mengapa ia merasa tak nyaman ketika harus melihat Hara tampak akrab dengan seorang pria. Pemuda itu menatap tajam gadis yang kini ada di hadapannya tersebut, tetapi tidak di hiraukan oleh Hara. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lainnya.
"Aku ingin mengajukan syarat," ucap Juan pada Hara membuat gadis itu beralih menatap sang pemuda dengan serius.
"Apa?" tanya Hara tidak sabar, gadis itu penasaran dengan syarat yang akan di ajukan oleh Juan.
"Sama seperti syarat yang kau ajukan," jawab Juan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Hara.
"Aku tidak ingin kau dekat dengan seorang pria," tambah Juan mengucapkan apa yang menjadi syarat dalam hubungan mereka.
Hara membelalakkan matanya, ia tidak percaya syarat itu yang di ajukan oleh Juan. Lagipula selama ini hanya Jodi yang dekat dengannya, jadi mengapa Juan harus mengajukan syarat seperti itu.
Melihat Hara yang terdiam tak menjawab membuat Juan menjadi tidak sabar, pemuda itu dengan segera meraih dagu Hara dan mencium bibir gadis yang masih termangu seakan tidak sadar.
******
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Dan jangan lupa juga untuk mampir ke karya terbaru Ay GIRL ON THE GANGSTER yang bercerita tentang Ariela gadis yatim piatu yang di angkat anak oleh ketua Gangster kemudian menjadikan gadis itu seorang penembak jitu dan pembunuh bayaran.
Bagaimanakah jika suatu hari Ariela di minta untuk membunuh orang yang telah menyelamatkannya. Apakah gadis itu akan tetap melaksanakan tugasnya atau malah mengabaikannya karena sebenarnya ia mencintai orang yang menjadi targetnya.
Ikuti kelanjutannya di GIRL ON THE GANGSTER.
__ADS_1
Salam sayang dari ***Ay si Author recehan** 😘😘😘*