
Kita diberikan satu lidah, namun kita juga diberikan dua telinga agar kita bisa mendengar dua kali lebih banyak dibandingkan berbicara.
~Ay Alvi~
"Tenang saja, aku akan menjelaskan semuanya pada Mommy," ucap Juan seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Juan pun mengusak rambut Hara, kemudian bergegas menyusul ibunya yang telah lebih dahulu keluar dari kamar tersebut.
"Apa yang dapat kau jelaskan?!" tanya Via kesal kepada putra bungsunya tersebut, jika saja ini bukan rumah sakit tentu Via sudah berteriak kepada Juan. Namun, wanita itu masih dapat menahan emosinya mengingat saat ini mereka tengah berada di rumah sakit.
"Semua itu kesalahanku Mom," jawab Juan menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata sang ibu yang berkilat marah.
"Mommy tahu, bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana Hara bisa terkena luka tembak? Apa kau sebagai laki-laki tidak dapat melindunginya?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir ibu tiga orang anak itu. Ia benar-benar penasaran bagaimana Hara bisa tertembak di saat sedang bersama dengan Juan.
Juan pun menceritakan segalanya termasuk Hara yang berkorban menahan peluru untuk melindungi nyawanya. Via terkejut mendengar cerita yang di tuturkan oleh Juan. Wanita itu tidak percaya bahwa gadis yang ia minta jadi kekasih putranya tersebut rela mengorbankan nyawa demi melindungi Juan.
"Sudah Mommy bilang, kebiasaannya akan berakibat buruk bahkan kini mencelakai Hara yang tidak bersalah," ucap Via ketika mendengar semua ini di sebabkan oleh Emliy kekasih putra bungsunya tersebut.
"Maafkan aku Mom, aku juga sudah memutuskan Emily," jelas Juan. Namun, pemuda itu tidak mengatakan bahwa ia membalaskan dendamnya pada gadis itu.
Jika Via mengetahui Juan membalas dendam pada Emily dengan cara yang kejam, wanita itu pasti marah dan Juan tidak ingin menambahkan lagi kemarahan ibunya.
Via menghela nafas, sejujurnya ia masih belum dapat memaafkan kesalahan Juan. Via berniat untuk memberi hukuman pada putra bungsunya tersebut. Namun, ini bukanlah saatnya, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Hara. Jadi Via akan menunda untuk memberi hukuman kepada anak nakal itu.
"Baiklah Mommy memaafkanmu untuk saat ini, tapi akan tetap ada hukuman untukmu," tegas Via tak ingin di bantah oleh Juan.
Pemuda itu mengangguk kemudian memeluk tubuh ibunya. Via sang ibu memang sangat murah hati, wanita itu tidak dapat marah berlebihan. Maka dari itu Juan sangat menyayangi sang ibu dan seluruh keluarga Pratama pastinya sangat menyayangi wanita itu.
"Sekarang temani Hara, jaga dia dan jangan sampai terjadi apa-apa lagi padanya!" perintah Via kepada Juan, ia tidak ingin ada kejadian buruk lagi yang menimpa gadis itu.
__ADS_1
"Siap Mom," jawab Juan bersemangat, pemuda itu memberi hormat layaknya kepada atasan terhadap sang bunda.
Via pun kembali masuk ke dalam kamar Hara untuk pamit kepada gadis itu. Ia lalu pergi meninggalkan Hara dengan penjagaan Juan. Wanita itu juga berpesan agar putra bungsunya tersebut menjaga Hara.
"Ehmm ... Aku dengar tadi dokter memanggil namamu Nikki?" tanya Juan yang tadi sempat mendengar pembicaraan mereka dari dalam toilet.
Hara terkejut mendengar pertanyaan Juan, gadis itu gugup tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa ia adalah Nikki yang selama ini pemuda itu cari.
"Ehmm ... Memang namaku Nikki Hara Syahputra," jawab Hara berusaha terlihat biasa saja. Gadis itu tidak ingin Juan curiga kepadanya.
Juan memegang dagunya berusaha mencerna perkataan Hara.
Mengapa namanya Nikki? Sama dengan Nikki si pembalap, tapi tidak mungkin Hara bisa jadi pembalap, naik motor terlalu kencang saja dia ketakutan, batin Juan.
Pemuda itu menatap Hara, mencoba menelisik wajah gadis itu. Apakah Hara adalah Nikki yang selama ini ia cari?
"Tidak mirip," gumam Juan pelan namun masih dapat terdengar oleh Hara.
"Apanya yang tidak mirip?" tanya Hara walau sebenarnya gadis itu tahu apa yang di maksud oleh Juan.
"Bukan apa-apa," elak Juan, pemuda itu tidak ingin menceritakan tentang Nikki pada Hara karena ia sendiri belum tahu jelas mengenai gadis itu.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Hara, ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi karena takut Juan curiga kepadanya.
"Terimakasih," ucap Juan tiba-tiba membuat Hara sedikit tercengang karena tidak tahu apa yang di maksud oleh Juan.
"Untuk apa?" tanya gadis itu sedikit penasaran.
__ADS_1
"Kau mau menjadi kekasih pura-pura di hadapan Mommy," jawab Juan menyandarkan tubuhnya di dinding sebelah ranjang Hara.
Kekasih pura-pura, sungguh sebuah sebutan yang tidak di sukai oleh Hara. Namun, apalah daya ia telah menyanggupi untuk statusnya yang sekarang. Tidak ada keinginannya untuk membantah kata-kata Juan. Selain ia tidak mau mengecewakan Via yang telah begitu baik padanya, gadis itu juga memang sedikit menyukai Juan.
Siapa sih wanita yang tidak suka dengan pria tampan seperti Juan, bohong rasanya jika Hara bilang ia tidak menyukai pemuda itu. Hanya saja, ia juga cukup tahu diri karena tidak mungkin Juan menyukai gadis yang berpenampilan cupu dan tidak menarik seperti dirinya.
"Tidak perlu berterimakasih, aku hanya tidak ingin mengecewakan Aunty Via," ucap Hara menolak ucapan terimakasih Juan, karena ia memang menyetujui untuk menjadi kekasih pemuda itu untuk menghormati Via, ibu kandung Juan yang selama ini telah di anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Ponsel Juan bergetar, sebuah panggilan yang ternyata datang dari anak buahnya yang menjaga Emily menghubungi pemuda itu.
Juan pun meminta izin pada Hara untuk mengangkat panggilan tersebut di luar kamar karena ia tidak ingin Hara tahu bahwa Emliy telah di sekap untuk membalas perbuatannya.
Sepeninggalan Juan, Hara segera menghubungi Jodie. Gadis itu ingin bertanya pada sahabatnya tersebut tentang kapan waktu race akan tiba. Ia sudah bertekad untuk mengikuti perlombaan itu. Selain hadiahnya yang lumayan besar.
"Ya baiklah, daftarkan aku untuk race Minggu depan," pesan Hara pada Jodi sahabatnya tanpa ia sadari bahwa Juan telah berada di dalam kamar dan mendengar percakapannya dengan Jodi.
Setelah Jodi menyanggupi permintaannya, Hara pun menutup panggilan telepon tersebut. Gadis itu terkejut saat menoleh ke arah pintu ada Juan yang tengah menatapnya dengan bingung dan penuh keheranan.
"Race apa?" tanya Juan yang memang mendengar Hara menyebutkan kata itu saat melakukan panggilan telepon dengan Jodi.
Hara gugup, gadis itu menautkan jari jemarinya dengan kepala tertunduk tidak berani menatap Juan yang semakin lama semakin mendekat menghampiri gadis itu.
*****
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya yang mau kasih tip boleh juga.
__ADS_1
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘