Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Merasa bersalah


__ADS_3

Hara memejamkan mata sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Hati dan pikiran gadis itu masih di penuhi oleh bayang-bayang Juan.


Bagaimana ia tidak memikirkan pemuda yang rela menunggunya di tengah hujan deras. Rasa bersalah pun menghinggapi hati Hara membuat gadis itu merasakan sesak di dadanya.


"Terimakasih dokter," ucap Hara ketika mobil yang di kendarai oleh William tiba di depan rumahnya.


"Tidak perlu berterimakasih, aku senang melakukannya," jawab William menolak ucapan terimakasih dari gadis itu.


"Dan bisakah kau memanggil namaku saja tanpa embel-embel dokter ketika kita sedang berada di luar rumah sakit," pinta William, ia ingin mengakrabkan diri dengan gadis cantik yang baru saja turun dari mobilnya itu.


Sejujurnya Hara tidak setuju, tetapi ia terlalu lelah untuk mendebat William. Akhirnya gadis itu hanya menganggukkan kepalanya dengan malas.


William masih memandang ke arah rumah mewah milik Donny ketika Hara memasukinya. Pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu memberikan William akses untuk mendekati putrinya dan pria itu menyambut dengan senang hati karena menurut William, Hara adalah gadis yang unik yang dapat membuat adrenalinnya terpacu untuk mendapatkan hati gadis itu.


Sementara itu, Juan pulang ke rumah pamannya dengan di antar oleh Nadine. Selama Juan tinggal di Indonesia, Ziga membatasi semua fasilitas untuk putra bungsunya tersebut.


Tidak ada kendaraan mewah, tidak ada kartu kredit tanpa batas dan juga tidak ada uang tunai yang berlebihan. Semua sengaja di lakukan oleh Ziga untuk membentuk kepribadian Juan, ia ingin putra bungsunya itu mandiri menghadapi kerasnya dunia.


Hanya Juan lah harapan Ziga untuk meneruskan usaha yang di bangun turun temurun oleh keluarganya setelah Aiden putra sulungnya lebih memilih untuk mendirikan usaha sendiri tanpa ikut terlibat dalam bisnis-bisnis ayahnya. Dan Aiden membuktikannya, lima tahun yang lalu ia merintis usaha itu dari nol dan kini perusahaan milik Aiden berdiri sejajar dengan perusahaan ayahnya namun bergerak dalam bidang yang berbeda.


Zeline lebih tidak mau tahu lagi dengan urusan perusahaan. Putrinya itu lebih memilih usaha kuliner dan juga sukses membuka cabang di beberapa negara bagian Amerika bahkan tahun ini Zeline akan mempeluas usahanya ke Eropa.


"Apa yang kau lakukan hingga tubuhmu basah kuyup seperti itu?" tanya Nadine tak mengerti jalan pikiran sepupunya yang terkadang menurut gadis itu terlalu ajaib.

__ADS_1


"Aku menunggu seseorang," jawab Juan jujur, pemuda itu mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk yang di berikan oleh Nadine. Juan juga sudah mengganti baju dan celananya karena Nadine segera membelikan satu stel pakaian untuk Juan agar pemuda itu tidak sakit mengenakan baju yang basah.


Nadine mengernyitkan alisnya, "Apa dia seorang gadis?" tanya Nadine menyelidik. Ia berpikir tidak mungkin Juan rela kehujanan jika yang di tunggunya adalah seorang pria.


Juan melemparkan handuk ke kursi penumpang di belakang kemudian mengangguk menjawab apa yang di tanyakan oleh Nadine.


"Ya Tuhan, kau bahkan baru satu hari masuk kampus tapi sudah menargetkan seorang gadis untuk kau kejar," pekik Nadine tak percaya, "Kau memang sesuatu yang luar biasa, bergerak secepat angin," ujar Nadine membuat Juan tersenyum miris.


"Aku tidak mengenalnya dalam waktu sesingkat ini," bantah Juan membuat Nadine menoleh sejenak ke arah pemuda yang duduk di sampingnya tersebut.


"Dan aku datang ke negara ini karena ingin mngejar cintanya," ucap Juan jujur.


Nadine cukup terkejut dengan apa yang di katakan oleh Juan. Selama ini sepupunya tersebut selalu di puja-puja oleh para wanita. Bahkan Juan dengan mudahnya berganti pasangan setiap satu bulan sekali.


"Kalau begitu ia pasti gadis yang istimewa." Nadine berkata sembari membayangkan gadis seperti apa yang dapat meluluhkan hati pemuda itu sehingga Juan nekad mengejarnya hingga ke Indonesia.


Mata Juan menerawang mengingat kembali seperti apa perkenalannya dengan Hara di New York saat itu. Bukan perkenalan yang romantis atau semacamnya, namun semua itu tampak indah dalam pikiran Juan.


Pemuda itu juga mengingat bagaimana Hara pernah menyelamatkan hidupnya dengan menghadang peluru menggunakan tubuhnya sendiri.


Nadine tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Ternyata sepupunya yang playboy itu telah terkena karmanya. Jika dulu Juan hanya tinggal menjentikkan jari untuk mendapatkan seorang gadis, kini pemuda itu harus rela mengejar bahkan menunggu di tengah derasnya hujan.


"Aku penasaran gadis seperti apa yang dapat meluluhkan hati seorang Juan Dinhara Pratama," ucap Nadine.

__ADS_1


Juan tersenyum, namun ia tidak membalas ucapan Nadine. Pemuda itu hanya bergumam dalam hatinya mungkin jika kau mengetahuinya kau juga akan terkejut, dia gadis paling keras kepala yang pernah aku kenal.


"Kau mau masuk dulu?" tawar Juan kepada Nadine yang telah repot-repot mengantarnya ke rumah Jordan.


Nadine menggeleng menjawab tawaran dari sepupunya tersebut, "Mami sudah menungguku di rumah," ucap Nadine yang memang telah berjanji kepada ibunya untuk tidak pulang terlambat.


"Oke, sampaikan salamku pada Aunty Nadhya dan juga Uncle Josh." Juan berucap sembari melangkah keluar dari mobil Nadine.


"Kau harus datang ke rumah Ju, Mami dan Papi merindukanmu," sahut Nadine meyampaikan keinginan sang ibu untuk bertemu dengan Juan yang sudah cukup lama tidak di jumpainya itu.


"Nanti aku pasti akan datang," janji Juan. Ia memang berencana untuk menemui sepupu dari ayahnya tersebut, tetapi tidak sekarang mungkin nanti ketika akhir pekan.


Nadine melajukan mobilnya meninggalkan Juan yang masih menatap kepergian gadis itu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


Juan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang besar yang terasa nyaman. Kepalanya sedikit pusing karena hujan deras yang mengguyur seluruh tubuhnya.


Ia kembali teringat Hara, bagaimana gadis itu begitu tega membiarkannya menunggu dalam derasnya hujan. Bahkan setelah mereka bertemu Hara pun tidak meminta maaf, gadis itu malah tidak merasa bersalah dengan pergi bersama dengan seorang pria yang ia juga kenal.


Dokter William, bagaimana dia juga bisa berada di Indonesia. Mengapa mereka tampak begitu dekat, apakah ... apakah? tanya Juan dalam hatinya.


Juan memejamkan mata, pemuda itu tampak lelah mencoba untuk tidur mungkin akan lebih baik. Melupakan segala luka yang di torehkan oleh Hara. Luka yang membuat Juan sadar bahwa ia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati gadis itu.


Akhirnya Juan pun tertidur setelah tidak dapat menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

__ADS_1


Sementara itu di kediamannya, Hara tampak gelisah. Gadis itu merasa bersalah kepada Juan. Bayangan pemuda itu menatapnya tajam menyiratkan luka yang mendalam telah menghantui Hara. Tidak ... ia sungguh tidak sanggup melihat tatapan itu yang seolah menembus langsung ke dalam jantungnya.


Hara meraih ponselnya, ia mencoba keberuntungan dengan menghubungi nomor Juan yang masih ia simpan hingga saat ini. Nomornya tersambung, hanya saja tidak di angkat. Hara kembali mencoba menghubungi pemuda itu beberapa kali, namun tetap saja ia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Telepon pemuda itu tidak di angkat membuat Hara semakin panik, ia khawatir Juan akan membencinya karena kejadian tadi di kampus.


__ADS_2