Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Maafkan Aku!


__ADS_3

Menertawakan masalah orang lain itu mudah.


Menertawakan masalah sendiri?


Hanya orang hebat yang bisa.


~Ay Alvi~


"Ayo sekarang Mommy makan ya!" bujuk Ziga menyodorkan sesuap nasi ke arah istrinya tersebut.


Wajah Via merona, ia tidak menyangka sang suami akan menyuapinya di dalam mobil. Di mana ada Louis yang kini bekerja sebagai sopir pribadi mereka. Pemuda yang sejak kecil telah di sukai oleh Zeline tersebut baru saja bekerja pada keluarga Pratama menggantikan pamannya yang telah pensiun.


Via menggelengkan kepalanya, ia tidak mau menerima suapan dari suaminya.


"Biar Mommy makan sendiri," ucap Via mengambil sendok dari tangan Ziga kemudian memasukkan suapan itu ke dalam mulutnya.


Ziga tersenyum puas karena akhirnya sang istri Via mau menurutinya, wanita itu makan perlahan selama perjalanan menuju rumah sakit.


Drttt ... Drttt ... ponsel Ziga bergetar.


"Ada apa?" tanya Ziga menjawab panggilan telepon dari Marco.


Ziga tampak terkejut mendengar laporan dari Marco. Pria itu menghela nafas panjang seolah beban berat tengah menghimpitnya.


"Urus semua dengan benar!" perintah Ziga pada Marco kemudian segera menutup panggilan telepon dari anak buahnya tersebut.


"Ada masalah?" tanya Via begitu melihat ekspresi suaminya setelah menerima telepon dari Marco.


"Hanya sedikit masalah di perusahaan," jawab Ziga berbohong, pria itu tidak mungkin mengatakan pada istrinya bahwa Juan anak bungsu mereka telah membunuh seseorang.


Walaupun yang di bunuh oleh Juan adalah seorang pengkhianat, tetap saja seorang ibu tidak akan pernah menginginkan anaknya menjadi seorang kriminal. Apalagi Juan adalah anak bungsu kesayangannya.


Untuk Ziga sendiri hal tersebut sebenarnya tidak masalah selama Juan bermaksud untuk menegakkan kebenaran. Pria itu memang mempersiapkan dan membekali putra bungsunya tersebut dengan kemahiran beladiri yang tangguh karena Ziga mengharapkan Juan sebagai pengganti dirinya kelak.


"Benarkah?" tanya Via lagi sedikit tak percaya dengan jawaban yang di berikan oleh suaminya.

__ADS_1


"Iya sayang, sudah habiskan makanannya! Sebentar lagi kita sampai," ucap Ziga mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun juga perihal masalah Juan tidak boleh di ketahui oleh istrinya.


Via terdiam, ia tidak bertanya lagi. Wanita itu dengan cepat menghabiskan makan paginya. Ibu tiga orang anak itu tahu kalau Ziga berbohong kepadanya. Pria itu tidak bicara yang sejujurnya. Walau sedikit kecewa ia lebih memilih untuk diam dan tidak ingin berdebat dengan suaminya tersebut.


Sementara itu di rumah sakit Juan juga tengah membujuk Hara yang sedang merajuk. Gadis itu menolak untuk makan makanan yang di sediakan di rumah sakit karena itu Juan sedang berusaha keras untuk membujuk gadis itu.


"Ayolah Hara, makan sedikit saja!" bujuk Juan mengambil sesuap nasi dan menyodorkannya kepada gadis itu.


Hara menggeleng, gadis itu dengan keras kepala menolak apa yang di berikan oleh Juan. Ia memang tidak lapar dan juga makanan dari rumah sakit adalah hal yang paling tidak di sukainya.


"Kau mau makan apa?" tanya Juan masih mencoba untuk membujuk gadis itu.


Hara diam tidak menjawab, gadis itu malah menyembunyikan wajahnya di balik selimut seolah tak ingin mendengar apa yang di katakan oleh Juan.


"Hara!" seru Juan dengan keras, pemuda itu mulai hilang kesabarannya menghadapi Hara yang masih merajuk dan bersembunyi di dalam selimutnya.


Hiks ... Hiks ... Hiks ....


Terdengar suara tangisan dari dalam selimut, membuat Juan menghela nafas frustasi. Pemuda itu tidak pernah membujuk seorang gadis, selama ini ia tidak pernah ambil pusing jika ada seorang gadis yang merajuk. Namun, entah mengapa kini saat Hara merajuk hatinya terasa tidak tenang bahkan sangat gelisah.


"Maafkan Aku," ucap Juan tulus, pemuda itu menyadari kesalahannya yang telah membuat gadis itu menangis.


Di dalam selimutnya Hara tersenyum kecil, sebenarnya gadis itu tengah mengerjai Juan. Ia tidak benar-benar sedang menangis, gadis itu hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi Juan ketika harus menghadapi seorang gadis yang tengah merajuk bahkan menangis.


Selain itu juga Hara ingin membalas perbuatan Juan karena telah mengakuimya sebagai kekasih di hadapan Dokter William dan para perawat.


"Maafkan Aku Hara, Aku janji tidak akan berkata keras lagi," ucap Juan menyadari bahwa tindakannya membentak gadis itu adalah salah.


Sejujurnya Hara ingin tertawa keras mendengar permintaan maaf Juan, namun gadis itu harus bisa menahannya karena ia belum puas untuk mengerjai pemuda itu.


"Forgive me please, Hara." Lagi-lagi Juan meminta maaf karena Hara tak kunjung memberi respon padanya.


"Apa Aku harus berlutut agar kau mau memaafkan Aku," ucap Juan yang kemudian bersiap untuk berlutut di sisi tempat tidur yang Hara tempati.


Namun, sebelum Juan sempat berlutut, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Via sang Mommy dan juga Daddynya masuk menerobos tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hara! Hara! Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Via khawatir, wanita itu cemas begitu melihat tubuh Hara di selimuti bahkan hingga atas kepala.


"Hara!" pekik Via histeris begitu melihat pemandangan tersebut dan tak terbendung lagi air matanya pun mengalir deras, wanita itu mengguncangkan tubuh Hara.


Juan sebenarnya ingin mencegah ibunya berbuat seperti itu. Namun nampaknya Via terlalu histeris dan beranggapan Hara telah pergi meninggalkan dunia ini.


Gadis di dalam selimut itu pun terkejut saat mendengar suara tangis dan juga tubuhnya di guncang-guncang. Hara pun menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.


"Aunty kenapa?" tanya Hara tanpa rasa bersalah padahal gadis itulah yang menyebabkan Via menangis histeris.


Gadis itu pun duduk dan menatap Via dengan polosnya.


"Ya Tuhan, syukurlah," ucap Via seraya memeluk erat tubuh gadis yang kini ada di hadapannya.


"Aww ...." pekik Hara kesakitan karena ibu tiga orang anak itu memeluknya terlalu erat sehingga mengenai luka bekas operasi yang berada di punggungnya.


"Mommy lepas! Kasihan Hara," ujar Ziga memperingatkan istrinya tersebut.


Juan sendiri tidak berani berkomentar, pemuda itu takut terkena amukan sang bunda atas kesalahan yang telah di buatnya.


"Oh maafkan Aunty sayang," ucap Via penuh dengan penyesalan, wanita itu langsung melonggarkan pelukannya terhadap gadis itu.


Hara hanya mengangguk, jujur ia masih sedikit syok karena tiba-tiba Via menangis dan mengguncangkan tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa? Bagaimana kau bisa terluka? Bagian mana yang luka? Apa Juan tidak menjagamu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut wanita itu membuat Hara bingung yang mana yang harus gadis itu jawab terlebih dahulu.


"Mommy tanyanya satu-satu dong!" protes Juan.


"Kasihan Hara jadi bingung," tambah Juan yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang bunda.


Via melotot tegas ke arah putra bungsunya tersebut, ia benar-benar marah karena Juan tidak menepati janjinya bahkan pemuda itu membiarkan Hara terluka.


"Sebaiknya Kau punya penjelasan bagus untuk semua ini," tegas Via menatap tajam ke arah Juan membuat pemuda itu gemetar ketakutan.


Sementara Ziga yang telah mengetahui apa yang terjadi pada Juan dan Hara hanya terdiam. Pria itu ingin tahu bagaimana putra bungsunya akan menjelaskan kepada mereka. Ziga ingin Juan bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukannya.

__ADS_1


__ADS_2