
Jakarta, Indonesia.
Hari ini adalah ketiga kalinya Juan menginjakkan kakinya di negara khatulistiwa itu. Sebelumnya pemuda itu pernah datang ke Indonesia saat ia masih kecil dan belum terlalu mengerti apa-apa. Namun, walaupun begitu bahasa Indonesia Juan juga tidak terlalu buruk karena terkadang di kediamannya Via dan juga menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dengan ketiga putra dan putrinya.
"Juan!" panggil Jordan ketika melihat pemuda yang baru saja turun dari pesawat. Via memang menitipkan Juan kepada kakak sepupunya Jordan bukan dengan kakak kandungnya Reza karena putranya tersebut memilih untuk melanjutkan kuliah di Jakarta bukan di Bandung tempat Reza tinggal.
"Uncle!" balas Juan memeluk tubuh kakak sepupu ibunya tersebut.
"Kau bertambah besar sekarang," ucap Jirdan menepuh pelan bahu keponakannya tersebut.
"Tentu Uncle, setiap hari Mommy selalu menjadikanku kelinci percobaan untuk setiap menu baru yang ia masak," ucap Juan membuat Jordan terkekeh mendengarnya.
Adik sepupunya tersebut memang memiliki hobi baru memasak makanan dari berbagai negara yang di pelajarinya dari internet. Via selalu menjadikan suami dan ketiga anaknya untuk memberi nilai atas masakannya. Tentunya keempat orang tersebut tidak ada yang berani memprotes apalagi memberi nilai jelek. Bagaimanapun rasanya selalu satu kata yang di ucapkan keempat orang itu dengan serentak yaitu ENAK.
"Mengapa kau memilih untuk melanjutkan kuliahmu di Indonesia?" tanya Jordan ketika mereka sudah berada di dalam mobil milik pria berusia lima puluh tahun tersebut.
"Aku ingin hidup mandiri Uncle, selama ini aku sudah terlalu sering menyusahkan Mommy dan Daddy," jawab Juan, itu memang alasan Juan walau sebenarnya ada alasan lain yang tidak ia ungkapkan kepada pamannya tersebut.
"Bagus jika kau berpikiran seperti itu. Mommy mu sudah membicarakan syarat yang harus kau penuhi untuk bisa melanjutkan kuliah di sini," ujar Jordan yang di jawab dengan anggukan kepala pemuda berusia dua puluh tahun tersebut.
"Sebenarnya pendidikan di sini juga tidak kalah bagus dengan di negara lain. Semua itu tergantung bagaimana kau menjalaninya," imbuh pria itu.
Pandangan Juan menerawang menatap hiruk pikuk kota Jakarta yang mungkin tidak terlalu berbeda dengan New York. Kemacetan dan gedung-gesung tinggi menjadi pemandangan yang lumrah di dua kota besar tersebut.
"Masuklah, Aunty Sera dan Joya telah menunggumu," ucap Jordan membiarkan pemuda itu masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sementara ia memarkirkan mobilnya.
"Kak Juan!" panggil Joya putri bungsu Jordan yang tahun ini genap berusia lima belas tahun. Gadis itu baru saja lulus sekolah menengah pertama dan akan memasuki sekolah menengah atas tahun ini.
"Joya!" sahut Juan merentangkan tangannya membiarkan gadis kecil itu masuk ke dalam pelukannya.
"Ayah bilang Kak Juan akan melanjutkan kuliah di sini?" tanya Joya bergelayut manja di lengan Juan.
"Iya, Kakak akan kuliah di sini," jawab Juan membuat senyum Joya semakin melebar. Ia merasa senang karena akan ada yang menemaninya selain kakaknya Daniel yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
Jordan dan Sera memiliki dua orang anak. Pertama ada Daniel yang saat ini berusia enam belas tahun dan kedua ada Joya. Usia mereka hanya terpaut satu tahun.
"Bunda, lihat siapa yang datang," ucap Joya membawa Juan masuk ke dalam rumah di mana sang ibu saat ini tengah menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Juan, kau sudah tiba sayang," sapa Sera menghampiri keponakannya itu dan memberinya pelukan serta ciuman kasih sayang.
"Apa kabar Aunty? Aunty terlihat semakin cantik," puji Juan jujur. Walau usia Sera sudah hampir kepala lima tetapi wanita itu masih saja terlihat cantik hingga sekarang sama seperti Via ibunya. Ah, padahal belum genap satu jam Juan sudah sangat merindukan ibunya.
Selama ini ia tidak pernah berada terlalu jauh dengan sang ibu untuk jangka waktu yang lama. Sebagai anak bungsu Juan selalu mendapat perhatian lebih dari orang tua dan juga kedua kakaknya.
Tidak heran jika sifat Juan kadang masih sedikit manja. Walau tetap tidak dapat melupakan bahwa pemuda itu adalah anak yang cukup liar. Juan telah terbiasa untuk memegang senjata dan dia juga sering mengikuti pelatihan yang Marco berikan untuk para anak buahnya. Maka dari itu kehidupan keras sudah biasa di jalani oleh pemuda itu.
"Kau terlalu memuji sayang. Kau juga terlihat lebih tampan dan dewasa," ucap Sera.
"Aunty pasti berbohong," tuduh Juan, "Mommy dan Daddy selalu menganggap aku seperti anak kecil yang bisanya hanya berbuat onar," ujar Juan membuat Sera tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh pemuda itu.
"Aunty tidak bohong, buktinya kau ingin kuliah di tempat yang jauh dari kedua orang tuamu dan belajar untuk hidup mandiri. Itu menandakan kalau kau sudah dewasa," ujar Sera.
Juan mengangguk, ia menyetujui apa yang di katakan oleh bibinya. Bagaimanapun juga sikap kedua orang tuanya, Juan sangat menyayangi mereka dan pemuuda itu merasa sangat menyesal telah membuat keduanya kecewa sehingga hilang sedikit kepercayaan dua orang yang paling di sayanginya tersebut.
"Ayo sebaiknya kita makan siang!" ajak Sera kepada suami, anak dan juga keponakannya itu.
"Joya cepat panggil kakakmu, ini sudah siang tapi dia masih belum juga bangun dari tidurnya!" tukas Jordan kesal dengan sikap putra sulungnya. Daniel memang sedikit nakal, ia lebih banyak bergadang di luar untuk berkumpul dengan teman-temannya daripada berdiam diri di rumah. Hal ini yang terkadang membuat Jordan dan Sera yang pusing melihat tingkat putra sulungnya.
Di kediaman keluarga Syahputa, Hara baru saja kembali dari kampusnya saat sang ayah mengingatkan gadis itu bahwa ia harus menghadiri jamuan makan nanti malam.
"Hara, kau ingat malam ini kita ada acara yang harus di hadiri?" tanya Donny kepada putri satu-satunya itu.
"Iya Pi, Hara ingat," jawab Hara malas, sebenarnya ia tidak pernah ingin datang ke perjamuan makan seperti itu. Namun Hara tidak dapat menolak keinginan sang ayah, jadi dengan sangat terpaksa ia harus datang ke acara tersebut.
"Ingat, gunakan pakaian yang benar. Papi tidak ingin melihatmu menggunakan pakaian seperti itu!" tukas Donny menunjuk pakaian yang saat ini di kenakan oleh Hara.
Gadis itu mengenakan sebuah kemeja kotak-kotak berwarna gelap dengan sebuah celana jeans yang sedikit sobek di bagian lututnya, menjauhkan gadis itu dari kesan anggun menurut pandangan Donny.
__ADS_1
"Hara mengerti Pi," jawab Hara berlalu menuju kamarnya.
Donny menggeleng melihat sikap putrinya yang membuat pria itu semakin merasa jauh dengan Hara. Selama kembali ke Indonesia tiga bulan ini Hara tidak pernah memprotes atau membantah apapun yang ia katakan. Semua di turuti oleh gadis itu tanpa banyak bicara. Terkadang Donny merasa Hara hanya seperti robot yang selalu mengikuti apa kata pemiliknya.
Pria itu tidak mengerti apa yang salah pada putrinya. "Tidak mungkin ia masih mengingat pemuda itu. Aku tidak boleh membiarkan Hara mengingat kembali dia yang sudah membawa pengaruh buruk pada Hara," gumam Donny.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
Bagaimana reaksi Tuan Donny ya kalau tahu Juan sudah berada di Indonesia?
Apakah cinta Juan dan Hara akan berjalan dengan lancar?
Ikutin terus ya TERJERAT CINTA si CUPU.
Jangan lupa buat vote yang banyak biar Ay juga bisa up yang banyak.
Salam sayang buat Onty n akak.
__ADS_1