Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Aku yang terlalu bodoh


__ADS_3

"Ju-Juan," pekik Hara dengan suara tertahan setelah melihat pemuda itu di bawa masuk ke sebuah ruangan untuk di periksa.


Hara tidak dapat masuk ke sana, karena ada Mr. Mahendra sang pemilik Yayasan dan juga keluarganya yang mengantar Juan. Akhirnya gadis itu menunggu di luar pintu untuk mencari tahu keadaan putra bungsu keluarga Pratama itu.


Apa yang terjadi pada Juan? Mengapa wajahnya begitu pucat? tanya Hara dalam hatinya.


Setelah sekitar dua puluh menit di lakukan pemeriksaan akhirnya dokter memutuskan Juan harus menjalani rawat inap karena suhu tubuh pemuda itu yang masih belum normal.


"Kalian sebaiknya pulang biar ayah yang menjaga Juan," titah Jordan kepada istri dan juga kedua orang anaknya yang ikut mengantarkan pemuda itu ke rumah sakit.


"Tapi Yah, aku mau menemani Kak Juan," pinta Joya.


"Pulanglah sayang, biar Ayah yang jaga malam ini. Bukankah besok kau masih harus sekolah," ucap Jordan melarang putrinya menginap di rumah sakit untuk menemani Juan.

__ADS_1


"Tapi-"


"Sudah sayang, sebaiknya dengarkan apa yang di katakan oleh ayah kalian. Ayo kita pulang sekarang." Sera mengajak Joya dan Daniel untuk kembali ke rumah karena besok kedua putra dan putrinya harus sekolah.


"Ehmm ... baiklah," jawab Joya enggan. Mereka pun pulang meninggalkan Juan dengan di antar oleh Jordan hingga ke lapangan parkir.


Melihat semua keluarga Mahendra keluar dari ruangan tempat Juan di rawat, Hara pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar melihat keadaan Juan.


Hara menghela nafas menatap wajah pucat pemuda yang di cintainya tersebut. Ia merasa bersalah kepada Juan karena dalam hati gadis itu yakin kalau penyebab Juan masuk rumah sakit adalah karena pemuda itu menunggu kedatangannya di tengah derasnya hujan.


Hara mengambil kursi kemudian duduk di sisi ranjang pemuda yang kini masih terlelap. "Mengapa kau begitu bodoh!" umpat Hara pelan menatap wajah pucat Juan.


"Sudah ku bilang, jauhi aku. Mengapa kau malah menungguku?" tanya gadis itu lirih yang mungkin hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.

__ADS_1


Tanpa Hara sadari butiran bening mengalir di pipi gadis itu. Ia merasa sangat bersalah kepada Juan. Andai saja ia datang menemui Juan pada saat itu tentu pemuda itu tidak akan sakit seperti ini.


"Mengapa kau menangis?" tanya Juan denga suara lemah begitu pemuda itu membuka matanya.


Hara terkejut melihat mata Juan telah terbuka, "Kau ... kau sudah bangun?" tanya Hara gugup, ia segera menghapus air mata dengan punggung tangannya tidak ingin Juan melihatnya dalam keadaan menangis.


"Ehmm ..." gumam pelan keluar dari mulut pemuda itu untuk menjawab apa yang di tanyakan oleh Hara.


Dengan susah payah akhirnya Juan berhasil duduk dan bersandar di kepala ranjang. "Mengapa kau menangis? Aku masih belum mati," ucap Juan mencoba membuat lelucon agar gadis kesayangannya tersebut tidak lagi bersedih.


"Maaf ... maafkan aku," pinta Hara dengan suara parau menahan tangisnya yang akan kembali menyeruak.


Juan meraih jemari Hara dan membawanya ke dalam genggaman. "Kau tidak salah jadi tidak perlu minta maaf, mungkin memang aku yang terlalu bodoh masih tetap menunggumu walau kau telah mengatakan agar aku menjauhimu," ucap Juan membuat Hara semakin merasa bersalah karena itu adalah kata-kata yang baru saja ia ucapkan saat Juan terlelap tadi.

__ADS_1


__ADS_2