
Hidup ini adalah perjalanan yang panjang di dalam waktu yang sempit, isilah dengan perjuangan yang membanggakan, dan hargai dengan ketulusan cinta.
~Ay Alvi~
"Baiklah, aku tunggu besok di tempat latihan karena lusa kita sudah harus berangkat keluar kota," ucap Jodi menjelaskan bahwa waktu gadis itu hanya tersisa sedikit, jadi mereka harus bisa mengatur waktu seefisien mungkin.
Setelah menyelesaikan panggilannya dengan Jodi, gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan keluar darah kamar untuk mencari keberadaan dokter William. Hara ingin meminta keringanan kepada sang dokter agar ia dapat di izinkan pulang hari ini juga. Walau gadis itu telah meminta Jodi untuk mencari tahu siapa gadis yang mengaku bernama Nikki, tapi tetap saja ia masih merasa penasaran.
Hara ingin melihat dengan mata dan kepalanya sendiri seperti apa rupa gadis yang memiliki nama yang sama dengannya itu.
Gadis itu berkeliling rumah sakit untuk mencari keberadaan kantor dokter William. Ia tidak tahu dimana letak ruang praktek pria tersebut karena biasanya dokter itulah yang datang untuk memeriksa keadaan Hara di kamar rawatnya.
"Permisi Suster, dimanakah ruangan dokter William?" tanya Hara kepada seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengannya, gadis itu sudah lelah mencari sendiri karena tidak berhasil juga menemukan ruangan dokter muda itu.
Sang perawat melihat penampilan Hara dari atas hingga ke bawah, ia sedikit jengah melihat gadis berpakaian pasien yang ada di hadapannya ini. Selama ini banyak yang mencari keberadaan dokter William dan kebanyakan dari mereka adalah wanita cantik yang sangat menarik. Berbeda dengan Hara yang berpenampilan sederhana bahkan terlihat sangat tidak menarik dengan kacamata tebal dan juga rambutnya yang di kuncir kuda.
Dokter William merupakan salah satu dokter yang paling di gemari di rumah sakit itu. Selain oleh para pasiennya, dokter muda tersebut juga di gandrungi oleh para perawat karena status sang dokter yang masih lajang.
"Dokter William sedang sibuk, sebaiknya Anda kembali ke kamar Nona," jawab sang perawat ketus. Ia tidak memberitahu dimana letak ruang praktek dokter William.
Hara berdecak kesal, rupanya bukan hanya pria saja yang menilai seseorang berdasarkan penampilan luar, tetapi wanita juga dapat seperti itu. Contohnya sang perawat yang kini ada di hadapannya. Dia tidak mau memberitahu Hara dimana letak ruangan dokter William hanya karena gadis itu berpenampilan cupu dan tidak menarik.
Namun, Hara tidak pernah menyesali keputusannya untuk berpenampilan cupu, karena dari situlah ia dapat membedakan mana orang yang tulus dan mana yang tidak. Jika mereka tulus untuk berteman atau menjalin hubungan tentu penampilan tidak akan menjadi masalah, yang terpenting adalah sikap dan juga kejujuran hati.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih Suster," ucap Hara tidak ingin melanjutkan pencariannya pada dokter William, mungkin lebih baik jika ia menunggu dokter itu untuk datang ke kamarnya pada saat jam pemeriksaan nanti.
Gadis itu kembali berbalik untuk berjalan menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba Hara di kejutkan oleh sebuah panggilan yang tidak asing suaranya. Gadis itu menoleh ke arah darimana suara itu berasal. Senyum mengembang dari bibirnya saat melihat dokter William yang memanggil kemudian menghampiri dirinya.
Hara juga tersenyum mengejek kepada si suster yang masih berada di sana dan melihat sendiri dokter William berjalan mendekatinya.
"Sedang apa di sini?" tanya William lembut, ia heran karena Hara berada cukup jauh dari ruangnya.
"Aku mencari dokter," jawab Hara jujur dengan alasannya berada di sana.
"Mencariku?" tanya William sembari menunjuk dirinya sendiri. Ia tidak menyangka gadis itu sengaja berjalan keliling rumah sakit hanya untuk mencari dirinya.
Hara mengangguk menjawab pertanyaan dokter William, "Tapi ... tadi perawat itu bilang kalau dokter sedang sibuk," ucap Hara menunjuk sang perawat yang tadi sempat ia tanyai tentang keberadaan ruangan dokter William.
"Tidak apa Suster. Untuk saat ini saya sudah selesai dengan pekerjaan saya," ucap dokter William yang selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Pria itu memang idaman para wanita termasuk sang suster yang kini bertambah kagum dengan dokter muda tersebut.
"Ada apa mencariku?" tanya dokter William kepada Hara.
"Tapi, sebaiknya kita bicara di ruanganku saja. Agar kau tidak kesulitan jika harus mencariku lagi," ucap dokter William sebelum Hara menjawab pertanyaannya tadi.
Hara pun mengangguk setuju, gadis itu mengikuti langkah dokter William menuju ruang praktek dokter muda tersebut. Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali mengobrol akrab. Keduanya menuju ruangan William yang berada tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
Sang suster yang melihat keakraban tersebut merasa kesal, ia mengepalkan erat kedua tangannya. Ia memang sudah sejak lama menyukai dokter William, hanya saja selama ini dokter tampan tersebut tidak pernah memberi respon positif pada segala bentuk perhatian yang di berikan olehnya.
__ADS_1
Kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri dokter William begitu akrab dengan seorang gadis yang sama sekali tidak cantik menurut penglihatannya. Hal itu membuat si perawat iri, ia tidak terima di kalahkan oleh seorang gadis cupu yang masih jauh di bawah standarnya tersebut. Sang suster pun segera mengambil ponselnya kemudian mengambil gambar dokter William dan Hara yang berjalan berdampingan dengan sangat akrab.
"Silakan duduk!" ucap dokter William mempersilahkan gadis manis itu untuk duduk setelah mereka berada di dalam ruangan kantornya.
"Terimakasih Dok!" jawab Hara, menarik kursi kemudian duduk di hadapan William.
"Ada apa mencariku?" tanya William yang sedari tadi penasaran apa yang penting sehingga Hara sampai harus mencari keberadaannya.
Hara terdiam dan menundukkan kepalanya, gadis itu ragu-ragu untuk mengatakan maksud dan tujuannya mencari William.
Ia khawatir sang dokter tidak akan mengizinkannya untuk keluar dari rumah sakit hari ini. Padahal ia sangat ingin bertemu dengan gadis yang katanya bernama Nikki di bengkel milik sahabat Juan, Farrel.
"Ada apa? Katakan saja!" ucap dokter William sedikit memaksa karena gadis yang ada di hadapannya ini hanya diam dan menundukkan kepalanya sehingga membuat pria itu khawatir ada sesuatu yang menimpa Hara.
"Dok, bolehkah aku pulang hari ini?" tanya Hara hati-hati, ia takut William tak mengizinkannya karena memang seharusnya besok gadis itu baru di perbolehkan meninggalkan rumah sakit.
William menghela nafas mendengar pertanyaan Hara, pria itu menyesal mengatakan bahwa keadaan gadis itu telah membaik sehingga membuatnya ingin segera keluar dari rumah sakit. Luka yang di alami oleh Hara memang telah membaik, hanya saja ia masih khawatir akan kesehatan tubuh gadis itu. Hara terluka terkena tembakan peluru yang menembus punggungnya jadi butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan jaringan otot dan syaraf yang terdapat di dalam tubuh gadis itu.
Seharusnya Hara beristirahat lebih lama di rumah sakit. Namun karena William melihat gadis itu telah jenuh berlama-lama di rumah sakit, jadi William memberikannya izin untuk keluar dari tempat itu esok hari. Padahal seharusnya gadis itu baru bisa keluar satu minggu dari sekarang. Akan tetapi, kini Hara masih meminta untuk di pulangkan hari ini. Sungguh hal ini membuat William sedikit kesal dengan gadis berkacamata yang tengah duduk di hadapannya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa mengizinkanmu untuk meninggalkan rumah sakit sekarang," jawab William membuat Hara kecewa.
Brakk ....
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terdorong dari luar dengan kasar. Mereka berdua menoleh ke arah pintu dengan mata membelalak lebar.