Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Kekhawatiran Mommy Via


__ADS_3

Jika hatimu sudah ikhlas, maka tidak ada lagi penderitaan yang akan menyakitimu.


Hati yang ikhlas akan menuntun dunia dan akhirat untuk membantumu.


~Ay Alvi~


Hara merajuk karena Juan tidak memberikan jawaban yang benar atas pertanyaannya mengapa pemuda itu mengatakan bahwa ia adalah kekasihnya di hadapan Dokter William dan juga kedua perawat yang memeriksa keadaannya tadi. Gadis itu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga ujung kepala sebagai bentuk protes kepada pemuda tersebut.


Sejujurnya bukan Juan tidak ingin memberikan jawaban yang benar kepada Hara, hanya saja ia sendiri terlalu bingung bahkan tidak mengerti bagaimana ia dapat mengakui gadis itu sebagai kekasihnya.


Juan memijit ruang di antara kedua alisnya, pemuda itu bingung dengan apa yang kini tengah di rasakannya. Entah mengapa di sudut hati kecilnya, pemuda itu tidak ingin ada seorang pun yang memberikan perhatian kepada Hara dan ia juga merasa kesal ketika gadis itu tersenyum manis dan bersikap ramah kepada pria lain walau pria itu sendiri adalah seorang dokter yang tengah melaksanakan tugasnya.


Di kediaman Pratama, Ziga dan Via serta Zeline telah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Mereka bertiga mengobrol singkat sembari menunggu anggota keluarga yang lain datang.


Tak berapa lama si sulung Aiden pun datang bergabung bersama mereka. Kini, tinggal Juan dan Hara yang belum nampak di ruang makan.


"Jane, panggil Juan dan Hara di kamar mereka, minta mereka untuk segera turun sarapan!" perintah Via kepada Jane kepala pelayan di kediaman Pratama.


"Tidak perlu Mom," ucap Aiden membuat mereka yang berada di ruangan tersebut bingung.


"Mereka tidak ada di rumah," tambah Aiden.


"Apa maksudmu? Mereka belum pulang?" tanya Ziga dengan suara yang agak meninggi setelah mendengar ucapan Aiden bahwa putra bungsunya dan juga Hara tidak ada di rumah.


Aiden terdiam, pria itu juga bingung harus menjawab dan menjelaskan bagaimana kepada ayah dan ibunya.


"Jawab Aiden!" bentak sang ayah yang tidak suka karena putra sulungnya tersebut belum juga menjelaskan kepadanya apa maksud dari perkataannya tersebut.


Via segera menggenggam tangan Ziga untuk menenangkan hati suaminya tersebut. Ia tidak ingin ada keributan di pagi hari yang harusnya mereka sambut dengan hati yang ceria.


"Tolong jelaskan kepada kami sayang!" pinta Via lembut, ia mengerti betul sifat putra sulungnya tersebut. Aiden tidak akan bicara jika di paksa atau di minta dengan keras, sebaliknya anak laki-lakinya tersebut harus di sikapi dengan lembut.

__ADS_1


Aiden menghirup nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan ibu dan ayahnya tersebut. Sebenarnya bukan ia tidak ingin menjawab pertanyaan sang ayah Ziga, hanya saja pria itu tengah mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang tepat agar mereka semua yang berada di sana tidak terkejut.


"Mereka ada di rumah sakit Mom," jawab Aiden hati-hati, pria tidak tidak menjelaskan dengan terperinci bagaimana keduanya bisa berada di rumah sakit.


"Apa?!" tanya mereka bertiga berbarengan.


"Bagaimana mereka bisa ada di rumah sakit?" tanya Via khawatir, wanita itu langsung bangkit dari duduknya hendak bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Juan.


Ziga meraih tangan sang istri untuk menahannya.


"Tenang Mommy," ucap Ziga, ia tidak ingin istrinya itu terlalu cemas karena takut akan berpengaruh pada kesehatan istrinya tersebut.


"Tapi ...."


"Duduklah sayang!" potong Ziga sebelum Via dapat melanjutkan ucapannya.


"Kita dengarkan penjelasan Aiden terlebih dahulu," ujar Ziga kali ini terbalik ia yang menenangkan istrinya tersebut.


"Lanjutkan ceritamu!" titah Ziga kepada putra sulungnya tersebut.


"Tapi Juan baik-baik saja yang terluka adalah Hara," tambah Aiden yang semakin membuat Via tegang karena Hara adalah putri dari sahabatnya yang sengaja di titipkan untuk ia jaga, namun kini gadis itu terluka bagaimana Via harus menghadapi Donny ayah gadis tersebut.


"Ayo kita ke rumah sakit Dad!" ajak Via pada suaminya, wanita paruh baya itu ingin segera melihat keadaan putra bungsunya dan juga Hara.


"Kita sarapan dulu ya Mom," ucap Ziga, pria itu tetap harus memperhatikan kesehatan istrinya.


"Bagaimana Mommy bisa makan dengan tenang sedangkan Juan dan Hara ada di rumah sakit," tolak Via, wanita itu tetap mengkhawatirkan putra bungsu dan calon menantunya tersebut.


"Tapi Mommy juga harus pikirkan kesehatan Mommy," sela Zeline, kali ini ia ikut bicara setelah sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan antara ayah dan ibunya tersebut.


"Mommy sehat dan baik-baik saja, yang harus di pikirkan adalah Hara," ujar Via keras kepala.

__ADS_1


Mereka bertiga yang berada di ruang makan hanya dapat menggelengkan kepala ketika sang ibu yang biasa sabar itu telah menjadi keras kepala jika menyangkut tentang kesehatan seseorang.


Tidak hanya pada Juan atau Hara, terhadap semua yang di kenalnya Via pasti bersikap sama jika ada salah satu dari mereka yang keselamatan atau kesehatannya terancam. Wanita lembut itu akan berubah menjadi singa betina.


"Hara juga sudah baikkan Mom," tukas Aiden berharap ucapannya dapat menenangkan hati sang bunda.


"Mommy ingin lihat mereka secara langsung, kalau kalian tidak mau mengantar, biar Mommy pergi sendiri," ujar Via yang langsung bangkit dari duduknya meninggalkan ruang makan.


"Siapkan bekal untuk Mommy Zel, Daddy akan paksa Mommy makan di mobil nanti," pinta Ziga kepada putri satu-satunya itu.


Zeline pun mengangguk kemudian dengan sigap ia menyiapkan sarapan pagi yang akan di bawa oleh Ziga sang Daddy.


Setelah Zeline memberikan bekal yang akan di bawanya Ziga pun segera menyusul sang istri yang saat ini telah duduk manis di dalam mobil. Awalnya wanita itu ingin pergi sendiri dengan di antar oleh Louis yang saat ini bekerja sebagai sopir pribadi mereka, namun rupanya Ziga sang suami telah terlebih dahulu menghubungi Louis untuk menunggu pria itu terlebih dahulu.


"Kita ke rumah sakit Louis!" perintah Ziga pada Louis pria yang di sukai oleh putrinya Zeline.


"Baik Tuan," jawab Louis patuh, ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bukannya Daddy tidak mau pergi?" tanya Via sembari membuang mukanya ke arah jendela.


"Siapa yang bilang Daddy tidak ingin pergi? Daddy hanya ingin Mommy makan dulu sebelum pergi menjenguk anak-anak," bantah Ziga mulai membuka kotak makanan yang di siapkan oleh Zeline.


"Ayo sekarang Mommy makan ya!" bujuk Ziga menyodorkan sesuap nasi ke arah istrinya tersebut.


Wajah Via merona, ia tidak menyangka sang suami akan menyuapinya di dalam mobil, apalagi mereka tidak hanya berdua, ada Louis yang melihat. Mungkin jika itu orang lain dan bukan Louis ia tidak seberapa malu. Akan tetapi ini adalah pria yang di sukai oleh anak perempuannya yang bisa saja nantinya akan menjadi calon menantu baginya karena itu Via merasa sangat malu.


Sementara itu di rumah sakit Juan juga tengah membujuk Hara yang sedang merajuk. Gadis itu menolak untuk makan makanan yang di sediakan di rumah sakit karena itu Juan sedang berusaha keras untuk membujuk gadis itu.


****


Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU dan terimakasih pula buat yang sudah memberikan like, coment dan juga votenya.

__ADS_1


Ay cuma mau ingatkan bahwa nanti akan ada cerita dari si kembar di extra chapter TAKDIR CINTA jadi buat kalian yang ingin tahu kisah mereka jangan hapus cerita itu dari daftar favorit kalian agar nanti jika si kembar sudah up kalian dapat dengan segera menerima notifikasinya.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2