
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
~Ay Alvi~
"Benarkah kau akan membawaku kepada Juan?" tanya Emily setengah tidak percaya karena yang ia inginkan pemuda itu sendiri yang menjemputnya.
"Benar Nona, bahkan Tuan besar ingin menemui Nona," jawab Dom mencoba meyakinkan Emily.
Mata Emily berbinar mendengar sang kepala keluarga Pratama akan menemuinya. Ia sangat yakin dapat di terima oleh Ziga karena saat ini ia tengah mengandung anak dari Juan putra bungsu keluarga kaya tersebut.
Dom dan kedua orang temannya pun segera membawa Emily menuju dermaga untuk menaiki perahu dan kembali ke kota sesuai dengan perintah Marco kepada Mereka.
Di rumah sakit, Juan terus berusaha untuk meyakinkan Hara, ia tidak ingin gadis itu percaya apa yang di katakan oleh Emily. Andai saja ia dapat berjalan saat ini, ingin segera rasanya ia menghampiri Emily dan merobek mulut wanita yanh yang telah memfitnahnya tersebut.
"Aku bersumpah padamu Hara, aku tidak pernah sekalipun menyentuh Emily, ia berbohong," ujar Juan kembali mencoba untuk meyakinkan Hara.
"Bukan urusanku," jawab Hara acuh, gadis itu mengendikkan bahunya tidak peduli pada apa yang di katakan Juan.
Juan membuang nafas kasar, wajahnya nampak frustasi, ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Hara bahwa ia memang tidak pernah menyentuh Emily. Bahkan Juan tidak pernah bersentuhan yang berlebihan dengan mantan-mantan kekasihnya.
Sementara itu Hara bersikap santai seolah tak perduli, walau di dalam hati gadis itu tahu Juan tidak akan melakukan hal seperti itu. Namun, ia juga tidak habis pikir mengapa Emily begitu menginginkan Juan hingga harus berbohong bahwa dirinya sedang hamil anak pemuda itu.
Di kamar lain juga terjadi ketegangan, Alferd yang tidak terima dengan perkataan Hara kepadanya marah besar kepada William putranya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kau sudah menentangku dengan menjadi seorang dokter juga pembalap dan kini kau malah mengatakan padaku kalau gadis seperti itu adalah kekasihmu!" hardik Alfred kesal, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran putra satu-satunya tersebut yang menolak gadis secantik dan seanggun Sheryl demi wanita seperti Hara yang berbanding terbalik gadis itu.
William menghela nafas, memang susah menyenangkan hati sang ayah. Sedari awal Alfred memang tidak menyetujui William untuk menjadi seorang dokter, sedangkan balapan adalah hobi pria itu sejak usia remaja.
"Aku sudah bilang kalau aku menolak perjodohan ini, tapi mengapa kalian memaksa," keluh William. Ia memang tidak menyukai Sheryl karena sifat gadis itu yang manja dan semaunya serta Sheryl juga cenderung tidak mau menerima pendapat orang lain.
__ADS_1
"Apa kau tahu, Sheryl adalah wanita yang paling cocok untukmu," ujar Alfred karena gadis itu berasal dari keluarga konglomerat sepertinya hal dirinya.
"Mengapa tidak Papah saja yang menikahinya," ucap William asal, sejak perceraian kedua orang tuanya, sang ayah memang sering bergonta-ganti wanita membuat William merasa malu dengan kebiasaan pria paruh baya tersebut.
"Kau ... !" Alfred berteriak marah kemudian pergi meninggalkan William sendirian di kamar. Pria itu malas berdebat dengan putranya William yang selalu saja membantah.
William menghela nafas, ia begitu miris dengan nasibnya sendiri. Menjadi seorang dokter yang sukses juga terkenal tidak lantas membuat hidup pria itu menjadi bahagia. Ia malah merasa hidupnya selalu di penuhi derita.
Ia kembali teringat pada Hara, entah mengapa William merasa kagum dengan gadis itu. Ia dapat menjadi identitas yang sama sekali berbeda. Namun, karena kejelian matanya sebagai seorang dokter membuat William tetap mengenali gadis itu walau ia berubah penampilannya.
Kembali ke kamar rawat Juan, pemuda itu tengah kesal setelah mendengar apa yang dikatakan Hara tentang Emily. Pengakuan Emily membuat pemuda itu geram dan ingin sekali memberi pelajaran kepada gadis yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.
"Siapa yang mengatakan hal itu kepada Hara? Nikki? Kau ingin aku memanggilmu dengan nama apa?" tanya Juan, setelah mengetahui gadis itu adalah Nikki, Juan sedikit bingung ingin memanggil gadis itu dengan nama siapa.
"Tidak ada yang beda, keduanya juga merupakan namaku," jawab gadis itu santai, Hara masih sibuk dengan ponselnya dan tidak terlalu memperdulikan Juan.
Juan terdiam, ia tampak berpikir sejenak. Pemuda itu baru teringat nama lengkap gadis yang ada di hadapannya kini, Niki Hara Syahputra, benar kedua itu ada di dalamnya.
*Nikki Hara Syahputra, Juan Dinhara Pratama, ehmm ...tenyata di dalam namaku ada namanya. Mungkin Tuhan memang menciptakan kita untuk bersatu, batin Juan*.
Membayangkan hal itu membuat Juan senyum-senyum sendiri karena ia memang berharap mereka akan dapat menjadi pasangan.
Hara kebingungan melihat Juan yang senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Gadis itu menautkan kedua alisnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Hara heran melihat tingkah Juan.
Juan tidak menjawab, pemuda itu masih saja tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia membayangkan kisah yang akan ia jalani jika mereka memang menjadi pasangan kekasih. Apalagi keduanya memiliki hobi yang sama, itu membuat Juan lebih bersemangat lagi.
"Hei! Kau kenapa?!' Hara bertanya memukul pelan tangan Juan yang saat ini sepertinya sedang melamun.
__ADS_1
Bukan menjawab Juan malah terkekeh membuat Hara semakin tidak mengerti dan kebingungan.
"Apa kau bilang?" Juan balik bertanya membuat Hara memutar bola matanya bosan.
Gadis itu semakin tidak sabar dan akhirnya Hara memilih untuk pergi dari ruangan itu sebelum tingkat kesabarannya habis karena melihat Juan yang mengesalkan.
"Kau mau kemana?" tanya Juan ketika Hara melangkah menuju pintu.
"Pulang, daripada harus melihatmu yang tertawa-tawa tidak jelas," jawab gadis itu asal.
"Lalu, siapa yang akan merawat lukaku?" tanya Juan kecewa, pemuda itu ingin mendapat perhatian dari Hara.
Hara segera membalikkan tubuhnya kembali menghadap Juan, "Kau pikir aku seorang suster yang bertugas untuk merawatmu!" tukas Hara kesal karena seolah-olah Juan menganggapnya sebagai seorang perawat.
"Bukan seperti itu, tapi ...." Juan kembali menggaruk tengkuknya ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa Hah?!" tanya Hara yang kembali kesal karena Juan selalu saja menggantung ucapannya.
"Tapi ...." Juan kembali terdiam, pemuda itu nampak berpikir apa yang harus ia katakan agar gadis itu mau berada di sisinya.
"Apa? Cepat katakan!" Hara mulai tak sabar, gadis itu kembali berbalik setelah melihat Juan hanya terdiam tak menjawab pertanyaannya.
"Tapi kau yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan ini!" jawab Juan pada akhirnya, pemuda itu memanfaatkan kecelakaan yang di alaminya untuk membuat Hara tetap berada di sisinya.
Mata Hara membelalak lebar mendengar jawaban Juan, mengapa jadi dirinya yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Juan.
"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Hara sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya karena kau yang mengajukan tantangan ini, jika kau tidak mengajukan tantangan agar aku dapat menjadikan kekasihmu yang sesungguhnya tentu kecelakaan ini tidak akan terjadi," jawab pemuda itu menjelaskan panjang lebar mengapa gadis itu harus bertanggung jawab untuk kecelakaan yang di alaminya.
__ADS_1
Hara memutar bola matanya malas, ia semakin kesal setelah mendengar alasan Juan menyalahkan dirinya atas kecelakaan ini. Kalau saja pemuda itu tidak menginginkan untuk menjadi kekasih sesungguhnya tentu ia tidak akan memberikan tantangan seperti ini.
Jadi, sebenarnya siapa yang salah di antara mereka?