
Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.
~Ay Alvi~
"Race apa?" tanya Juan yang memang mendengar Hara menyebutkan kata itu saat melakukan panggilan telepon dengan Jodi.
Hara gugup, gadis itu menautkan jari jemarinya dengan kepala tertunduk tidak berani menatap Juan yang semakin lama semakin mendekat menghampiri gadis itu.
"Kau akan mengikuti race?" tanya Juan mendekati Hara membuat gadis itu bertambah gugup. Hara tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada pemuda tersebut. Gadis itu tidak ingin Juan tahu bahwa dirinya adalah Nikki gadis yang pernah mengalahkannya saat lomba waktu itu.
"Ah bukan, Jodi bertanya apakah kau akan mengikuti race minggu depan karena katanya gadis yang pernah mengalahkanmu juga akan mengikuti lomba itu," jawab Hara berkilah, ia terpaksa bilang pada Juan kalau Nikki akan mengikuti perlombaan itu.
"Benarkah?" tanya Juan, pemuda itu begitu antusias ketika mendengar Nikki akan mengikuti lomba yang memang akan juga di ikuti olehnya.
Hara mengendikkan bahu tak acuh, gadis itu berusaha untuk bersikap wajar agar Juan tidak curiga.
"Apa kau akan ikut?" Hara pura-pura bertanya pada pemuda itu walau ia sudah mengetahui apa yang akan menjadi jawaban Juan.
"Tentu saja," jawab Juan pasti, pemuda itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu lagi dengan Nikki, apalagi jika memungkinkan pemuda itu ingin membalaskan kekalahannya pada saat yang lalu.
Hara terdiam mendengar jawaban Juan, sepertinya ia harus menyiapkan diri untuk dapat bersaing dengan pemuda itu. Gadis itu juga perlu secepatnya untuk keluar dari rumah sakit karena ia perlu berlatih untuk menghadapi race nanti.
"Ju, kapan aku bisa keluar dari sini," rengek Hara, gadis itu sudah tidak kerasan harus berdiam diri di rumah sakit. Lagipula menurut Hara keadaannya telah membaik.
"Kau tadi dengar sendiri apa yang dokter itu bilang, masih butuh satu minggu untuk memulihkan kesehatanmu." Juan berujar dengan sabar.
Hara mengerucutkan bibirnya, berlama-lama di rumah sakit membuat gadis itu benar-benar merasa bosan. Walau kadang ia masih merasakan sedikit sakit pada bagian punggungnya yang terluka tetapi gadis itu merasa kondisinya baik-baik saja.
Lagi-lagi ponsel Juan bergetar, namun panggilan kali ini cukup membuat pemuda itu panik.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera ke sana," jawab Juan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Aku pergi sebentar," pamit Juan meraih jaketnya bahkan pemuda itu tidak memberi kesempatan pada Hara untuk menjawab.
Gadis itu menghela nafas melihat kepergian Juan. Kini, tinggal ia sendiri berada di ruangan yang sesungguhnya paling ia benci. Rumah sakit, tempat yang sangat di benci Hara karena di tempat itulah ia harus kehilangan sosok ibunya. Dan kini, ia harus berada di tempat ini seorang diri.
Hara mencoba bangkit dari tempat tidurnya, namun ia terjatuh kembali di atas 2 tempat tidur. Memang ternyata benar apa yang di katakan oleh dokter William, tubuhnya masih dalam proses penyembuhan. Hanya saja berada di rumah sakit tanpa ada yang menemani membuat gadis itu merasa sangat sedih.
Tadinya Hara berharap Juan dapat menemani selama ia berada di rumah sakit, mengingat status mereka saat ini adalah sepasang kekasih. Walau hanya pasangan pura-pura tapi Juan selalu menunjukkan kepeduliannya. Namun, entah sepertinya hari ini pemuda itu begitu sibuk. Sedari tadi ponselnya terus berbunyi. Mungkin memang ada yang harus lebih Juan perhatikan ketimbang Hara yang hanya sebagai kekasih pura-pura saja.
Hara mencoba kembali untuk bangun dari tidurnya dan kali ini hampir saja ia terjatuh di lantai andai tidak ada tangan kekar dokter William yang menangkap tubuhnya.
"Apa yang sedang Anda lakukan Nona? Ini sangat berbahaya," tegur dokter William yang melihat gadis itu hampir saja terjatuh. Jika tangan pria itu tidak sempat menangkap tubuh Hara, gadis itu pasti akan tergolek di lantai yang mungkin akan dapat membahayakan lukanya.
"Aku bosan harus berada di dalam sini seharian Dok," jawab Hara, gadis itu kesal karena usahanya untuk keluar dari kamar gagal. Awalnya ia hanya ingin berjalan-jalan di luar ruangan karena terus-terusan berada di kamar membuat gadis itu jenuh dengan keadaannya.
Hara menganggukkan kepalanya lemah, walau ia menginginkannya rasanya tidak mungkin jika dokter William mengizinkan gadis itu untuk keluar kamar seorang diri tanpa penjagaan.
"Tunggu sebentar!" ucap dokter William setelah membantu Hara kembali ke tempat tidurnya. Pria itu kemudian berlalu pergi dari kamar Hara.
Awalnya Hara sempat kecewa ketika dokter William meninggalkannya begitu saja. Ia berpikir tidak akan ada kesempatan baginya untuk pergi jalan-jalan keluar dari kamar.
"Sudah siap?" tanya dokter William tiba-tiba mengejutkan Hara. Pria itu datang kembali kali ini tidak dengan pakaian dokternya.
William hanya mengenakan kemeja berwarna biru dengan lengannya di gulung hingga ke siku membuat penampilan pria tampak berbeda dari biasanya. Ia juga membawa serta kursi roda yang akan di gunakan untuk Hara, agar gadis itu bisa keluar kamar dengan nyaman.
"I-Ini apa?" tanya Hara tak yakin jika dokter William sengaja membawakannya kursi roda untuk ia pakai.
"Bukankah Nona ingin jalan-jalan?" tanya dokter William tak menjawab pertanyaan Hara.
__ADS_1
"Menggunakan kursi roda lebih nyaman ketimbang harus berjalan dengan punggung yang masih terasa sakit," ucap dokter William yang langsung membantu Hara untuk duduk di kursi roda tersebut.
"Te-terimakasih," ucap Hara sedikit gugup, gadis itu tidak menyangka sang dokter yang ia kira akan marah atau melarangnya kini malah memberikan izin bahkan membantunya.
"Maaf jika merepotkan," sesal Hara, sesungguhnya ia tidak ingin membebani dokter William karena pastinya pria itu memiliki segudang pekerjaan.
"Tidak apa Nona, lagipula jam praktekku telah selesai. Jadi aku bisa menemanimu untuk berkeliling rumah sakit ini," ucap dokter William membuat mata Hara berbinar.
Gadis itu merasa senang karena akhirnya bisa keluar dari dalam kamar. Apalagi saat ini ia di temani oleh dokter yang ramah.
"Ayo!" ajak dokter William mulai mendorong kursi roda Hara pelan-pelan. Mereka pun berkeliling rumah sakit untuk mengobati kejenuhan Hara.
Sepanjang mereka berkeliling banyak sekali yang menyapa William, sepertinya dokter itu memang populer di rumah sakit. Ada juga beberapa dari mereka yang memandang Hara dengan tatapan iri. Mungkin mereka juga ingin seperti gadis itu yang di temani jalan-jalan oleh seorang dokter tampan.
Sementara itu, Juan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Baru saja ia mendapat kabar bahwa Emily mencoba untuk bunuh diri. Gadis itu tampaknya depresi setelah beberapa hari di kurung oleh Juan.
Pemuda itu tidak ingin Emily terluka, bukan karena ia masih mencintai gadis itu. Namun, Juan masih membutuhkan Emily untuk mengungkap kejahatan yang di lakukan oleh orang tua gadis itu.
******
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Dan jangan lupa juga untuk mampir ke karya terbaru Ay GIRL ON THE GANGSTER yang bercerita tentang Ariela gadis yatim piatu yang di angkat anak oleh ketua Gangster kemudian menjadikan gadis itu seorang penembak jitu dan pembunuh bayaran.
Bagaimanakah jika suatu hari Ariela di minta untuk membunuh orang yang telah menyelamatkannya. Apakah gadis itu akan tetap melaksanakan tugasnya atau malah mengabaikannya karena sebenarnya ia mencintai orang yang menjadi targetnya.
Ikuti kelanjutannya di GIRL ON THE GANGSTER.
Salam sayang dari ***Ay si Author recehan** 😘😘😘*
__ADS_1