
Seseorang boleh mengalami pahit getirnya perjalanan hidup. Tetapi dia tak boleh berhenti & tak boleh kehilangan impiannya.
~Ay Alvi~
"Sepertinya saya harus meluruskan hal ini Tuan yang terhormat. Saya Nikki Hara Syahputra tidak punya hubungan apapun dengan putra Anda," tegas Hara.
"Saya hanya mengenal dokter William di rumah sakit dan kami tidak memiliki hubungan seperti yang putra Anda katakan," jelas gadis itu yang langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut membuat William terkejut dan salut akan keberanian Hara.
Mereka pikir hanya bisa menilai seseorang dari penampilan saja, batin Hara.
Gagis itu merasa kesal terhadap orang tua William, ia sakit hati atas apa yang di ucapkan oleh Alfred. Sebenarnya William juga yang salah, mengapa dokter itu harus mengatakan bahwa ia adalah kekasihnya.
"Uncle, bagaimana keadaan Juan?" tanya Hara begitu melihat Ziga keluar dari kamar rawat pemuda itu.
"Sebaiknya kau lihat sendiri ke dalam," jawab Ziga tidak menjelaskan bagaimana keadaan putra bungsunya dan mempersilakan Hara untuk melihat sendiri seperti apa keadaan pemuda itu.
"Baik Uncle," ucap Hara kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat Juan.
"Hara, tunggu!" tahan Ziga membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ayah tiga orang anak itu.
"Ada apa Uncle?" tanya Hara kebingungan karena saat ini Ziga menatap serius ke arahnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ziga tidak menjawab pertanyaan Hara karena ia merasa harus berbicara dengan gadis yang ada di hadapannya ini di tempat yang lebih tenang.
Hara mengangguk kemudian gadis itu mengikuti langkah Ziga yang berjalan di depan menuju kantin rumah sakit. Ia sedikit gugup karena tidak tahu apa yang akan di katakan oleh Ziga. Hara menebak secara kasar bahwa Pria itu akan membahas tentang kecelakaan yang di alami Juan kali ini.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Ziga setelah pelayan di kantin rumah sakit membawakan buku menu ke meja mereka.
"Apa saja Uncle," jawab Hara, sebenarnya ia tidak terlalu bernafsu untuk makan atau minum sebelum mengetahui keadaan Juan. Namun, ia juga tidak enak hati jika harus menolak tawaran dari ayah pemuda itu.
__ADS_1
Ziga memesan satu cangkir kopi panas untuknya dan satu gelas Capuccino dingin untuk Hara karena biasanya anak muda lebih menyukai minuman yang dingin. Pria itu juga memesan beberapa kue untuk menemani perbicangan mereka.
"Apa yang ingin Uncle tanyakan?" tanya Hara, gadis itu tidak sabar, ia ingin segera mengetahui apa yang ingin di katakan oleh pria itu.
"Apa kau mengenal Emily?" tanya Ziga yang ingin mengetahui apakah Hara mengenal dekat gadis yang telah berusaha untuk mencelakakannya tersebut.
Hara mengangguk menjawab pertanyaan Ziga, ia memang mengenal gadis itu walau tidak terlalu akrab. Mereka berada di kelas yang sama di kampus. Hanya saja Emily selalu merendahkan Hara karena penampilan gadis itu yang jauh dari kata cantik seperti dirinya.
"Tapi tidak terlalu akrab," jawab Hara menjelaskan sebenarnya hubungan antara ia dengan Emily.
Ziga mengangguk-anggukkan kepalanya, ia harus mengorek informasi lebih dalam lagi untuk mengetahui tentang seperti apa Emily. Walau sejujurnya ia tidak percaya jika Juan putra bungsunya dapat berbuat hal seperti itu, tapi ia juga harus menyelidiki terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
"Terimakasih," ucap Ziga dan Hara berbarengan kepada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Minumlah dulu!" titah Ziga karena pria itu melihat Hara sedikit gugup dan tegang.
"Apa kau tahu tentang hubungan Emily dan Juan?" tanya Ziga membuat Hara berhenti menyedot minumannya.
Gadis itu bingung harus menjawab apa, ia memang mengetahui hubungan Juan yang sebelumnya dengan Emily. Akan tetapi setelah kejahatan yang di lakukan oleh gadis itu, Hara sama sekali tidak tahu kelanjutan hubungan mereka. Bahkan Hara juga tidak tahu di mana keberadaan Emily setelah mencelakakan dirinya.
"Sebelumnya Emily memang kekasih Juan, Uncle," jawab Hara hati-hati, gadis itu takut Ika ia salah menjawab karena yang mengetahuinya hal tersebut hanyalah Juan dan Emily seorang.
Ziga menghela nafas, mungkin ini memang salah satu kesalahannya sehingga putra bungsunya itu terlalu bebas dalam pergaulan. Ia terbiasa membebaskan ketiga putra dan putrinya dalam bergaul dan memilih pasangan. Akan tetapi, Juan masih terlalu muda untuk menikah seandainya benar ia yang menghamili Emily.
Usia putra bungsunya tersebut baru saja menginjak dua puluh tahun dan kedua kakaknya pun belum ada menikah. Ziga berharap semoga saja apa yang di katakan oleh Emily tidak benar karena jika jika hal itu benar terjadi nama baik keluarga Pratama yang selama ini ia jaga.
"Emily saat ini tengah mengandung," ucap Ziga kepada Hara membuat gadis itu hampir saja tersedak roti yang baru saja di makannya.
Gadis itu buru-buru meraih gelas minuman miliknya dan menenggak habis hingga tidak tersisa untuk mengatasi keterkejutannya setelah mendengar apa di katakan oleh Ziga.
__ADS_1
"Ma-maksud Uncle, Emily saat ini tengah mengandung anak Juan?" tanya Hara tak percaya, gadis itu menelan salivanya saat membayangkan kebenaran dari perkataan Ziga.
Ayah tiga orang anak itu membuang nafas kasar, ia sendiri tidak tahu anak siapa yang di kandung oleh Emily. Namun, jika memang gadis itu adalah kekasih Juan, bukan tidak mungkin putra bungsunya adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan gadis itu.
"Uncle sendiri belum tahu pasti, Emily mengatakan hal itu kepada para anak buah Marco yang menjaganya di pulau," jelas Ziga.
"Menjaga Emily di pulau?" tanya Hara tidak yakin, ia belum mengetahui jika setelah perbuatan Emily kepadanya Juan mengurung gadis itu di pulau pribadi milik orang tuanya.
"Iya, Juan yang memerintahkan. Ia tidak ingin Emily menyakitimu lagi," jawab Ziga menerangkan alasan Juan menjawab gadis itu.
Hara terdiam dan menundukkan kepalanya, selama ini ternyata Juan berusaha untuk melindunginya. Ia merasa menyesal karena sebaliknya ia tidak dapat melindungi Juan, bahkan ia mengajukan syarat untuk menang jika Juan memang ingin menjadi kekasihnya. Mungkin syarat ini pula yang memaksa Juan untuk bersaing dengannya hingga tidak memikirkan lagi keselamatannya sendiri.
"Tapi ... Uncle juga belum yakin, apakah anak yang di kandung oleh Emily adalah anak Juan," ucap Ziga mengaduk-aduk kopi panas kemudian menyesapnya perlahan.
Hara kembali mendongakkan kepalanya, gadis itu merasa benar apa yang di katakan oleh Ziga. Belum tentu anak yang di kandung oleh Emliy adalah darah daging Juan. Mengingat hubungan mereka baru sebentar bahkan belum ada sebulan. Selama ini sepengatahuan Hara, Juan tidak pernah bersikap terlalu mesra kepada Emily. Bahkan di hadapan Emily, Juan selalu membela dirinya yang membuat Emily akhirnya gelap mata dan melampiaskan kekesalannya dengan memerintahkan orang untuk menculik dirinya.
"Aku juga tidak yakin Uncle," ujar Hara mengemukakan pendapatnya.
"Apa tidak sebaiknya Uncle tanyakan langsung pada Juan," saran Hara karena saat ini hanya pemuda itulah yang mengetahui jawaban atas pernyataan Emily.
*****
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU.
Jangan lupa like, coment dan juga vote ya agar Ay tambah semangat untuk up bab barunya.
Yang mau kasih tip boleh juga😂😂😂😂
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘
__ADS_1