Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Rasa bersalah Juan


__ADS_3

Hai jumpa lagi bersama Ay si Author recehan.


Sebelum lanjut membaca Ay mau ucapkan terimakasih pada kalian yang sudah memberikan like pada cerita Juan dan Hara ini.


Ay senang karena like si Cupu ini bertambah signifikan dan Ay berharap ini akan terus berlanjut pada bab-bab berikutnya, agar Ay lebih bersemangat untuk update kisah cinta Juan dan Hara, eh belum cinta ya mereka?


Ay harap mulai sekarang budayakan like sebelum membaca agar kalian tidak lupa selesai baca kabur saja, hahahaha ....


Boleh enggak kalau Ay minta target likenya nambah jadi 1000 perbab, boleh ya? boleh kan? boleh dong?


Maafkan Author yang suka maksa ini ya ... hahahaha, tapi semua itu Ay lakukan agar Ay juga dapat memenuhi permintaan kalian yang terus minta up banyak, jadi sebanding kan kalau Ay juga minta like yang banyak.


Sekali lagi jangan lupa like ya!!!


Seperti janji Ay mulai hari ini si Cupu akan up 2 bab perhari, tapi dengan catatan kondisi Ay sehat (sehat badan, sehat pikiran dan terutama sehat kantong untuk beli kuota, wkwkwk)


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘


Sekarang kita lanjut baca cerita Juan yang udah mulai bucin ma Hara, yok ah !!


Happy reading all


******


Jangan hanya berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik.


Terimakasih kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit.


~Ay Alvi~


Juan menghela nafas menanggapi pertanyaan sang kakak, pemuda itu tahu tidak akan mudah memberi penjelasan kepada sang ibunda. Mungkin lebih sulit lagi menerima pengampunan dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.

__ADS_1


Sebagai putra bungsunya yang paling dekat dengan sang ibu, Juan mengetahui dengan jelas sifat wanita paruh baya itu. Walau penampilan Via terlihat lembut di luar, namun sebenarnya ibu tiga orang anak itu adalah wanita yang tegas. Beliau akan menghukum keras siapa pun yang melakukan kesalahan.


Seperti saat ini misalnya, Juan tahu yang ia lakukan adalah salah. Bahkan mungkin kesalahan yang sangat besar sebab pemuda itu telah di beri tanggung jawab untuk melindungi Hara dan menjaga keselamatan gadis itu. Akan tetapi, dia bukan hanya tidak mampu menjaga Hara, bahkan Juan lah yang menyebabkan gadis itu harus berjuang dengan maut walau pada akhirnya bisa terselamatkan.


Juan mengusap kasar wajahnya, tampak jelas pemuda itu bingung dan frustasi memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Via sang bunda.


"Ceritakan yang sebenarnya," ucap Aiden seolah mengerti kegelisahan adik bungsunya tersebut.


"Kejujuran lebih baik dari apapun," tambah pria itu menepuk-nepuk bahu Juan.


Juan pun mengangguk, apa yang di katakan sang kakak memang benar. Kejujuran lebih baik daripada kebohongan walau terkadang itu menyakitkan.


"Sekarang temani gadis itu, Aku akan memberi kabar pada Mommy dan Daddy nanti pagi saat sarapan," ujar Aiden, pria itu juga berpamitan kepada sang adik. Ia akan membiarkan Juan sendirian menghadapi masalah yang telah ia buat sendiri. Aiden ingin agar Juan dapat berpikir lebih dewasa nantinya.


Juan pun kembali memasuki kamar rawat Hara, ia memang akan menunggu di sisi Hara hingga gadis itu tersadar.


"Sebaiknya kau pulang dan istirahat, terimakasih telah membantuku," ucap Juan kepada Farrel yang berada di ruangan tersebut duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


Farrel pun bangkit dari duduknya, sebenarnya ia juga merasa lelah. Hanya saja melihat keadaan Juan membuat pemuda itu tidak tega untuk meninggalkan sahabatnya tersebut.


"Aku tidak apa-apa," jawab Juan di sertai dengan anggukan kepalanya.


"Pulanglah!" ucap Juan pada Farrel, bukan bermaksud untuk mengusir sahabatnya, tapi ia juga tahu bahwa Farrel pasti lelah karena terlihat jelas dari wajah sahabatnya itu.


"Baiklah," jawab Farrel menyerah, pemuda itu tidak memaksakan diri lagi untuk menemani Juan.


"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, kabari aku segera," pesan Farrel yang di jawab anggukan kepala oleh Juan. Pemuda itu segera pamit untuk meninggalkan rumah sakit.


Kini, tinggalah Juan seorang diri menemani Hara yang tengah terlelap. Pemuda itu menatap wajah pucat gadis yang telah rela mengorbankan nyawa untuknya itu. Rasa bersalah kembali menghinggapi relung hatinya.


Andai saja ia tidak memanfaatkan Hara demi mendapatkan izin untuk keluar rumah dari sang ayah, tentunya gadis itu tidak akan mengalami penculikan bahkan hingga harus beradu dengan maut akibat peluru yang menembus punggungnya. Juan meraih tangan Hara ke dalam genggamannya, sekali lagi pemuda itu terenyuh teringat bagaimana Hara dengan rela menggantikan posisinya menerima tembakan dari Theo.

__ADS_1


Hal yang tidak pernah terlintas di hati dan pikiran Juan akan ada seorang gadis yang rela mengorbankan nyawa untuknya. Sedangkan mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa. Bahkan selama perkenalan mereka Juan selalu saja bersikap ketus dan juga acuh pada Hara. Namun, di saat paling genting ternyata gadis itu lah yang menyelamatkannya.


Juan mencium punggung tangan Hara, merasakan kelembutan kulit gadis itu. Tangan Juan membelai lembut wajah Hara yang tengah terlelap, memandangi wajah gadis itu dengan seksama.


Pemandangan Hara yang tengah terlelap telihat sangat indah bagi Juan. Melihat gadis yang tampak lugu bagaikan boneka yang tergolek di atas ranjang. Penampilan Hara tanpa menggunakan kacamata sangat berbeda menurut Juan, gadis itu terlihat cantik dengan bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan juga bibir mungil yang walaupun kini tampak pucat, tapi tak menghilangkan keseksian bentuknya. Jujur Hara tampak cantik dan menggoda bagi Juan.


Juan memukul kepalanya pelan, pemuda itu merasa begitu bodoh dengan apa yang ada di dalam otaknya. Ia merasa kesal sendiri, bagaimana bisa otaknya berpikir tentang kecantikan dan keseksian gadis yang kini tengah terbaring di hadapannya. Namun, tidak dapat di pungkiri hati Juan kini merasakan getaran yang berbeda tatkala ia memandang wajah Hara yang tengah terlelap. Gadis itu bukan hanya mirip boneka, tapi lebih menyerupai malaikat tak bersayap yang telah Tuhan hadirkan ke dunia ini untuk menyelamatkan hidupnya.


Mungkin karena terlalu lelah, Juan merebahkan kepalanya di sisi tempat tidur Hara. Masih dengan setia menggenggam tangan gadis itu, Juan memejamkan matanya dan tak lama kemudian pun terlelap dalam tidur yang membawanya ke alam mimpi.


Sementara itu di kediamannya Emily tampak marah, gadis itu melemparkan semua barang-barang yang berada di dalam kamarnya. Ia marah, kesal, kecewa karena hingga saat ini belum juga berhasil mendapatkan Juan. Suara pecahan kembali terdengar dari kamar gadis itu, membuat siapapun tidak ada yang berani untuk datang dan menghampiri gadis yang tengah mengamuk seolah tak memiliki kesadaran.


Beberapa jam sebelumnya,


Emily menyusul ke toilet pria, gadis itu mencari keberadaan Juan yang belum juga kembali dari tempat itu sejak ia pamit tadi.


Cukup lama gadis itu berdiri di sana, namun tak ada tanda-tanda Juan atau siapapun yang keluar dari toilet. Akhirnya Emily pun memanggil Danny untuk memeriksa ke dalam toilet karena tidak mungkin jika gadis itu masuk sendiri ke sana.


"Tidak ada siapa-siapa di dalam," lapor Danny setelah keluar dari toilet pria tersebut.


"Bagaimana mungkin, lalu kemana Juan?" tanya Emily kebingungan.


"Entah, mungkin sudah pulang," jawab Danny sembari mengendikkan bahunya.


Emily menggertakkan giginya, kemudian gadis itu berlari menuju lapangan parkir untuk memeriksa motor Juan, memastikan apakah pemuda itu benar-benar meninggalkannya.


Melihat motor merah kesayangan pemuda itu masih setia berada di tempatnya, Emily bernafas lega. Gadis itu berpikir tidak mungkin Juan akan tega untuk meninggalkannya. Emily pun meminta bantuan Danny dan yang lainnya untuk mencari keberadaan Juan.


Mereka mencari ke seluruh penjuru klub tersebut. Namun, tidak juga ia temukan kekasihnya itu.


"Nona, Anda mencari Tuan Kecil Pratama?" tanya seorang petugas keamanan klub tersebut. Kebanyakan dari mereka memang memanggil Juan dengan sebutan Tuan Kecil, itu karena pemuda itu adalah putra bungsu dari keluarga Pratama.

__ADS_1


"Ya," jawab Emily tidak begitu menggubris sang petugas keamanan karena menurutnya bukan orang yang penting.


"Tuan kecil sudah pergi bersama Tuan Farrel," ucap sang petugas yang membuat Emily mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya yang panjang menusuk telapak tangannya hingga memerah.


__ADS_2