
Jangan ingat lagi kebaikan diri sendiri, akan lebih baik mengingat kebaikan yang telah diberikan orang lain terhadap kamu.
~Ay Alvi~
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Juan ketika melihat seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi maaf Nona Hara telah kehilangan banyak darah sebelum tiba di sini, jadi ...."
"Tidak!" jerit Juan histeris sebelum Dokter itu meneruskan kata-katanya.
Aiden segera merangkul bahu Juan untuk menenangkan adik bungsunya tersebut. Walau ia belum tahu apa yang terjadi, namun pria itu setidaknya dapat menebak-nebak.
"Kami minta maaf, tidak ada lagi yang dapat kami lakukan, Nona Hara tidak dapat di selamatkan," ucap sang Dokter penuh dengan penyesalan.
Sekujur tubuh Juan menjadi lemas, pemuda itu tidak menyangka kalau Hara akan pergi begitu cepat. Juan menyalahkan dirinya, andai saja ia tidak mengajak gadis itu untuk keluar tentu hal ini tidak akan terjadi. Andai saja ia tahu Theo akan menembak, tentu ia tidak akan membiarkan gadis itu menjadi tameng bagi dirinya yang berakibat gadis itu harus kehilangan nyawanya.
Juan mendekati tubuh Hara yang masih terbaring di atas ranjang, tangannya menyentuh jemari gadis itu yang masih terasa hangat.
"Maaf ... maafkan aku," lirih Juan mencium punggung tangan Hara penuh dengan penyesalan. Pemuda itu tidak dapat lagi menahan tangisnya, Juan terisak membenamkan kepalanya di atas jemari gadis itu.
Seberkas cahaya putih membangunkan Hara dari tidurnya, gadis itu melihat sekeliling yang terasa asing. Nampak olehnya sosok sang ibu dari kejauhan. Hara pun berlari kecil menghampiri sang bunda.
"Mami!" panggil Hara, akan tetapi sang ibu tidak menghiraukannya. Wanita itu tetap berjalan menjauhi Hara menuju cahaya terang yang menyilaukan.
"Mami! Mami!" Hara terus memanggil sang ibu sambil berusaha untuk mengejarnya. Gadis itu sangat ingin bertemu dengan ibu yang selama ini selalu di rindukannya.
"Mami! Mengapa Mami pergi meninggalkan Hara? Apa Mami tidak sayang dengan Hara?" Hara bertanya setengah berteriak karena sang ibu semakin menjauhinya.
Mendengar pertanyaan anaknya, wanita itu menghentikan langkahnya. Ia menatap ke arah sang putri yang amat di cintainya tersebut.
"Kembalilah Nak! Di sini bukan tempatmu!" ujar sang ibu meminta Hara untuk tak mengikutinya.
__ADS_1
"Hara ingin ikut Mami," bantah Hara sembari terisak, gadis itu sangat ingin berdekatan dengan sang ibu.
"Pulanglah ke tempatmu sayang! Belum waktunya kau ikut dengan Mami," ujar sang ibu yang kemudian menghilang dari hadapan gadis itu.
"Mami!" Hara menjerit histeris.
"Dokter lihat!" ujar seorang suster yang melihat layar pasien monitor kini menggambarkan aktifitas jantung yang normal.
Mereka yang berada di dalam ruangan itu pun terkejut, keajaiban terjadi pada gadis yang telah di nyatakan meninggal tersebut. Layar monitor yang tadinya telah menunjukkan garis lurus kini menjadi bergelombang dan berirama normal.
Para Dokter pun mulai kembali memeriksa keadaan Hara dengan seksama, memastikan bahwa gadis itu kembali bernyawa atau tidak.
Dan setelah di lakukan pemeriksaan beberapa saat, akhirnya dapat di pastikan bahwa Hara selamat. Kuasa Tuhan telah berbicara, gadis itu kembali hidup setelah beberapa menit yang lalu di nyatakan tak lagi bernyawa.
"Sungguh keajaiban Tuhan, Nona Hara berhasil selamat dari maut yang menjemputnya," ujar sang Dokter penuh rasa syukur.
"Nona telah melewati masa kritisnya, kini hanya tinggal pengaruh obat bius pasca operasi, mungkin beberapa jam lagi dia sudah bisa sadar," jelas sang Dokter pada Juan yang membuat pemuda itu merasa lega sekaligus bersyukur atas keajaiban yang Tuhan berikan.
"Terimakasih," ucap Juan pada gadis yang masih terlelap akibat pengaruh obat bius itu.
"Terimakasih telah kembali, mulai saat ini aku akan selalu menjagamu," janji Juan pada Hara dan juga pada dirinya sendiri.
Pemuda itu berhutang nyawa pada Hara dan ia ingin membalasnya dengan menjaga gadis itu mulai saat ini hingga seterusnya.
Aiden masuk ke dalam ruangan kemudian menepuk bahu adiknya yang kini tengah memandangi wajah terlelap Hara. Juan pun menoleh, pemuda itu mengerti ia harus memberi penjelasan kepada sang kakak tentang apa yang terjadi malam ini.
"Bisa kau jelaskan sekarang?" tanya Aiden berharap sang adik dapat menceritakan semua yang terjadi yang tidak di ketahuinya.
Juan pun mengajak Aiden untuk keluar dari ruangan itu, ia tidak ingin mengganggu tidur Hara. Aiden pun mengikuti sang adik, pria itu meminta Farrel untuk berjaga sebentar selama mereka berbincang di luar.
Di luar ruangan Juan pun menceritakan semua yang terjadi malam ini kepada sang kakak, pemuda itu tahu tidak ada gunanya lagi berbohong karena pasti kakak beserta orangtuanya akan tahu apa yang telah terjadi pada dirinya dan juga Hara. Maka dari itu Juan memutuskan untuk berkata jujur dan tidak menutupi sedikit pun termasuk tentang ia yang telah menghabisi nyawa Theo dengan menembak kepala pria itu.
__ADS_1
"Apa kau sudah menghubungi Uncle Marco?" tanya Aiden setelah mendengar cerita dari Juan.
Juan mengangguk menjawab pertanyaan sang kakak. Pemuda itu menunduk tak berani menatap Aiden. Kakak laki-lakinya tersebut memang mempunyai aura pemimpin yang kuat sama seperti sang ayah Ziga. Mungkin karena Aiden juga hasil didikan dari kepala mafia terbesar di Rusia Demyan yang kebetulan adalah ayah angkatnya.
"Seorang laki-laki harus bertanggung jawab atas perbuatannya!" ucap Aiden menepuk bahu Juan. Pria itu ingin agar adiknya tersebut berani mengakui kesalahannya dan mampu menjelaskan apa yang terjadi pada kedua orang tua mereka.
"Ya, mulai saat ini aku akan menjaga dan melindungi Hara dengan nyawaku sendiri," janji Juan di hadapan sang kakak.
Aiden mengangguk setuju dengan ucapan Juan, seorang pria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya. Dan Aiden yakin adiknya mengerti akan hal itu.
"Sebaiknya jika gadis itu telah sadar, minta dia untuk menghubungi Uncle Donny, beliau sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya yang tidak dapat di hubungi," jelas Aiden.
"Bahkan Uncle Donny meminta teman Hara ke rumah untuk menanyakan kabar gadis itu" tambah Aiden.
Mendengar penjelasan Aiden, pemuda itu pun tersadar bahwa ponsel Hara tidak ada pada gadis itu dan Juan yakin Emily lah yang mengambilnya. Pemuda itu tidak menceritakan tentang Emily pada Aiden, Juan ingin membuat perhitungan sendiri kepada gadis ular berbisa itu. Ia tidak akan membiarkan hidup Emily tenang, pemuda itu memilih untuk membalaskan dendam dengan caranya sendiri.
"Lalu, apa yang akan kau katakan pada Mommy?" tanya Aiden lagi, pria itu tahu bahwa sang ibu begitu menyayangi Hara. Maka dari itu Juan harus bersiap untuk menghadapi kemarahan sang bunda yang pastinya akan menghadiahi pemuda itu dengan sebuah hukuman.
Juan menghela nafas menanggapi pertanyaan kakaknya, ia tahu bahwa tidak akan mudah untuk menjelaskan hal ini kepada Via sang ibunda tercinta.
*******
**Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU.
Ay mau minta pada kalian agar jangan lupa untuk memberikan like dan juga coment di kolom komentar.
Ay cukup sedih karena like yang di dapat Juan dan Hara sangat sedikit hingga membuat Ay tidak bersemangat untuk meneruskan ceritanya.
Jika kalian ingin Ay up 2 bab perhari nya Ay minta pada kalian untuk tidak lupa memberikan like setelah selesai membaca. Namun jika like tidak bertambah Ay hanya dapat up satu bab perhari. Maka dari itu buat kalian yang ingin membaca lebih banyak tinggalkan jejak dan juga jangan lupa like.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘**
__ADS_1