
Hara tersentak ketika sebuah lengan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Aroma khas yang sangat ia kenal tercium di hidungnya. Gadis itu perlahan membalikkan tubuhnya dan terkesiap ketika matanya beradu pandang dengan pria tampan yang kini tengah memluknya erat.
"Aku merindukanmu," ucap Juan lembut, lalu tanpa aba-aba lagi pemuda itu segera menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panjang yang memabukkan, ciuman pelepas kerinduan ketika dua hari tidak dapat menemui kekasihnya itu.
Hara yang terkejut belum siap mendapat serangan itu. Gadis itu berdiri mematung tidak membalas ciuman Juan membuat pemuda itu mengigit kecil bibir bawah sang kekasih agar gadis itu tersadar.
Namun, bukannya membalas ciuman Juan yang pertama di lakukan Hara ketika akalnya kembali adalah mendorong pelan tubuh pemuda yang tengah dirindukannya tersebut.
"A-apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kalau Papi melihatmu," tegur Hara khawatir. Gadis itu benar-benar cemas jika yang mereka lakukan baru saja di ketahui oleh sang ayah. Bagaimanapun juga hubungannya dengan Juan belum di restui oleh sang ayah dan Juan dengan sembarangan menciumnya di halaman depan rumahnya. Bukankah itu sudah gila?!
Juan kembali menarik Hara yang telah menjauh darinya, "Tenang saja Uncle Donny masih di luar kota," ujar Juan mencoba menenangkan gadisnya yang kini tengah panik.
Oh ya Hara lupa, ayahnya kini tengah membantu korban bencana alam yang berada di luar kota. Jadi ia tidak perlu khawatir bahwa apa yang baru saja mereka lakukan akan di ketahui oleh Donny.
Wajah paniknya pun menghilang. Tapi, tunggu mereka berada di halaman rumah Hara bukan tidak mungkin asisten rumah tangganya melihat dan akan melaporkan kepada sang ayah. Tidak ... ini tidak boleh terjadi, kembali Hara mengurai pelukan mereka lalu mundur selangkah menjauhi kekasihnya.
"Baby, apa kau tidak merindukanku?" tanya Juan, raut wajah pemuda itu menjadi sedih setelah melihat Hara menjauhkan diri darinya.
"Ini di rumah Papi Juan, aku takut ada yang melihat dan melaporkan kepada Papi," cicit Hara mengutarakan apa yang ada di piikirannya.
Sebenarnya gadis itu juga sangat merindukan Juan, ia ingin memeluk kemudian merasakan bibir pemuda itu menggempur bibirnya. Hanya saja menurut Hara ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Siapa saja dapat memergoki aksi mereka dan itu akan membahayakan bagi hubungan keduanya.
"Ayo ikut aku!" ajak Juan menggandeng tangan sang kekasih keluar dari halaman rumah gadis tersebut.
__ADS_1
Juan memberikan helm kepada Hara kemudian memakai untuk dirinya sendiri sebelum membawa gadis itu pergi dengan menggunakan motor yang ia pinjam dari sepupunya Daniel.
"Kita mau kemana?" tanya Hara setengah berteriak karena Juan membawa motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi sehingga sepertinya pemuda itu tidak akan mendengar jika Hara hanya berucap pelan.
"Pegang yang erat!" titah Juan tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Ia menambah kecepatan laju motornya membelah jalanan ibukota yang mulai lengang.
Tidak ada yang dapat di lakukan Hara selain mengikuti apa yang Juan perintahkan. Gadis itu memeluk erat pinggang Juan dan semakin merapatkan tubuh mereka berdua.
"Juan kita mau kemana?" tanya gadis itu lagi karena saat ini mereka bahkan telah berada di luar ibukota.
Juan tetap tidak menjawab, namun tidak lama kemudian pemuda itu mengurangi kecepatan motornya hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat yang Hara kenal dengan nama Puncak yang terletak di kota Bogor.
Hara tidak tahu bagaimana Juan dapat mengetahui tempat ini secara pemuda itu belum lama tinggal di Indonesia. Hara turun dari motor ketika pemuda itu akhirnya berhenti di sebuah hotel sekaligus restaurant yang terdapat di Puncak Pass Resort.
"Kawin lari," jawab Juan asal membuat Hara menghentikan langkahnya dengan mata mendelik tajam ke arah Juan.
"Apa maksudmu? Aku tidak mau!" tegas Hara bersiap untuk pergi dari tempat itu meninggalkan Juan. Ia tidak akan menyetujui apa yang di katakan oleh pemuda itu. Mereka memang berhubungan secara sembunyi-sembunyi dari sang ayah tapi bukan berarti Juan harus mengajaknya kawin lari agar mendapat persetujuan ayahnya.
"Apa yang ada dalam pikiranmu?" tanya Juan menarik tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya.
"Aku lapar dan aku hanya ingin makan Hara," ucap pemuda itu membawa Hara masuk ke dalam restaurant membuat gadis itu merutuki kebodohannya karena telah berpikir negatif tentang kekasihnya itu.
Juan memilih tempat duduk yang tersedia di luar ruangan agar dapat menikmati keindahan pemandangan di sana. Ia memang sengaja membawa gadisnya ke tempat ini karena Juan merasakan ketenangan di tengah-tengah alam yang asri.
__ADS_1
Pemuda itu telah bekerja keras selama dua hari ini untuk menepati janjinya kepada Donny. Juan banyak melakukan pekerjaan sosial yang menguras seluruh tenaganya walau sebenarnya ia menyukai kegiatan itu.
"Memangnya kamu pikir aku mau apa?" tanya Juan ketika ia telah memesan apa yang ingin mereka berdua makan.
Hara tidak menjawab, wajahnya berubah menjadi merah ketika ia mengingat apa yang ada di dalam pikirannya ketika melihat hotel dan juga mendengar Juan mengatakan kawin lari.
"Jangan-jangan kamu memikirkan hal-hal kotor waktu kita tiba hotel ya," ledek Juan membuat wajah gadis itu semakin merona.
"A-aku tidak," kilah Hara gugup, akan sangat memalukan jika Juan mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya. Bisa-bisa Juan akan menyebutnya sebagai gadis mesum.
Tidak, sungguh Hara tidak mesum. Hanya saja ketika melihat tulisan hotel pikirannya langsung melayang kemana-mana dan akhirnya menjurus pada hal-hal seperti itu.
"Itu kenapa muka kamu merah?" tanya Juan lagi kembali membuat gadis itu salah tingkah.
"Kamu sih, bagaimana aku enggak mikir yang bukan-bukan kalau kamu di tanya jawabnya kawin lari," tukas Hara kesal dengan jawaban yang di berikan pemuda itu sehingga harus membuat pikirannnya mengembara kemana-mana.
Juan terkekeh mendengar ucapan gadisnya, "Kamu sih pikirannya mesum," ucap Juan mengetuk pelan dahi Hara sehingga gadis itu refleks mengaduh walau sebenarnya ketukan itu tidak menyakitinya.
"Siapa yang mesum?!" bantah Hara, sumpah demi apapun ia merasa sangat malu saat ini. Apalagi jika Juan sampai tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Sudah jelas pemuda itu tidak akan berhenti meledeknya.
"Yaudah kalau kamu enggak mesum, biar aku aja yang mesum." Juan kembali berucap dengan asal tanpa memikirkan efek yang terjadi pada Hara.
"Juaaaaan!" pekik Hara kesal, gadis itu memukul pelan dada Juan melampiaskan kemarahannya kepada pemuda yang di cintainya itu.
__ADS_1