
Donny begitu cemas ketika mendapati ranjang putrinya yang kosong. Tak tampak tubuh Hara yang tadi sebelum ia tinggalkan tengah terbaring di sana.
Ia pun dengan panik segea menekan bel untuk memanggil perawat. "Hara!!" teriak Donny dengan panik. Pria paruh baya itu takut terjadi sesuatu kepada putrinya mengingat keadaan kejiwaan Hara tengah kurang stabil.
Samar-samar Donny mendengar suara tangisan yang berasal dari dalam kamar mandi. Tak membuang waktu lagi ia pun segera mendorong pintu kamar mandi yang saat ini tertutup rapat.
"Hara, buka pintunya sayang," bujuk Donny ketika mendapati pintu tersebut dalam keadaan terkunci dari dalam.
"Hara!! Hara, ini Papi sayang. Buka pintunya ada Papi di sini kau jangan aku lagi sayang," Donny kembali membujuk sang putri ketika tak ada pergerakan dari dalam.
"Pergi!! pergi kalian!!" Hara menjerit dengan histeris sembari melempar gayung ke arah pintu.
Donny pun semakin panik mendengar suara gaduh dari dalam sana. Pria itu pun berusaha untuk mendobrak pintu yang menghalanginya tersebut.
"Tuan apa yang terjadi?" tanya dokter Harry yang segera bergeas datang dengan seorang perawat begitu mengetahui bel yang berbunyi berasal dari kamar Hara.
"Putriku ada di dalam," jawab Donny sembari kembali mendobrak pintu tersebut dengan tubuhnya.
"Pergi kalian!" Hara kembali berteriak. "Jangan dekati aku, aku telah kotor," sambung gadis itu yang kini semakin merasa putus asa.
Hara tak lagi memiliki keberanian untuk bertemu siapapun karena bagi gadis itu tubuhnya telah ternoda oleh bajingan yang telah melecehkannya.
"Hara, ini Papi sayang. Kau tidak kotor sayang, kau adalah putri kesayangan dan kebanggan Papi Nak," bujuk Donny dengan suara lembut. Sebenarnya pria itu pun merasa hancur mendengar perkataan sang putri. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ayah karena tidak dapat melindungi putri satu-satunya tersebut.
__ADS_1
Tidsk ada sahutan dari dalam kamar mandi. Seketika semua terasa hening membuat Donny dan yang lainnya bertambah khawatir.
"Hara, buka pintunya Nak," kembali donny membujuk putrinya karena dia benar-benar khawatir dengan keadaan Hara di dalam sana.
"Pergi!! pergi kalian semua!!" Hara kemabali berteriak sembari melemparkan barang-barang yang bisa di raihnya.
Donny pun memberi aba-aba kepada dokter Harry agar ikut membantunya untuk mendobrak pintu tersebut.
Brakk
Akhirnya pintu pun terbuka ketika kedua orang itu bersama-sama mendobraknya. Betapa sedih hati Donny begitu melihat keadaan putrinya. Sekujur tubuh Hara basah dan tampak kemerahan bahkan ada beberapa bagian tubuhnya yang lecet karena gadis itu terus berusaha menggosok tubuhnya dengan keras.
Donny pun bergegas menghampiri sang putri dan meraih tubuh Hara ke dalam pelukannya. "Maafkan Papi sayang, maaf Papi yang tidak baik. Papi tidak menjaga dan melindungimu," ucap Donny dengan suara bergetar. Pria paruh baya itu hampir saja tidak dapat menahan tangisnya ketika melihat keadaan sang putri yang begitu memprihatinkan.
"Kalian cepat ambil baju ganti untuk nona Hara!" titah dokter Harry kepada perawat yang mengikutinya.
Donny tak bergeming, ia semakin mengeratkan pelukannya kepada sang putri. "Ini Papi sayang, ini Papi Donny. Kau sudah aman putriku," Donny terus berusaha membujuk Hara sebisa mungkin berucap dengan lembut walauipun dalam hatinya menahan kemaahan yang luar biasa kepada para bajingan yang membuat keadaan putrinya menjadi seperti ini.
Seolah baru tersadar Hara pun membalas pelukan Donny, melingkarkan tangan mungilnya di pinggang sang ayah. "Hara telah kotor Papi, orang itu menyentuh Hara. Hara kotor Pi," ucap Hara sembari air matanya mengalir dengan deras.
Perkataan Hara membuat perasaan bersalah Donny semakin dalam. Dia menepuk pelan punggung sang putri sembari berkata, " Kau tetap putri Papi yang paling berharga sayang," ucap Donny berusaha menghibur Hara yang saat ini tengah tertekan karena kejadian yang telah di alaminya.
"Tuan sebaiknya biarkan perawat mengganti baju Nona yang basah," saran dokter Harry yang khawatir keadaan Hara akan semakin memburuk dengan baju basah yang membalut tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Sayang, biarkan suster mengganti pakaianmu ya," ucap Donny lembut. Namun, Hara tak mau lepas dari sang ayah bahkan ia semakin mengeratkan pelukannya terhadap pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.
"Sayang, kau bisa bertambah sakit jika begini. Kau harus segera mengganti baju dan biarkan dokter Harry mengobati luka di tubuhmu," bujuk Donny. "Tenang saja papi ada di luar, tidak akan ada orang yang dapat menyakitimu lagi," tambah pria itu kemudian mengecup pelan kening sang putri.
Akhirnya Hara pun mau melepas pelukannya setelah mendengar bujukan dari sang ayah. Perawat pun segera masuk untuk membantu gadis itu berganti pakaian.
"Tuan, saya sarankan Anda lebih cepat menghubungi psikiater dan juga sebaiknya jangan membiarkan Nona Hara sendirian karena saya takut dia akan melakukan tindakan yang membahayakan keselamatannya.
Donny menghela nafas sembari memejamkan mata kemudian ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan dokter Harry. "Anda tolong bantu saya untuk menghubungi psikiater terbaik di rumah sakit ini.
"Baik Tuan," jawab dokter Harry.
Setelah perawat selesai membantu Hara, ia pun segera memeriksa keadaan gadis itu kemudian mengobati lukanya.
Hara sendiri saat ini sudah tidak lagi menangis dan histeris. Namun, sebagai gantinya gadis itu hanya terdiam dengan tatapan yang kosong. Seolah-olah jiwa gadis itu telah di rampas entah kemana.
Donny semakin sedih melihat keadaan putrinya, ia berjanji akan memberikan pembalasan yang setimpal kepada bajingan yang telah membuat putrinya menderita.
"Nona Hara, Anda harus beristirahat agar lukanya cepat sembuh," Dokter Donny memberi nasehat kepada gadis yang kini tengah terlarut dalam pikirannya sendiri.
Setelah dokter Harry dan perawat keluar dari ruangan, Donny mendekati sang putri yang tengah termenung. "Hara," panggil Donny sembari membelai surai panjang sang putri.
Namun, Hara tak bergeming. Gadis cantik itu tetap terdiam seolah tak perduli dengan keadaan sekitarnya. Hara masih terlarut dalam kesedihan pemikirannya. Ia sama sekali tak menggubris panggilan dari sang ayah.
__ADS_1
"Hara," kembali Donny memanggil nama sang putri dengan lembut mencoba menyadarkan Hara dari lamunannya. Akan tetapi gadis itu tetap membisu dan tidak menghiraukan keaadaan di sekitarnya. Hal ini lah yang membuat Donny semakin sedih dan juga marah. Pria itu bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya menahan kemarahan yang membuncah di dalam dadanya.
Sementara itu di kantor polisi Juan berusaha menemui para tersangka yang terlibat dalam perampokan di rumah sang kekasih. Juan sungguh tidak menyangka bahwa orang itu dapat melakukan hal tersebut bahkan sampai melecehkan Hara.