
Berbahagialah bukan hanya karena segala sesuatunya baik, tetapi karena kamu masih mampu melihat hal baik dari segala sesuatu yang ada.
~Ay Alvi~
"Cepat datang ke klub sekarang juga!" titah Juan langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
Emily kembali mematut dirinya di hadapan cermin dan memastikan penampilannya sangat sempurna untuk menarik perhatian Juan. Bagaimanapun juga ia bertekad malam ini harus bisa mendapatkan Juan, pemuda yang telah lama menjadi incarannya tersebut.
Emily menyalakan Maybach miliknya segera menuju tempat yang telah ia janjikan bersama dengan Juan. Sepanjang perjalanan menuju klub senyum manis terus menghiasi bibirnya tanpa tahu Juan telah menanti kedatangannya dengan emosi yang membuncah.
Sementara itu di rumah sakit, Hara tampak gelisah. Gadis itu terus memikirkan tentang Juan yang sepertinya berbohong kepadanya. Bukan karena kini statusnya adalah kekasih pura-pura sehingga harus mengkhawatirkan hal itu, Hara hanya tidak ingin Juan terluka seperti dirinya.
Namun, ia juga bingung harus bagaimana karena dengan kondisinya saat ini tidak mungkin bagi Hara untuk mengikuti Juan, ia juga tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa untuk mencari tahu tentang kegiatan pemuda itu.
Akhirnya Hara teringat pada Jodi sahabatnya, pemuda itu pasti dapat di andalkan untuk di mintai bantuan. Memang sudah sejak kemarin ia tidak menghubungi sahabat satu negaranya tersebut, tapi Hara yakin kalau Jodi tidak akan menolak untuk membantunya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya gadis itu pun meraih ponselnya dan menekan nomor Jodi di layar ponsel tersebut.
"Halo, Hara di mana kau? Kemana saja kau? Tidak memberi kabar sama sekali bahkan nomormu tidak aktif," cerocos Jodi ketika Hara menghubunginya, bahkan sebelum gadis itu sempat mengucapkan salam, suara keras Jodi telah terdengar di telinga Hara.
"Ehmm ... bisakah kau bertanya pelan-pelan?" tanya Hara kesal, pemuda yang telah lama menjadi sahabatnya itu sama sekali tidak berubah.
Jodi selalu menjadi yang paling sibuk jika itu menyangkut tentang dirinya yang terkadang membuat Hara tak enak hati akan sikap Jodi yang di nilai agak berlebihan. Ia hanya menganggap pemuda itu sebagai sahabat karena memang sudah sejak lama mereka berteman. Akan tetapi sepertinya berbeda halnya dengan Jodi, pemuda itu nampak memiliki perhatian khusus terhadapnya.
Walau selama ini Jodi tidak pernah mengatakan apapun kepada Hara, tetapi melihat sikap pemuda itu ia sudah dapat menebak. Hanya saja Hara tidak ingin membahas hal ini kepada Jodi, gadis itu tidak ingin hubungan persahabatan mereka rusak karena masalah hati dan perasaan yang tidak seirama.
"Ya maaf, aku sungguh sangat menghawatirkan mu," ucap Jodi menyesal, pemuda itu hanya begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu sehingga membuat Hara tidak ada kabar bahkan tidak mengaktifkan ponselnya.
__ADS_1
"Aku ada di rumah sakit," jawab Hara enteng, namun jawaban itu justru membuat lawan bicaranya memekik karena terkejut.
"Apa?!" pekik Jodi, pemuda itu langsung panik begitu mendengar gadis yang di sukainya itu berada di rumah sakit.
Hara menjauhkan ponsel dari telinganya, gadis itu menggerutu karena teriakan Jodi benar-benar keras dan memekakkan telinga.
"Bagaimana bisa kau berada di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja?" kembali serentetan pertanyaan keluar dari bibir pemuda yang berusia sepantar dengan Hara itu.
Hara menggelengkan kepalanya, baru saja ia mengatakan kepada Jodi untuk bertanya pelan-pelan, tetapi sepertinya ucapan Hara hanya masuk telinga kiri dan telinga kanan untuk pemuda tersebut.
"Bisakah kau datang ke sini?" tanya Hara, ia malas jika harus menjelaskan lewat telepon karena Jodi pasti akan menanyakan banyak pertanyaan yang membuat gadis itu pusing untuk menjawabnya.
"Baiklah, kau berada di rumah sakit mana?" tanya Jodi antusias, dia pun segera mencatat nama rumah sakit dan kamar tempat Hara di rawat. Pemuda itu dengan segera memakai jaket dan helm kesayangannya untuk menemui Hara di alamat yang telah ia sebutkan tadi.
Hara menghela nafas setelah sambungan teleponnya dengan Jodi terputus. Gadis itu terpaksa meminta bantuan Jodi karena ia begitu mengkhawatirkan keadaan Juan. Hara tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepada pemuda itu. Ia benar-benar menganggap Juan seperti kekasih nyatanya bukan hanya kekasih pura-pura seperti dalam perjanjian mereka.
Di lain tempat, di depan sebuah klub malam terkenal di kota New York, Emily memarkirkan Maybach miliknya. Sebelum keluar dari mobil, gadis itu melihat ke arah spion untuk memastikan kembali penampilannya. Sekali lagi gadis itu menyemprotkan parfum ke arah tubuhnya, yang ia yakinkan dapat membuat para pria menoleh ke arahnya. Setelah di rasa cukup, gadis itu pun melangkahkan kakinya keluar dari mobil dengan langkah yang anggun.
Ponsel Emily berdering membuat gadis itu tersenyum setelah melihat siapa yang menghubunginya. Gadis itu sangat yakin jika ia akan mendapatkan Juan malam ini, mengingat pemuda itu sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
"Di mana?" Juan kembali melontarkan pertanyaan yang sama saat Emily mengangkat panggilan darinya.
"Aku sudah di tempat parkir, sabarlah sebentar sayang," jawab Emily sembari tertawa renyah dan manja. Gadis itu benar-benar bahagia karena sikap Juan yang sudah tidak sabar.
"Aku tunggu di ruang pribadi di lantai 2, cepat!" tukas Juan yang langsung mematikan panggila tersebut.
Emily hanya menggeleng kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat yang di sebutkan oleh Juan tadi.
__ADS_1
Sementara itu Jodi telah tiba di rumah sakit tempat Hara di rawat. Pemuda itu melacu dengan kecepatan tinggi menggunakan motornya agar dapat cepat tiba di tempat itu.
Jodi segera mencari kamar tempat sahabatnya itu di rawat, ia sudah tidak sabar dan penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang sudah lama menjadi sahabatnya itu.
"Hara, kau tidak apa-apa?" tanya Jodi setelah masuk ke dalam kamar tersebut bahkan tanpa mengetuk pintu lagi membuat Hara yang tengah melamun terkejut setengah mati.
"Apa kau tidak bisa mengetuk dulu sebelum masuk?!" tanya Hara kesal karena hampir saja sahabatnya itu membunuhnya dengan cara mengejutkan gadis itu.
"hehehe, maaf." Jodi terkekeh dan mengucapkan penyesalannya. Ia tidak bermaksud untuk mengejutkan Hara, pemuda itu hanya terlalu penasaran mengenai apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut.
Jodi mendekati Hara, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah gadis itu. Hara pun akhirnya menceritakan semua yang telah di alaminya pada Jodi.
Di klub malam, Emily telah masuk ke dalam ruang pribadi seperti yang di katakan oleh Juan. Gadis itu dengan segera menghampiri Juan dan bergelayut manja di lengan kokoh pemuda itu.
"Aku merindukanmu sayang," tutur Emily manja, ia langsung mengecup pipi kanan Juan dengan mesra.
Juan tak bereaksi atas cumbuan Emily, pemuda itu pun segera memberikan segelas minuman pada gadis itu yang kemudian langsung di tenggak habis oleh Emily.
Tak butuh waktu lama, Emily pun tidak sadarkan diri lalu Juan meminta anak buah Marco untuk membawa gadis itu karena ia tidak mau mengotori tangannya untuk menyentuh Emily. Juan pun mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan pipi yang tadi sempat di cium oleh gadis itu. Setelahnya tanpa ragu pemuda itu pun membuang kain yang telah menjadi lap itu ke dalam tempat sampah.
Juan memerintahkan mereka untuk membawa Emily ke tempat di mana gadis itu akan lebih mengharapkan kematian daripada hidup di bawah penyiksaan. ini
****
****
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya. Ay juga minta tolong untuk rate bintang 5 novel ini, karena rate-nya menjadi semakin berkurang. Ay minta tolong untuk menaikkan kembali rate-nya dengan memberikan ulasan bintang 5.
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih sesudah dan sebelumnya, tolong rate bintang 5 ya.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘