Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Menjadi teman


__ADS_3

William menghela nafas, ia merasa Hara sikap Hara begitu acuh. "Apa kau tidak menyukai pergi denganku?" tanya William lugas. Sejujurnya akan lebih baik jika gadis itu menolak ketimbang harus bersikap seperti ini yang justru membuat William merasa seolah-olah ia memaksakan kehendaknya.


"Apa begitu kentara?" Hara bertanya balik menatap pria yang tengah berfokus pada kemudinya itu.


William mengangguk menjawab pertanyaan gadis itu. Walau ia menyukai Hara, namun pria itu tidak ingin memaksa gadis itu untuk menyukainya juga.


Hara memalingkan wajahnya kembali menatap keluar jendela. Mengamati aktifitas malam di kota Jakarta.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya William menyelidik. Walaupun dia adalah dokter bedah pria itu sedikit mengerti tentang psikologi orang.


"Tidak juga," jawab Hara masih dengan memandang keluar jendela.


"Lalu? Apa pergi denganku yang membuatmu merasa tidak nyaman?" William kembali mendesak gadis itu dengan pertanyaan yang sama.


"Ehmm ... Aku hanya tidak ingin kau terus di manfaatkan oleh Papi," jawab Hara.


"Tapi aku tidak merasa di manfaatkan," bantah William karena yang ia lakukan itu berdasarkan rasa sukanya kepada Hara bukan karena Donny yang memang telah memberi lampu hijau kepadanya.


Hara membuang nafas kasar, hati dan pikirannya saat ini telah menjadi kacau. "Sebaiknya kita kembali saja," ucap gadis itu membuat William menautkan kedua alisnya.


"Hara, bisakah kita berteman?" tanya William, berharap dapat menjadi teman gadis itu.


"Teman?" tanya Hara tak yakin dengan pertemanan dua orang wanita dan pria setelah Jody mengecewakannya.


"Iya, teman dalam arti sebenarnya," jawab William sungguh-sungguh.


Hara tertawa malas, ia sudah bosan dengan pendekatan yang berkedok persahabatan. Mungkin jika Jody tidak mengecewakannya ia masih dapat mempercayai hal tersebut. Akan tetapi persahabatan mereka sejak beberapa tahun yang lalu tercoreng akibat perasaan yang tidak murni.


"Maaf, tapi aku tidak dapat mempercayainya," ujar Hara pesimis.


"Mungkin kita dapat berteman tapi tidak terlalu dekat. Cukup saling mengenal dan bertegur sapa jika bertemu di lain tempat," imbuh gadis itu.


William sebenarnya ingin menolak, tapi ia merasa seperti ini juga ada baiknya. Yang terpenting Hara tidak menolak dan menjauh darinya. Mungkin suatu saat ini gadis itu dapat membuka hatinya, pikir William.


"Baiklah," jawab William menyetujuinya. "Sebagai permulaan pertemanan kita dapatkah kau menunjukkan tempat yang menarik di kota ini, Aku belum terlalu mengenal kota Jakarta," ujar William.

__ADS_1


Hara terdiam dan tampak berpikir sebentar setelah itu ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan William.


William menyunggingkan senyum di wajah tampannya saat mengetahui gadis itu menyetujui permintaannya. Ia pun meminta Hara untuk menunjukkan jalan yang akan mereka lalui untuk menghabiskan malam ini.


Namun ternyata tidak semudah rencana William, baru saja ia memarkirkan mobilnya di kawasan Kota Tua Fatahillah ponsel pria itu berdering. Panggilan dari rumah sakit yang mengusik kebersamaan keduanya.


"Dokter William, maaf saya mengganggu tapi ada pasien gawat darurat yang membutuhkan penanganan dokter," jelas seorang perawat yang menghubungi dokter tampan itu.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," jawab William sigap. Sebagai seorang dokter ia memang harus lebih mementingkan panggilan tugasnya ketimbang urusan pribadi. Termasuk saat ini, walaupun ia tidak rela kehilangan momen kebersamaan dengan Hara tetapi ia juga tidak dapat menolak panggilan kemanusiaan yang sudah menjadi kewajibannya.


"Hara, aku minta maaf tidak dapat melanjutkan perjalanan ini. Rumah sakit memanggil, ada pasien darurat yang harus aku tangani," ucap William menyesal.


"Tidak masalah, pasienmu lebih penting daripada perjalanan ini," ujar Hara mengulas senyum di bibirnya.


"Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu," ujar William namun segera di tolak oleh gadis yang sudah duduk manis di sebelahnya.


Hara menggelengkan kepalanya, "Jika kau mengantarku tentu akan memakan waktu. Dan ku rasa pasienmu belum tentu dapat menunggu," ucap Hara tidak menyetujui rencana William.


"Aku tidak akan membiarkanmu pulang menggunakan taksi. Ini sudah larut malam dan sangat berbahaya bagi seorang wanita." William berkeras untuk mengantarkan Hara terlebih dahulu.


Aku tidak mengatakan akan pulang dengan menggunakan taksi," ucap Hara.


"Lalu?" tanya William belum mengetahui apa yang ada di dalam benak Hara.


"Sebaiknya kita cepat ke rumah sakit pasienmu sudah menunggu terlalu lama," ujar Hara, "Dan aku akan ikut denganmu ke rumah sakit," imbuh gadis itu membuat William tersenyum bahagia.


Ia tidak menyangka bahwa Hara mau ikut bersama dengannya ke rumah sakit. William pun dengan tidak ragu melakukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja.


Sebenarnya Hara bukan sengaja ingin menemani William ke rumah sakit. Akan tetapi jika ia pulang dengan menggunakan taksi itu akan menjadi pertanyaan dari sang ayah dan Hara malas menjawabnya.


Hara berpikir jika sang ayah dapat berbuat curang kepadanya tentu ia juga bisa berbuat seperti itu. Ia akan memanfaatkan William untuk mendapatkan kembali kebebasannya yang selama ini di jelang oleh Donny akibat masalah Juan.


Mobil William telah memasuki pelataran rumah sakit tempat pria itu bekerja. "Kau mau menunggu di ruanganku?" tanya William begitu mereka tiba di lobi rumah sakit.


"Sepertinya lebih baik aku menunggumu di sini," jawab gadis itu tidak ingin masuk ke ruangan William karena mungkin akan dapat menimbulkan gosip yang tidak mengenakan mengingat rumah sakit ini adalah milik ayahnya dan sebagian yang bekerja di sana mengenal Hara.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan usahakan tidak terlalu lama," ucap pria itu di jawab dengan anggukan kepala Hara.


Setelah meninggalkan Hara di rumah sakit, William pun segera bergegas menuju ruang operasi di mana pasien telah menunggunya.


Hara tengah melihat keadaan sekitar ketika rumah sakit tiba-tiba menjadi ramai dengan datangnya para korban kecelakaan beruntun yang terjadi tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


Semua orang panik melihat keadaan tersebut, termasuk Hara yang merasa merinding ketika melihat banyak orang terluka di hadapannya.


Mobil Jordan yang membawa Juan akhirnya tiba di rumah sakit. Dua orang perawat segera datang membawa brankar untuk membantu pemuda itu karena saat ini kondisi Juan benar-benar lemah.


"Maaf Nona bisa tolong beri kami jalan!" ucap perawat yang membawa Juan di atas brankar.


Hara pun menyingkir dan memberi jalan, namun gadis itu terkesiap ketika melihat siapa yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.


"Ju-Juan," seru Hara dengan suara tertahan tanpa Hara sadari kakinya melangkah mengikuti kemana perawat itu membawa Juan.


.


.


.


.


..


.


.


.


Kira-kira Hara bakal nemuin Juan gak ya?


Semoga aja mereka bisa berbaikan karena Ay udah ga sabar nulis cerita romantis di antara mereka.

__ADS_1


Ikutin terus ya Juan dan Hara.


Salam sayang dari Ay si Author recehan


__ADS_2